
Ring...
Ring....
Handphone Rani berbunyi. Dilihatnya ada panggilan. masuk dari Burhan. Rani langsung menolak panggilan tersebut dan mengirim pesan kepada Burhan.
"Maaf sayang. Disini ada ayah." Isi pesan yang ditulis Rani untuk Burhan.
"Kira kira Rani lagi apa ya." Bisik hati Burhan, yang merasa khawatir Rani tidak memberi Khabar seharian ini. Padahal Burhan tau hari ini adalah ultah ayahnya, tapi Burhan tetap khawatir karena dari pagi Bu.
"Kamu dimana sayang?"
"Aku lagi di mall, disini rame. Bahkan ada bunda juga."
"Bunda?" Burhan bingung.
"Iya Bunda, kami lagi makan tiba tiba bunda muncul tiba tiba."
"Wah selamat. Kamu pasti sangat bahagia saat ini. Karena selain ada ayah berati ada bunda juga."
"Banget Han. Hari ini aku sangat bahagia sekali. Aku berharap ayah dan bunda bisa kumpul lagi."
"Aamiin.. Jadi kapan kamu ketemu aku nya dong." Burhan merasa rindu banget sama Rani.
"Sabar sayang. Nanti selesai acara ayah. Aku pasti kerumah mu."
"Terus aku jemput nggak."
"Nggak usah. Aku bawa mobil saja Han."
"Ya udah. Aku tunggu ya sayang."
"Oke. Daaa."
"Daa."
Setelah tahu kabar Rani. Burhan sedikit lega. Perasaan khawatir berubah menjadi bahagia. Karena kekasihnya akan datang menemuinya. Untuk saat ini Burhan memberikan waktu untuk Rani bersama orang tuanya.
Setelah selesai menyantap makanan, ayah Rani membayar semua tagihan makan mereka, dan sekalian membayarkan makanan ibu Rani dengan teman temannya tadi. Ayah Rani memang baik hati, cuma sikap ayah Rani yang sedikit kasar dulu sama ibunya yang membuat ayah Rani kehilangan ibunya Rani. Untuk sikap baik nya memang ayah Rani tiada duanya untuk Rani dan ibunya. Cuma usia pernikahan ayah dan ibunya Rani tidak sampai usia tua.
"Mas. Terima kasih ya, kami sudah merepotkan mu sehingga kamu membayarkan makanan kami semua."
"Sama sama. Tidak apa apa. Saya juga senang kok bisa merayakan ultah ku bersama kamu."
Jawaban ayah Rani kepada ibu nya Rani. Membuat hati ibu Rani terenyuh, seakan memang ibu Rani merasa kehilangan orang yang baik dalam hidupnya. Namun ketika ingat sikap kasar ayah Rani. Ibu Rani kembali merelakan masa lalunya.
"Duh apa apa an aku ini sih. Aku kan sudah jadi istri orang. Kenapa aku masih mengingat kisah ku bersama mas Radit."
"Sin.. sin. Kok kamu jadi melamun. Oh maaf mas. Ya udah kami permisi pulang ya mas."
__ADS_1
"Ya Sin."
"Rani. Bunda pulang ya sayang."
"Ya Bun. Makasih ya Bun. Rani pasti merindukan bunda selalu."
"Bunda juga sayang. Ya bunda pamit ya."
"Pak Radit, terima kasih ya atas traktirannya. Kami permisi pulang." Teman teman ibunya Rani satu persatu mengucapkan terima kasih kepada ayah Rani dan sekalian pamit pulang.
"Sama sama. Tidak perlu sungkan. Saya lebih bahagia lagi di hari ultah saya, bisa berkumpul seperti ini."
" Kami permisi ya, Pak." Suara teman teman ibu Rani kompak
"Daa Rani. Sampai jumpa lagi ya."
Rani mengangguk dan menatap bunda nya dengan bahagia sambil melambaikan tangan.
"Ayah, bagaimana kita, sekarang kita pulang apa?"
"Ayo pulang."
Akhirnya mereka turun dan menuju kearah parkir. Mereka semua pulang. dengan perasaan lega dan bahagia dan rasa itu sangat berkecamuk di dada ayahnya Rani. Betul betul membuat ayah Rani puas. Terutama kehadiran ibu Rani secara tiba tiba, pas di hari ultahnya. Di dalam mobil Rani bertanya sesuatu yang sangat pribadi pada ayahnya.
"Ayah, ayah rindu tidak sama bunda." Rani ingin tau perasaan ayah nya.
"Ayah, Rani berharap suatu saat ayah dan bunda bersatu kembali. Aamiin."
"Aamiin." Ayah Rani menjawab doa Rani dalam hatinya. Karena benar ayah Rani masih sangat berharap ibu nya Rani menjadi miliknya kembali.
Mobil mereka pun melaju arah pulang. Rani pun mulai teringat kembali sama Burhan yang menunggunya di rumah.
"Alasan apa aku keluar nanti sama ayah." Suara hati Rani yang bingung mencari alasan keluar rumah lagi, karena baru saja mereka berada di luar dan sebentar lagi mau ijin keluar rumah lagi.
"Rani. Ada apa nak? Sepertinya kamu tidak enak badan. Ayah perhatikan kamu gelisah."
"Tidak apa apa ayah."
Rani kaget dengan pertanyaan ayahnya. Mengapa ayahnya hafal betul dengan gerak gerik Rani yang rada gelisah dan bingung. Rani pun mencoba mengekpresikan wajahnya dengan kembali berbicara lagi.
"Bi Atun, Bi Ina dan semua senang nggak hari ini. Apalagi Rani bahagia banget dalam momen ultah ayah. Allah mempertemukan kita semua sama ibu."
"Bahagia, Non." Bi Atun menjawab mewakili semuanya. yang lain ikut mengangguk kan kepala mereka.
Ekspresi gelisah di wajah Rani tidak kelihatan lagi, karena di sibukkan Rani berbicara dengan Bi Atun.
"Adi, dengar musik ini." Ayah Rani menyuruh sopirnya Adi untuk mendengar musik.
Dalam perjalanan nya mulai terdengar suara lagu lagu yang menghibur hati mereka, sepanjang jalan mengiring perjalanan mereka pulang. Tak terasa perjalanan ke rumah Rani sudah tiba. Adi pun menghentikan mobil di depan pagar. Kemudian pak Rahmat keluar dari mobil untuk membukakan pintu pagar.
__ADS_1
Dreeeekkkkkkk
Suara pintu pagar di tarik pak Rahmat. Mobil pun masuk ke dalam pekarangan rumah. Satu persatu keluar dari mobil.
"BI Ina, nanti tolong buatkan saya kopi ya."
"Baik tuan."
"Makasih Bi."
Assisten dan pegawai ayah Rani pun kembali beraktivitas seperti biasa. Rani dan ayahnya seperti biasa kalau tidak beristirahat di ruang tengah, mereka masuk kamar masing masing. Kali ini Rani langsung masuk ke kamarnya.
"Duh.. Aku cari alasan apa ya." Rani masih kebingungan mencari alasan keluar untuk pergi kerumah Burhan. Rani melirik kearah jam dindingnya, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 3.
Rani mencoba memberanikan diri keluar kamar, dan mencoba memberikan alasan yang baru saja terpikir di benaknya. Rani menemui ayah yang kebetulan istirahatnya di ruang tamu.
"Ayah. Rani pergi lagi ya."
"Mau kemana kamu, Ran?"
"Rani mau kerumah teman bentar ya. Baru ingat kalau tugas Rani di kuliah barangkali teman Rani bisa atau punya. Secara dulu Rani tau dia pernah membuatnya."
"Oh ya sudah. Hati hati sayang ya."
"Rani pamit ya ayah."
"Ya sayang."
Rani mengeluarkan mobilnya dari garasi. Karena mobil Rani memang sudah lama tidak di gunakan, karena selama ini. Rani kalau berangkat sering naik motor. Apalagi semenjak dia dekat dengan Burhan. Rani tambah menjadi anak yang baik Budi nya. Rani memang anak yang tidak terlalu menggunakan kemewahannya. Karena ingin belajar hidup mandiri. Walau Rani tau kehidupannya tidak kekurangan. Namun Rani sadar dia sekarang hidup dari anak yang lagi broken home. Jadi harus kuat menghadapi kenyataan hidup. Tapi Rani memang anak nya terlahir menjadi anak yang baik, sopan santun, anggun dan berbudi.
Pak Rahmat pun segera membukakan pagar. Karena melihat mobil Rani akan keluar, pak Rahmat sudah tau dengan tugasnya apalagi memang anak majikan nya yang mau keluar.
"Makasih pak." Ujar Rani yang sudah mengarahkan mobilnya keluar pagar.
"Sama sama Non."
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗
__ADS_1