
"Han. Coba cari ayahmu dirumah. Kan di rumah belum Burhan cari kan?" Burhan pun bergegas mencari ayah nya kembali dan mencoba balik kerumahnya. Setelah sudah lelah berkeliling, namun tak bertemu.
Ketika Burhan memanggil manggil ayahnya. Namun tak ada jawaban sedikit pun dari ayahnya. Kemudian Burhan mencari di kamar ayahnya. Terlihat tubuh yang terbaring kaku. Ayah Burhan sudah lama pingsan di dalam kamar.
"Ayaaaaaaaah." Teriakan kuat Burhan sontak mengagetkan ibunya yang berada di warung jualan.
Ibu Burhan berlari ke rumah karena mendengar teriakan Burhan memanggil ayahnya.
"Han..Han Ada apa dengan ayah. Han." Ibu Burhan berlari mendekati Burhan yang menangis menjerit.
"Ayaaaah." Sontak ibu Burhan pun menjerit ketika melihat Burhan memeluk ayah nya yang sudah terbujur kaku.
"Han. Cepat cari bantuan. Cari mobil kita bawa ayahmu ke rumah sakit." Walaupun kecil kemungkinan ayah Burhan selamat namun ibu Burhan berusaha membawa ayah nya untuk di periksa. Siapa tau dengan bantuan medis. Ayah Burhan masih bisa di selamatkan.
"Baik Bu." Burhan dengan wajah sedih nya berlari mencari bantuan. Dan mencari mobil agar bisa membawa ayahnya ke rumah sakit. Tak lama ada mobil pak Karim. Pak Karim adalah tetangga Burhan yang baru pulang dari kerja.
"Pak..Pak. Tolong bantu kami. Ayah..ayah peluru di bawa kerumah sakit." Dengan suara tergagap gagap Burhan minta tolong dengan pak Karim. Untungnya pak Karim seorang yang dermawan, walaupun capek pulang kerja. Pak Karim tak segan membantu orang.
"Iya ayo..ayo. Pak putarkan dulu mobil nya ya ke arah rumah mu." Jawab pak Karim yang memutarkan mobil.
"Iya pak. Aku akan coba membopong ayah keluar." Sahut Burhan.
Kemudian Burhan keluar dengan. membopong ayahnya menuju mobil pak Karim.
Ibu Burhan kemudian menutup semua pintu, dan langsung ikut mobil pak Karim untuk membawa ayah Burhan.
"Ayaaaaaaaah. Kuat ayah. Bertahanlah demi kami ayah." Tangisan pilu Burhan terdengar sendu di dalam mobil. Yang membuat air mata ibu Burhan tak berhenti bercucuran.
Ibu Burhan pun membelai rambut ayahnya.
"Iya ayah. Bertahan lah demi aku dan anak anakmu." Isak Ibu Burhan.
Pak Karim pun memberi mereka semangat, dengan menyuruh Burhan dan ibunya berdoa. Agar ayah nya Burhan bisa selamat.
"Berdoa ya Han, Bu. Semoga ayah kalian bisa selamat." Ujar Pak Karim.
__ADS_1
"Iya pak. Terima kasih. Kami sudah merepotkan pak Karim." Ujar Ibunya Burhan.
"Sama sama Bu. Kita sesama tetangga sudah semestinya saling membantu." Pak Karim dengan lembut nya menjawab dan membuat Burhan dan Ibunya agak tenang.
"Ayaah. Kuat ayah." Berulang ulang Burhan memanggil ayahnya.
Perjalanan kerumah sakit lumayan jauh. Air mata Burhan dan ibunya bercucuran di mobil. Melihat ayah Burhan yang terbaring seakan tidur pulas, dengan senyuman di bibirnya.
Setelah menempuh setengah jam perjalanan. Mereka pun tiba di rumah sakit. Pak Karim memberhentikan mobil di depan pintu masuk ruangan UGD. Burhan turun langsung membopong ayahnya masuk ke dalam. Disambut kasur dorong yang disiapkan perawat ketika melihat dari pintu masuk Burhan membawa ayahnya.
Perawat bergegas mendekat dan membawa ayah Burhan masuk ke ruangan ICU. Dengan bantuan semua alat alat canggih di rumah sakit tersebut. Ayah Burhan di bangunkan dengan bantuan alat pendeteksi detak jantung. Jantung ayah Burhan berdetak lemah sekali. Berulang ulang dokter mencoba memicu detak jantung nya. Namun gagal terus.
------------ Tuttttt----------- Hanya garis lurus di detak jantung ayah nya Burhan. Seperti nya ayah Burhan tak terselamatkan lagi. Dokter pun menggeleng geleng kan kepalanya. Menandakan ayah nya Burhan tak tertolong lagi.
Dokter pun keluar ruangan ICU. Burhan dan Ibunya tak sabaran menanyakan Khabar ayahnya.
"Dok..Dok. Bagaimana ayah saya." Tanya Burhan gugup.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Allah berkehendak lain." Dokter menjawab sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tidaaaaaaakkkkk. Ayaaaaaaaah hhhh." Teriakan Burhan serasa memecahkan dinding kamar rumah sakit.
Ibu Burhan terduduk lemas tak berdaya mendengar jawaban dokter kalau suaminya tercinta telah meninggalkan dia.
",Ayah. Mengapa kau begitu cepat meninggalkan ibu dan anak anakmu." Isak Ibu Burhan dalam hati nya yang menangis pilu.
"Ayah. Mengapa kau tak memberiku waktu untuk menunjukkan anakmu bisa sukses ayah ." Gerutu Burhan yang tak rela ayah nya pergi begitu cepat.
Sambil menangis dan meratapi kepergian ayahnya. Burhan melihat ibunya diam bergelinang air matanya. Burhan mendekati ibunya.
"Ibuuuuu." Burhan menangis dan memeluk ibu nya yang sudah lemah tak berdaya.
"Sudah nak. Relakan ayah mu pergi. Mungkin dia akan tenang di alam sana. Di surga nya. Ayah akan menunggu kita." Peluk Ibu Burhan memenangkan anak satu satunya yang masih ada dan membuatnya kuat.
"Tapi Mengapa ayah tak memberiku waktu untuk menunjukkan kesuksesan ku ibu." Tangis Burhan yang menyesali keadaan.
__ADS_1
"Allah lebih sayang ayah kita nak. Jadi sudah sabar ya. Ibu masih ada yang akan melihat Han sukses nanti." Sambil menepuk bahu Burhan, ibu nya meyakinkan Burhan agar bisa tenang menjalani hidup tanpa ayahnya. Padahal hati ibu Burhan sebenarnya remuk dan hancur di saat ditinggal kan suaminya yang begitu dia sayang. Tapi demi anak nya tidak patah semangat, Ibu Burhan berpura pura kuat dan mengikhlaskan suaminya.
"Ibu janji tidak akan meninggalkan Han, seperti ayah kan yang terlalu cepat sampai tidak memberiku kesempatan membahagiakan ayah." Pinta Burhan kepada ibunya.
"Iya sayang. Ibu janji akan menanti dan melihat kesuksesan Burhan. Ibu akan selalu ada untuk anak ibu." Ibu Burhan memberi semangat.
"Terima kasih ibu." Burhan memeluk erat kembali ibunya.
Burhan dan ibunya menunggu mayat ayahnya untuk di bawa pulang ke rumahnya. Burhan kali ini pulang bukan menggunakan mobil pak Karim. Namun kembali menggunakan mobil ambulan.
"Pak Karim terima kasih ya. Kami pulang ikut mobil jenazah ya." Ujar Ibu Burhan kepada pak Karim yang sudah baik membantu Mereke.
"Iya Bu. Yang sabar ya Bu. Allah lebih sayang dengan beliau, makanya Allah tidak ingin beliau menderita sakit terlalu lama." Ujar pak Karim berusaha membuat ibu dan Burhan tenang.
Tak lama jenazah ayah Burhan. Keluar sudah terbungkus dengan balutan kain dari rumah sakit, dan tertutup sampai kepalanya, yang akan segera dimasukkan kedalam mobil jenazah, untuk di bawa pulang.
Para perawat mendorong kereta dengan membawa mayat ayah Burhan. Burhan dan ibunya ikut mengiring kereta tersebut sampai menuju mobil.
Setelah mayat diletakkan di belakang. Burhan dan ibunya duduk diantara mayat ayahnya. Tak lama kemudian mobil mulai jalan menuju kerumah Burhan. Dalam perjalanan Burhan menatap tubuh ayah nya yang sudah terbalut pull menutupi seluruh tubuhnya. Air mata Burhan tak henti hentinya mengalir.
B E R S A M B U N G
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah baca jangan like dan komennya ya. Simak juga novel ku sebelumnya * Dinding Pemisah*
Di tunggu
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Komentar, vote dan Hadiahnya!
__ADS_1
🌹THANKS🌹
...****************...