
Setiap harinya Burhan menikmati hari harinya berada di Kalimantan dengan berjualan.
Tak terasa sudah berbulan bulan Burhan berada di kota Kalimantan, namun harapan nya untuk bekerja belum ada petunjuk yang jelas untuk dirinya. Terkadang terbesit kerinduan nya untuk pulang ke kampung halaman pun datang. Dia merasa belum sukses untuk membantu ibunya di Lampung.
Uang Burhan tak banyak dikumpulkan nya untuk mengirim ibunya di sana. Karena Burhan masih membantu berjualan. Bukan berati dia pedagang yang sudah sukses. Setidaknya dia bisa menghidupi dirinya sendiri dan bisa mengirim ibunya walau tidak seberapa banyak. Namun Burhan tetap bersyukur.
"Han. Kamu sepertinya nampak sedih." Pedagang sayuran itu menatap Burhan yang tak biasanya nampak tidak bersemangat.
"Tidak pak." Burhan tampak ragu menjawab.
"Benar, tidak ada." Pedagang sayur sedikit tidak percaya dengan jawaban Burhan.
"Benar pak. Aku cuma rindu saja pada ibu."
"Oh rindu pada ibumu. Apa kamu sudah menelpon ibu setiap hari."
"Belum pak."
"Kamu harus menelpon nya dan mengabari ibumu selalu, karena dengan memberi kabar kepadanya mengurangi rasa rindu pada ibumu."
"ya pak. Terima kasih atas sarannya, saya sedikit lega."
"Iya Han. Karena doa seorang ibu lah yang mengantar kesuksesan untuk anaknya."
"Aamiin."
Burhan mengeluarkan ponsel dan mencari kontak ibunya untuk segera menelpon.
Dengan perasaan sedikit lega, mendapat masukan dari pak pedagang sayuran Burhan terlihat kembali bersemangat.
"Ring.."
"Ring.."
Suara ponsel Burhan memanggil kontak ibunya. Namun belum ada jawaban dari ibunya.
"Ibu kemana ya? Kenapa tidak menjawab telepon ku." Burhan merasa gelisah dan bertanya tanya ibunya sedang apa, mengapa tidak angkat teleponnya.
Pak Somadi memperhatikan gerak gerik Burhan. Sepertinya dia tahu kalau Burhan kembali bersedih dan galau.
Pak Somadi adalah bapak pedagang sayur. Dia adalah bos Burhan. Sekaligus orang pertama yang dikenalnya Pertama kali ketika dia berada di kota Kalimantan. Dengan mengenali pak Somadi, Burhan menjadi sedikit tertolong biaya hidupnya selama berada jauh merantau terpisah dengan ibunya. Selama Burhan belum mendapatkan pekerjaan, Burhan menghabiskan hari harinya berada di pasar, di pasar Burhan banyak mendapatkan pengalaman dan juga mengenal banyak orang. Selain sikap ulet, Burhan juga adalah anak yang baik, ramah dan juga sopan. Makanya dia cepat dikenal orang.
"Han kamu nampak murung lagi, apa yang terjadi?" Tanya pak Somadi, tanya bosnya.
"Ibu. Mengapa dia tidak mengangkat telepon ku pak." Ujar Burhan sedih.
"Sabar Han. Kamu ulangi saja terus, siapa tau ibumu lagi sibuk. Atau dia lagi ada tamu." Pak Somadi seraya menghibur Burhan.
__ADS_1
"Mudah mudahan pak."
"Iya Han. Berdoa saja semoga ibumu baik baik saja."
"Aamiin. Itu yang memang Han harap pak. Han hanya punya ibu."
"Iya Han. Pak juga ikut mendoakan."
"Terima kasih pak."
Burhan sesekali mengulangi terus menelpon ibunya. Perasaan gelisah nya terus berkecamuk di hatinya. Saat ini ibunya entah lagi apa, karena teleponnya belum diangkat angkat ibunya.
"Ya Allah, ibu kemana? Mengapa telpon ku belum diangkat angkatnya." Hati Burhan bertanya terus.
Burhan nampak gelisah. Sesekali dulu ,sesekali berdiri. Pikirannya kacau. Karena ibunya, adalah sosok yang sangat berati dalam hidupnya.
Berulang ulang Burhan mencoba menelpon ibunya, berharap sampai ibunya ada kabar. Setelah berulang kali dia mencoba, tak lama telponnya di angkat.
"Halo ibu...ibu."
"Ya Han. Ada apa? Kok kamu kelihatan panik." Tanya ibu Burhan dengan bingung.
"Ibu kemana? Mengapa baru angkat telepon Han. Han bingung jadinya, Han pikir ibu kenapa-napa."
"Ibu tidak kemana mana, ibu melayani pembeli. Masalahnya hp ibu, lupa ibu suarakan karena kemaren abis menghadiri yasinan."
"Ya sayang. Memang berapa kali sudah telepon ibu."
"10 kali lebih." Jawab Burhan kesal bercampur lega, setelah mendengar ibunya tidak apa apa.
"Bagaimana kabar kamu sayang. Ibu kangen sama kamu. Sekarang sudah bekerja belum."
"Belum Bu. Doakan saja Han cepat bekerja. Kalau sekarang memang sudah bekerja, tapi cuma bantu bantu di pasar Bu, berdagang sayur."
"Alhamdulillah sayang. Yang penting halal. Dengan berdagang akan menambah pengalaman untuk kamu esok kalau besok ingin membuka usaha." Ujar ibunya seraya memberi semangat.
"Iya Bu. Terima kasih sudah menyemangati Han. Han sangat lega sekali sudah bisa mendengar suara ibu."
"Kamu ini Han bisa aja buat ibu tersenyum."
"Harus Bu. Han belum bisa membahagiakan ibu dengan uang, tapi Han akan selalu membahagiakan ibu dengan sayang Han pada ibu."
"Terima kasih sayang. Ibu bangga punya anak seperti Han."
"Alhamdulillah. Kalau ibu bangga punya Han."
"Iya sayang."
__ADS_1
Setelah mendengarkan suara ibunya. Han kembali bersemangat dan mau bekerja kembali. Karena hatinya sudah tenang.
Kemudian Burhan kembali mendekati pak Somadi, dengan wajar yang cerah dan tidak sedih lagi.
"Nah bagus, sekarang raut wajahmu sudah kembali membaik, seperti pertama bapak mengenalmu." puji pak Somadi, bosnya Burhan.
"Iya pak. Sekarang sudah mendengar suara ibu, hatiku lega banget. Ibu tidak apa apa." Jawab Burhan dengan sangat bahagia campur lega.
"Alhamdulillah."
"Sekarang karung yang mana yang harus saya angkat pak, agar saya tidak bingung lagi." Tegas Burhan kepada pak Somadi pedagang sayur.
"Udah nanti saja, ini masih ada. Kamu bantu melayani pembeli saja dulu." Ujar pak Somadi.
"Baik pak."
"Perasaan kamu sudah enak kan sekarang."
"Iya pak. Saya sudah tenang."
Seharian sudah Burhan berada di pasar, dan tak lama lagi pasar akan tutup. Burhan kembali membantu pak Somadi membereskan jualannya. Satu persatu barang barang jualan di bereskan. Dan karung karung yang berisi sayuran kembali di angkut Burhan ke mobil. Setelah semuanya selesai. Burhan juga bersiap untuk pulang kerumah. Burhan terkadang di antar pak Somadi, untuk pulang kerumah, kalau pak Somadi lagi kearah pasar induk, untuk menambah barang barang dagangan yang habis. Karena pasar induk satu arah ke rumah nya Baim.
"Han. Pulang sama bapak. Saya malam ini mau ke pasar induk."
"Iya pak."
"Tapi malam ini sekalian ikut ke pasar induk ya."
"Iya pak."
Burhan mendengar ucapan pak Somadi yang ingin mengajaknya ke pasar induk langsung menelpon Baim memberi kabar bahwa dirinya pulang agak malam. Berkali kali Burhan menelpon Baim, namun tidak ada jawaban dari Baim. Kemudian Burhan hanya mengirim pesan kepada Baim. Ketika Baim membuka WhatsApp nya, dia membaca pesan Burhan.
"Baim. Aku pulang agak malam karena pak Somadi mengajak ku kepasar induk." Isi pesan Burhan ke Baim.
Setelah beres mereka merapikan dagangan mereka. Pak Somadi segera melajukan mobilnya menuju pasar induk.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
__ADS_1
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗