
Setelah kesalahpahaman antara Rani dan Burhan telah selesai. Rani pengen jalan dengan Burhan
"Ayo kita jalan Han."
"Kita mau kemana, sayang."
"Jalan jalan aja naik motor, kemana aja pokoknya. Kan besok kita udah jauh."
"Ya udah, mobil kamu tinggal dulu di sini ya."
"Ya. Ayo pamit sama ibu mu."
Burhan dan Rani, pamit kepada ibunya Burhan. Mereka mau jalan jalan sebentar menikmati kebersamaan mereka hari ini. Besok Burhan dan Rani terpisah jauh lagi
"Bu. Burhan pamit pergi dulu sama Rani ya."
"Ya Bu. Rani juga pamit."
"Iya sayang. Hati hati ya! Kalian mau kemana sih."
"Jalan jalan aja Bu. Rani ingin jalan. paling ke pantai Bu."
"Iya Bu. Kemana saja yang penting sama Burhan."
Ibu Burhan tersenyum mendengar jawaban Rani yang tulus mencintai Burhan.
"Ayo Rani. Bu kami pamit ya."
"Ya sayang."
Burhan mengandeng Rani menuju ke arah motornya. Burhan mengeluarkan motornya, kemudian Rani naik di belakang motor Burhan , dengan merangkul pinggangnya.
"Pelukan sayang."
"Hemmm. Maunya!"
"Kamu sendiri yang bilang tadi, ingin naik motor aja. Biar bisa peluk aku. Benarkan sayang."
"Iya ya." Rani menjawab sambil tersenyum malu.
Mereka berdua menikmati perjalanan cinta mereka. Karena besok mereka sudah tidak bisa bersama lagi. Rani besok sudah berada di Jakarta. Burhan juga belum tau kapan Burhan masih berada di kotanya sekarang. Burhan juga akan merantau ke negeri seberang.
"Ini mau kemana sayang?"
"Kita cari tempat duduk aja, yang ada tempat nyantai dan tempat makan dan minumnya sayang."
"Kalau mau makan dan minum. Di rumah aja bisa kan sayang." Burhan sedikit bercanda dengan Rani
"Apaan sih kamu Han." Rani cemberut mendengar gurauan Burhan. Tapi Burhan melihat di spion motornya kalau kekasihnya lagi sedikit ngambek.
"Kekasih ku kalau lagi cemberut, tambah cantik ya."
"Ih apaan." Rani mencubit pinggang Burhan, sambil tersenyum malu.
"Abis. Mulai dari rumah kalau ditanya mau kemana, ya jawabnya kemana aja. Atau nggak cari tempat nyantai yang ada tempat makan dan minum. Ya, jadi nya bingung sih sayang. Aku nya kurang tau di sini tempat yang yang di maksud."
Memang benar apa yang di ucapkan Burhan. Burhan kurang tau tempat tempat santai. Karena Burhan kalau jalan sering diajak ke tiga temannya. Itupun dia kurang tau jalannya.
"Ya udah kita keliling keliling aja. Kalau ada tempat yang kita lewati kelihatan tenang, kita mampir. Yang penting bersama kamu."
"Ya sayangku, cintaku." Burhan tak mau membuat Rani kali ini cemberut. Dia sudah tau Rani sepertinya udah mau ngambek beneran.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, akhirnya mereka melihat ada tempat duduk. Di sana jual kelapa muda.
"Sayang. Kita duduk nyantai di sana aja. Itu ada jual kelapa muda. Mau kan?" Rani menunjuk kearah tempat jualan Kelapa muda. Sepertinya tempat itu tenang untuk mereka duduk santai.
"Iya."
Burhan pun mengarahkan motornya kearah pondok kelapa muda itu. Tempat itu sepertinya tenang untuk mereka duduk santai.
"Mang. Minta kelapa muda nya 2 ya."
"Iya. dek." penjual kelapa itu membukakan dan menyiapkan untuk Rani dan Burhan.
Burhan dan Rani menikmati tempat santai tersebut. Di depannya ada banyak orang duduk santai sambil memancing ikan. Karena di sana ada kolam kecil yang berisi ikan.
"Han. Kamu kapan rencana mau merantau?"
"Belum tau Ran. Kalau sudah waktunya kamu pasti aku kabari. Kalau untuk sekarang aku masih bingung."
"Semangat ya sayang."
"Pasti. Ada dua orang dalam hidup sekarang yang selalu buat aku semangat."
"Aku tau. Itu pasti ibu dan aku ya." Rani dengan percaya dirinya karena dia tau memang Burhan sangat mencintainya.
"Hemmm. Kok kamu tau aja."
"Tau dong."
"Doakan aku ya sayang."
"Pasti sayang."
Burhan sangat senang sekali mendengar kata kata Rani yang selalu memberikan semangat untuknya.
"Sayang. Kayaknya aku harus pulang sekarang. Takutnya ayah sudah pulang. Tadi aku pamitnya cuma sama bi Atun, bilangnya ada yang mau di beli."
"Tapi aku .masih kangen sayang sama kamu."
"Sama sayang, aku pun masih. Tapi kamu kan tau, ayah lagi belum ijinkan kita berhubungan. Bisa bisa aku kuliah di stop sama ayah."
"Ya udah. Ayo kita pulang."
Burhan menghidupkan motornya, Rani pun seperti pertama naik di belakang dengan merangkul pinggang Burhan pilang menuju kerumah.
"Han. Sekarang jam berapa ya?"
"Jam 3 sore sayang."
"Cepat aja ya sayang. Takut ayah keburu pulang."
"Oh iya, ini pulang dulu kerumah aku. Mobil kamu kan ada di rumah."
"Bener. Coba tadi ku bawa dulu pulang ya. Kamu bisa langsung antar aku pulang. Jadi nggak mondar mandir lagi."
"Pokoknya hati hati aja bawa mobilnya ya sayang."
"Ya sayang."
Berapa menit kemudian mereka nyampai kerumah Burhan. Rani turun dari motor, langsung menemui ibu nya Burhan untuk berpamitan.
"Bu. Rani langsung pamit pulang ya. Sekalian Rani juga pamit besok jadi berangkat nya."
__ADS_1
"Tunggu ibu bungkus gado gado dulu."
"Nggak usah Bu. Rani mau cepat pulang, takutnya keburu ayah yang pulang."
"Ya udah kalau begitu. Hati hati ya nak. Selalu berdoa di setiap langkah mu "
"Ya Bu." Rani sambil mencium tangan
ibunya Burhan.
"Han. Aku pulang ya."
"Hati hati ya sayang. Kabari kalau sampai rumah."
"Iya sayang." Rani langsung masuk ke mobilnya dan langsung menghidupkan mobil dan menuju pulang.
Dalam perjalanan Rani melihat kearah jam tangannya. Berapa lama dia keluar rumah. Dan berharap ayahnya belum pulang ketika dia sampai kerumahnya.
Rani tiba di depan pagar. Seperti biasa Pak Rahmat selalu siap membukakan pintu.
"Pak, ayah udah pulang belum ya."
"Belum Non."
"Huu." Rani bernafas lega ketika dia mendengar ayahnya belum pulang kerumah.
Rani segera masukkan mobilnya ke dalam parkiran. Seolah olah Rani tidak keluar untuk hari ini. Dia pun ganti baju dan berpenampilan biasa saja. Selang 15 menit dari Rani pulang ayahnya pulang juga.
*Srtttttt."
Mobil ayah Rani, terdengar masuk juga ke dalam tempat parkir. Ayah Rani pun turun dari mobilnya.
"Bi.. Rani mana?" Tanya ayahnya Rani
"Ada tuan. Mungkin di kamarnya tuan."
Rani mendengar suara ayahnya yang bertanya dengan Bi Atun, segera keluar kamar.
"Ayah. Ada apa nanya Rani. Ayah kok perginya nggak nungguin Rani bangun,"
"Ayah mendadak aja sayang. Di perkebunan tadi ada sedikit masalah."
"Terus,sekarang udah selesai masalahnya ayah."
"Udah. Tapi sempat buat ayah pusing juga."
"Mudah mudahan tidak ada lagi ayah yang buat masalah."
"Ya sayang. Aamiin."
"Ayah mau kopi ya..Nanti Rani bilang ke BI Atun."
"Nggak usah sayang. Ayah tadi udah ngopi."
"Gimana kamu nggak kemana mana, hari ini?"
"Pergi kok, tapi sebentar saja ayah. Ada yang di beli."
"Oh gitu. Udah di persiapkan semua yang mau dibawa buat besok."
"Udah ayah. Udah beres semua."
__ADS_1
"Alhamdulilah."