
Dring...
Dring...
Dring...
Burhan menelpon Rani.
"Rani. Jam 10 aku jemput ya. Aku jemput nya dimana, dirumah saja atau tempat kemaren." Tanya Burhan.
"Iya Han.. Di tempat kemaren saja. Tunggu aku disana."
"Baiklah Rani."
Burhan menunggu jam berputar seakan tak sabaran.
"Duh jam ini kalau di tunggu lama betul ya." Dalam hati Burhan bergumam sendiri, tak sesekali dia menatap kearah jam dinding yang berdetak.
"Tik..tok..tik..tok" Suara jam dinding.
Ibu Burhan diam diam memperhatikan tingkah anak nya, terkadang ibu Burhan tersenyum menatap anaknya.
"Han..Han" Ibu menatap nya sambil menggeleng geleng kan kepalanya. Ibu nya tau kalau Burhan sedang jatuh cinta.
Burhan ternyata sadar ketika melihat ibu nya tersenyum. Burhan pun tersenyum balik sendiri melihat ibunya yang diam diam menatap nya.
"Han.. Mau kemana sayang.Dari tadi galau banget ibu perhatikan." Tanya ibu seolah olah tak tahu apa yang sedang terjadi pada anaknya.
"Mau pergi Bu. Tapi jam nya lama sekali bergeser."
" Udah geser saja sendiri." Canda ibu supaya anaknya tidak terlalu kesal menunggu.
"Hemmm..Ibu bisa bisa aja." Tawa kecil Burhan.
"Jangan ngebut ngebut ya bawa motornya. Hati hati apalagi bawa anak orang." Ingat ibu yang sudah bisa menebak kalau anak nya akan pergi sama perempuan yang Burhan sukai. Walau pun Burhan tak cerita kepada ibunya. Namanya seorang ibu punya perasaan sendiri tentang anaknya.
"Siap ibu ku sayang. Burhan sambil memeluk ibu nya tanda ia lagi bahagia.
"Bu.. sekarang udah waktu nya Han berangkat ya."
"Iya sayang. Ingat hati hati ya. Jangan kebut kebut bawa motornya"
"Iya Bu..Daaa."
Burhan pun menyalakan motornya. Kemudian melajukan motornya kearah tempat Burhan dan Rani berjanji.
Dari kejauhan sudah kelihatan Rani yang sudah tampak cantik.
"Ssssrrrrrrreeettttttt..." Motor pun melaju dengan sedikit kencang. Burhan tak mau terlambat menjemput Rani, Kalau bisa Burhan yang duluan datang menunggu Rani.
"Srrttt." Burhan pun berhenti di tempat yang mereka janjikan.
"Kemana ya Rani. Aku yang kecepatan mungkin datang ya." Sambil melirik jam tangan.
"Oh...Hehehe, aku nya yang datang terlalu cepat." Ujar Burhan tertawa sendiri dalam hati.
"Ya udah aku tunggu saja Rani nya. Bentar lagi dia akan datang." Gumam Burhan.
Tak lama Rani pun muncul.
"Hai, Han"
"Hai, Rani."
"Sudah lama Han. Maaf ya aku sedikit telat."
"Tidak kok, aku juga baru nyampe. Nyantai ja kok Ran."
"Gimana, udah siap sekarang." Burhan siap menghidupkan motornya.
__ADS_1
"Siap kok Han. Ayo!"
Burhan pun menghidupkan motornya dan mulai meluncurkan ke arah yang mereka tuju.
"Jangan lupa pelukan Ran. Ntar jatuh lho."
"Iya." Rani pun memeluk pinggang Burhan dengan erat.
Burhan pun senyum menatap kearah pinggang nya yang di peluk erat Rani. Di depan terlihat senyuman wajah Burhan. Ternyata Rani menatap Burhan yang lagi tersenyum sendiri dari kaca spion tanpa Burhan sadari. Rani pun ikut tersenyum melihat Burhan.
"Aaaaa." Burhan terkejut malu ketika menatap spion, ketika dia melihat Rani yang tersenyum menatap nya balik.
"Han..Han," Rani tertawa kecil melihat lagak Burhan.
"Kamu suka kan Rani." Tanya Burhan memberanikan diri.
"Iya, Han. Aku suka kok."
"Beneran Rani. Kamu suka?"
"Iya Han. Aku suka."
"Aku juga suka Rani. I love you." Sambil membalas pelukan erat Rani. Burhan pun membawa motor dengan senang.
"Akhirnya cinta ku di terima ya Allah." Teriak Burhan sambil mengendarai motornya.
"Aaaaaaaa..." Teriakan bahagia Burhan.
Akhirnya Burhan dan Rani resmi pacaran.
"Rani, aku sudah lama menyimpan rasa ini kepadamu." Ungkap Burhan
"Sama Han. Aku pun merasakan hal yang sama padamu."
"Aku tak sangka kita bisa sedekat sekarang ini." Ujar Rani juga mengungkapkan isi hatinya.
"Jodoh yang menyatukan kita, Ran. Berawal di pasar, aku bisa di beri waktu berduaan dengan mu Ran." Ujar Burhan.
Rani dan Burhan menikmati perjalanan mereka dengan sangat bahagia. Tak sesekali mereka merentang tangan nya menunjukkan kebahagiaan.
"Ran. Kamu udah makan belum tadi. Tanya Burhan yang baru sadar perut nya memanggil untuk makan.
"Kruttt...krutt." Suara cacing cacing di perut Burhan.
"Hehehe..Suara apaan itu Han. Kamu lapar ya?" Tanya Rani tertawa sedikit lucu mendengar kan suara perut Burhan.
"Iya Ran. Kamu lapar tidak? Kita makan dulu yuk! Perutku udah lapar betul sekarang. Aku tadi tak bisa makan, lupa dengan perut ku karena sangking bahagia nya mau ketemu sama kamu, Ran." Tukas nya Burhan.
"Isssss..lebay sangat." Rani pun tersenyum mendengar ucapan manis Burhan yang menyentuh hati. Walau pun mungkin Burhan hanya lebay tapi di telinga Rani begitu nyaman.
"Beneran sayang." Burhan pun sudah mulai memberanikan memanggil Rani dengan sayang.
"Iya ya.." Sahut Rani.
"Lapar nggak sayang." Tanya Burhan lagi.
"Iya ayo kita makan. Aku pun tadi belum makan Han. Sama aku tak sabar melewati detik detik jam, menunggu datang nya jam 10." Ujar Rani membalas membuat Burhan tersanjung.
"Hemmm...sama dong."
"Iya."
"Tuh..Han, ada warung nasi yang buka."
"Mana?"
"Itu di depan."
"Srttttt.." Burhan menyetop kan motor nya tepat berada di depan warung.
__ADS_1
Mereka pun turun. Burhan pun sudah mulai menggandeng tangan Rani.
Terlihat sepi di warung, penjaga nya tidak ada.
"Kemana orangnya ya?" Ujar Burhan.
"Bu..Bu.."
" Bu makan Bu."
"Kreeeokk." Suara pintu di buka seorang ibu dari samping.
"Makan nak?" Tanya ibu warung.
"Iya Bu."
"Makan apa? Ada pindang, ayam bakar, pepes, hati dan lain lain."
" Aku pindang aja Bu." Ujar Burhan.
"Rani, kamu mau makan apa sayang?"
"Aku pindang juga Han."
"Oh iya ya..Kita kan jodoh." Canda Burhan ke Rani.
"Ihhh.." Rani tersenyum malu.
"Pindang apa nak?. Ada baung, Patin, Gabus, Salei."
"Baung kepala aja Bu. 2 ya pindang nya." Ujar Burhan yang senang sekali makan pindang.
"Minum nya apa?"
"Es jeruk 2 ya Bu."
"Baiklah. Tunggu bentar ya."
Ibu penjaga warung memanaskan pindangnya dahulu sebentar. Biar pindangnya mantap buat di makan.
"Ini nak cuci tangannya."
"Iya Bu."
Tak lama ibu itu membawakan makanan, mulai dari minuman sampai nasi dan pindang nya.
"Silahkan dimakan ya nak."
"Makasih Bu."
"Nyam...nyam. Rani dan Burhan dengan semangat nya menyantap pindangnya. Bercucuran keringat Burhan menyantap pindang ibu ini. Terasa nikmat betul. Ditambah sambal nya yang nikmat, dan lalapan nya yang segar menambah selera makan Burhan.
"Waw.. Mantap tenan." Ujar Burhan sambil mengelap keringat nya dengan tisu.
"Nambah Ran." Ajak Burhan yang mengambil nasi dalam bakul yang dipindahkan nya kedalam piring.
"Iya Han. Udah banyak ini. Aku udah kenyang kok." Sahut Rani.
Burhan makan nya banyak sekali, tak terasa 2 piring lebih.
...----------------...
B E R S A M B U N G
Mohon dukungan nya ya, jangan lupa like dan komennya.
Sebelum novel ini simak juga ya novel ku yang satu Dinding Pemisah.
Like ,komen, Hadiah dan Vote
__ADS_1
Di
.......... Tunggu Ya......