
Di bandara Burhan sekarang sendiri, karena dia sudah berpisah dengan pak Iwan. Burhan sudah menunggu temannya Baim untuk menjemputnya.
"Baim dimana ya? Kok aku belum melihatnya." Tanya Burhan dalam hatinya.
Burhan melihat ke sana ke sini namun Baim belum terlihat dimatanya, Baim memang masih dalam perjalanan untuk menjemput Burhan. Karena Baim tinggal agak jauh dari Bandara.
"Mudah mudahan Baim, tidak kenapa kenapa dalam perjalanan menjemput ku." Lagi lagi suara hati Burhan yang berbicara sendiri. Tapi dalam hati Burhan sedikit mengkhawatir temannya.
Burhan bukan bingung tidak ada teman di pulau Kalimantan. Namun Burhan mengkhawatirkan Baim yang mau menjemputnya. Burhan tidak takut sendiri tinggal di negeri orang . Apalagi Burhan sekarang sudah bertemu pak Iwan. Jadi rasa bingung nya tidak ada lagi. Semenjak bertemu pak Iwan di bandara tadi. Pak Iwan bagai sosok ayahnya yang melindunginya. Tapi karena janjinya sama Baim, Burhan masih mau menemui temannya terlebih dahulu. Burhan .juga tipe anak yang menepati janjinya. Karena Burhan di didik orang tuanya dengan baik.
Sambil menunggu Baim. Burhan mengambil ponselnya, dan menghubungi kekasihnya Rani. Karena dia belum mengabari Rani selama dia berada di bandara Jakarta, karena lagi sibuk bercerita dengan pak Iwan.
"Ring..Ring...Ring." Suara ponsel Burhan menelpon Rani.
"Assalamualaikum, sayang."
"Waalaikumsalam. Kamu kemana sayang kok nggak ada kabar. Aku tunggu tunggu kamu nelpon, kok nggak ada. Ketika aku mau telpon sinyal kamu kayaknya lagi nggak ada." Ujar Rani khawatir dan sedikit kecewa sama Burhan. Tapi yang membuat Rani bisa mengerti ketika dia ingat posisi yang sama dengan Burhan. Saat dia sibuk karena sesuatu hal. Makanya Rani bisa menerima keadaan ini.
"Iya sayang. Maaf aku tau aku salah. Maafin aku ya." Burhan menyadari sikapnya karena dia juga mengerti mengapa Rani begitu kesal. Apa yang dirasakan Rani pernah juga dia rasakan. Ketika menunggu kabar namun tidak datang datang. Makanya Burhan tidak ingin membela diri. Terlepas apapun itu alasannya. Hal yang dirasakan Rani juga tidak bisa merubah keadaan.
Ketika Burhan tidak berusaha membela diri. Rani sedikit terobati, setidaknya Burhan sekarang mengetahui apa yang pernah dulu dia lakukan.
"Kamu kemana sayang. Kok bisa lupa sama aku." Canda Rani mengubah suasana menjadi baik kembali.
"Kamu nggak marah lagi kan sayang." Tanya Burhan merasa lega.
"Nggak kok. Aku tau mungkin ada sesuatu yang buat, kita lupa atau bukan lupa tapi tidak bisa melakukannya, namun ingin." Ujar Rani yang sudah memahami keadaan.
"Terima kasih sayang. Sudah memahami keadaanku." Burhan kembali tersenyum.
"Cerita dong sayang. Aku kan ingin tau apa yang sedang terjadi." Pinta Rani penasaran.
"Maaf ya sayang. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang sangat serius. Cuma pada saat aku mau naik pesawat dari Lampung ke Jakarta sebelum transit lagi ke Kalimantan. Aku mengenal seorang bapak bapak, namanya Pak Iwan. Aku membantunya masuk ke dalam pesawat. Membantu membawakan kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi atas."
"Terus." Rani menyimak cerita Burhan.
"Ternyata kami duduk tepat bersebelahan. Mulai dari dalam pesawat, pak Iwan banyak bercerita tentang hidupnya. Dia juga banyak bertanya tentang aku. Mau kemana dan untuk apa aku mau ke Kalimantan. Di dalam pesawat aku dan pak Iwan, seperti seorang ayah dan anak. Pak Iwan adalah orang yang sangat baik. Aku baru mengenalnya kami sudah seperti orang yang sudah akrab lama."
"Terus pak Iwan itu turunnya kemana? Dia ke Jakarta atau ke Kalimantan juga sayang." Rani meneruskan pertanyaannya dan seolah olah Rani juga turut senang mendengar cerita kekasihnya.
"Pak Iwan juga orang Kalimantan. Setelah pesawat mendarat ke Jakarta, pak Iwan mengajak ku makan. Dan kami istirahat di rumah makan dan juga memesan kopi. Pak Iwan membayari ku makan. Walau pak Iwan baru mengenal ku, tapi seakan dia sudah mengenal ku sejak lama. Bahkan kataku tadi, kami seolah seorang ayah dan anak." Cerita Burhan kepada Rani dengan semangatnya.
" Alhamdulillah sayang. Allah selalu mempertemukan kamu dengan orang orang baik."
__ADS_1
"Alhamdulillah." Burhan juga bersyukur karena apa yang dikatakan Rani padanya benar.
"Terus sekarang pak Iwan nya kemana sayang?"
"Setelah kami sampai di bandara Kalimantan, Aku dan pak Iwan berpisah. Dia mengajak aku naik sebuah mobil. Nggak tau mobil dia atau gocar yang dinaiki pak Iwan."
"Terus kamu belum di jemput teman kamu sayang."
"Ini aku sendiri lagi menunggu dia."
"Ya udah sayang. Sabar ya!"
Tak lama dari Burhan berbincang bincang di telepon dengan Rani. Baim temannya muncul tepat depan matanya.
"Han. Sudah lama kamu tiba?" Baim menyapa Burhan yang lagi asyik menelpon Rani.
"Eh Baim bikin kaget aja." Burhan menurunkan ponselnya dari telinganya.
"Iya Han. Kamu sudah lama nunggu?"
"Lumayan Han. Sampai mau selesai aku cerita sama Rani apa yang aku temui dalam perjalanan."
"Memangnya kamu menemukan apa Han?" Baim jadi pemasaran.
"Lanjut." Canda Baim.
Setelah Burhan menyapa Baim . Burhan memberitahu Rani, bahwa dia sudah bertemu dengan Burhan. dan menuju tempat tinggal Baim.
"Sayang."
"Iya sayang. Ada pa?"
"Aku cuma mau bilang. Teman ku sudah sampai kesini. Dan mau menjemput. Aku tutup telepon nya dahulu ya.
",Ya sayang. Hati hati disana jangan lupain aku selalu disini ya."
"Pasti sayang. Cintaku hanya buat kamu."
"Alhamdulillah" Rani sangat senang mendengarnya. Hati Rani seakan berbunga bunga.
"Daaaaa sayang."
"Daaaa".
__ADS_1
"Ayo Han kita pulang." Baim mengajak Burhan pulang.
"Iya." Burhan sambil mengangguk kan kepalanya.
Burhan mengambil tas yang di letakkan nya di atas kursi duduk di sampingnya sambil menelpon Rani. Kemudian mengarah ke parkiran mengikuti Baim.
"Baim, Ayo." Burhan naik motor Baim.
Baim mulai melajukan motornya. Dan mengajak Burhan bercerita.
"Gimana Han perjalananmu tadi?"
"Alhamdulillah Baim. Tidak ada kendala. Semuanya berjalan pas sesuai jadwal keberangkatan."
"Alhamdulillah Han."
"Besok kita jalan ya, Kebetulan besok aku libur. Sekalian kita sambil membuat surat lamaran pulang dari jalan."
"Iya Baim. Aku ikut aja. Kan yang tau keadaan disini kamu."
"Iya. Berkas kamu di bawah semua, Han?"
"Bawa Baim."
"Mudah mudahan kamu cepat di terima Han."
"Aamiin."
Burhan dan Baim keluar dari gerbang bandara. Burhan menikmati perjalanan pulang kearah rumah Baim. Sambil melihat lihat pemandangan daerah Kalimantan. Ini adalah hari pertamanya menginjak daerah Kalimantan, yang selama ini dia hanya mendengar dan melihat dari buku pelajaran atau dari berita berita di televisi. Tapi sekarang dia sudah datang langsung. Tanpa bertanya tanya dihatinya dimana daerah Kalimantan ini.
Di daerah ini mulai awal cerita Burhan. Menemukan jati diri dan mulai mengerti arti kerasnya kehidupan . Dan daerah ini lah Burhan mulai mendapat sebuah pengalaman hidupnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Jangan lupa di tunggu ya.
Like
Komen
Vote
Hadiah🌹🌹
__ADS_1
🤗🤗🤗🙏🙏🙏🤗🤗🤗