Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
1


__ADS_3

"Kalian sudah seperti saling kenal lama sekali."


Indri hanya tersenyum tertahan ketika salah seorang siswi mengomentari hubungannya dengan Indra. "Kami memang sudah mengenal sejak tahun pertama sekolah."


"Tidak. Maksudku kalian seperti sudah kenal jauh sebelum itu. Hanya padamu, Indra berbeda."


"Iya. Indra tampak berbeda sekali jika sudah denganmu." Siswi lainnya menanggapi dengan nada menggoda. "Aku penasaran. Bagaimana jadinya jika kalian berjalan di kota seperti sepasang kekasih kebanyakan?"


Ketika teman-temannya sibuk bercanda dan berkomentar, Indri sesaat merenungi perkataan siswi itu.


Indri pun penasaran. Bagaimana rasanya?


"Hah?" Indra memandang dengan heran. Pemuda itu tak jadi melangkah guna kembali ke rumah dan menghadap Indri sepenuhnya. "Tumben kau ingin pergi ke sana."


"Hanya sedang ingin saja," jawab Indri asal. Ia pura-pura memandang arah lain. "Malam ini."


Indra menatapnya, menimang-nimang. "Baiklah."


Memang kebetulan malam itu adalah malam minggu. Indri bisa langsung membuktikan rasa penasarannya tanpa khawatir ujian atau praktik di keesokannya. Sekaligus, saat itu adalah pertama kali mereka benar-benar kencan. Maksudnya, kencan yang tidak ada sesi belajar.


Indri tidak merasa harus memoles diri. Gaun putih sederhana selutut dan sabuk cokelat yang memeluk pinggang sudah cukup baginya. Ditambah rompi yang sama cokelat sepanjang lengan, gadis itu tak melakukan apapun lagi pada tubuhnya dan segera mendatangi Indra yang ia yakini sudah menunggu di luar rumahnya.


Jika Indri tak ingat kalau ia berusaha menyembunyikan niat sebenarnya, gadis itu betulan akan bersikap bahwa ini kencan sungguhan.


Indra yang sekarang sudah tentu jauh berbeda dengan di sekolah. Tak ada lagi seragam SMA maupun kaos dan celana training setiap mereka belajar bersama. Kemeja putih polos dipakainya dan berbalut jaket kulit cokelat tua serta berlengan panjang. Ada tudung berbulu di jaket itu dan membuatnya tampak lebih hangat dikenakan. Sedang celana panjangnya berwarna hitam kecokelatan dan semata kaki. Indra tak mengubah penampilannya yang lain lagi, tetapi perubahan sederhana itu membuatnya tampak lebih stylish.


Indra mengerjap melihat Indri justru mematung di ambang pintu. "Sudah selesai?"


Indri terkesiap dan buru-buru menutup pintu, lantas mendahului Indra dengan kaku. "Ayo."


Tempat yang Indri pinta adalah alun-alun kota. Pada akhir pekan, mayoritas masyarakat akan berkumpul di sana karena hadirnya berbagai hiburan baik dari dalam maupun luar. Bisa dibilang, pasar malam mingguan. Pelepasan penat setelah seminggu penuh kesibukan.


Indri sibuk mengedarkan pandang, terperangah. Ia jarang ke sana karena selalu memanfaatkan akhir pekan untuk melakukan hobinya sebagai penulis, tetapi sekarang ia menyesal. Indah sekali suasana pusat kota itu. Ratusan lentera yang menyala keemasan menggantung di atas kepala. Ramai masyarakat yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Sorak anak kecil dan derap semangat para remaja. Stan-stan makanan dan kios yang berjajaran apik. Ditambah beberapa pertunjukan dan drama yang meriahkan beberapa sudut alun-alun. Keramaian seperti inilah yang Indri suka.


Tiba-tiba Indra meraih lengan dan menariknya mundur. Punggungnya bertabrakan dengan dada pemuda itu. Tepat setelahnya, sekumpulan remaja lewat di depan mereka dengan semangat hingga bisa menubruk seseorang yang tidak siap.


"Nyaris." Indra menghela napas. "Perhatikan langkahmu. Di sini sangat ramai."

__ADS_1


Indri hanya bisa mengangguk gugup. Terlebih ketika pemuda itu beralih menggenggam tangannya.


"Jadi kau ingin berkeliling saja atau ...?"


"Aku ingin melihat-lihat dulu." Kembali, Indri membalas cepat. "Kau sendiri?"


"Kau yang mengajak," tanggap Indra kalem. "Aku hanya menemani."


Ada sedikit rasa kecewa, tetapi Indri menepis itu. Maka ia melangkah lebih dulu, tentunya Indra langsung menyusul dan memastikannya tak lepas dari jangkauan. Genggaman pemuda itu dipererat walau mereka akhirnya bisa berjalan berdampingan.


Tak banyak yang menarik perhatian Indri. Pada dasarnya, gadis itu hanya penikmat keramaian. Beberapa pertunjukan hanya ditontonnya sebentar, itupun karena menikmati suka cita orang-orang dan keapikan pertunjukan. Beberapa stan dikunjunginya, tetapi sebatas ingin tahu dan coba. Tak ada yang benar-benar membuat gadis itu betah.


Hingga akhirnya mereka berhenti di air pancur besar di pusat alun-alun. Tak banyak orang yang berkumpul di sana hingga keramaian hanya terdengar dari sekitar.


"Kau lelah?"


Selagi memandang riak kolam air pancur, Indri menggeleng. Ia melirik sekilas pantulan sosok Indra di sana. Pemuda itu ternyata sedang memandangnya. Indri segera memakukan pandangan pada ikan hias yang selintas lewat di hadapan.


Sebenarnya niat Indri mengajak Indra adalah demi pemuda itu. Indri ingin Indra lebih menikmati kota itu—karena Indra hanyalah pendatang di sini—, atau minimal sedikit rileks setelah berkeliling. Namun, pemuda itu tetap datar dan diam seperti biasa. Tak ada yang mempengaruhi Indra untuk sekadar menikmati keramaian maupun hiburan di sini. Sebenarnya ini juga salah Indri yang tak pandai memancing pemuda itu.


Indri menghela napas diam-diam. Sepertinya mereka berdua memang tak cocok di keramaian begini. Hanya cocok bergumul dalam buku lantas berdiskusi tiada habisnya. Itu jauh lebih mengasyikkan.


Indri tersentak dan menatap Indra, tetapi pemuda itu sudah mendudukkan diri di pinggir kolam dan menghadap Indri--masih menggenggam sebelah tangan gadis itu. Posisinya itu bisa membuat Indra memandang wajah beserta air muka Indri dengan jelas. Yang mengejutkan Indri, manik cokelat Indra menyirat khawatir.


"Kau tiba-tiba mengajak ke sini. Aku sudah curiga. Dan sejak tadi kau tampak tidak menikmati semuanya dan melamun. Kau tampak tertekan." Tangan Indra terulur dan mengusap lembut sisi wajah Indri. "Apa yang mengganggumu, Indri?"


Indri terbungkam, terkejut oleh kepekaan Indra pada sikapnya sekaligus kecemasan murni pemuda itu. Sedari tadi, ia terus memikirkan cara memancing Indra. Justru Indra yang menangkap basah dirinya.


Indra masih menunggu. Matanya memandang dalam dan sabar.


Indri gugup memutus kontak mata. "A-aku sedang tidak ada masalah."


"Lalu kenapa kau ke sini, tetapi tidak menikmati semuanya?”


"Apa aku harus?"


"Kau tidak seperti biasanya."

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, Indra."


"Kau menyembunyikan sesuatu."


"Tidak."


Mulut Indra terkatup rapat. Matanya memicing.


Indri tersentak mundur saat Indra bangkit berdiri, tetapi pemuda itu masih menahan tangannya. Jadilah mereka berhadapan dengan jarak teramat dekat.


"Ada apa sebenarnya?" Suara Indra dipelankan dan berusaha dilunakkan, meski tangannya erat menahan Indri di tempat. Lalu suaranya dilembutkan. "Sudah sering kukatakan. Kau bisa cerita padaku."


Indri memalingkan muka dan menatap lantai alun-alun yang terbuat dari balok-balok batu. Wajahnya memanas.


"Tatap aku, Indri."


Cukup. Indri juga tidak tahan dipojokkan seperti ini. "B-berjanjilah untuk tidak marah," bisiknya malu, "atau mengataiku bodoh dan semacamnya."


Indra mengangkat sebelah alis. Ia diam menunggu.


Indri menarik napas dalam-dalam. Suaranya kemudian terdengar amat pelan hingga hanya Indra yang mendengar. "A-aku ... mengajakmu ke sini ... untuk menghiburmu."


Indra tertegun. "Aku?"


Indri mengangguk kecil dan semakin menunduk malu. "D-dan aku ... ingin tahu--maksudku, ingin kita sekali saja ... berjalan-jalan seperti ini." Tangannya meremas kain gaun saking gugupnya. "Aku ... ingin kau bersenang-senang. Dari tadi ... aku terus memikirkan caranya, tetapi sepertinya ... kau tampak tidak senang."


Hening teramat lama. Hanya terdengar keramaian sekitar, kumandang dramatis pertunjukan, dan kucuran air pancur di dekat mereka.


Lalu Indri mendengar dengusan geli. Berubah menjadi kekehan, tetapi tak ditahan lagi hingga menjadi tawa pelan. Kemudian, tawa lepas yang ringan.


Indri menengadah, terpana. Indra tertawa.


Betapa rileks dan lepas pemuda itu melontarkan tawa. Otot wajah yang selalu kaku itu kini tertarik sempurna membentuk raut geli. Bibir yang selalu menggaris datar itu kini membentuk seulas senyum bahagia di tengah tawa. Indra terlalu ekspresif hingga matanya terpejam. Membikin hati sejuk dengan wajahnya yang memang memesona.


Seiring debaran jantung yang tak keruan, wajah Indri memanas demi melihat tingkah Indra yang amat jarang itu.


Tawa Indra berangsur hilang. Pemuda itu menatap Indri lekat-lekat. Senyum bahagia dan tulus masih tersungging di bibirnya. "Terima kasih," bisiknya. "Jadi kau melakukan ini untukku?"

__ADS_1


Masih terpana, Indri mengangguk kaku.


"Maaf. Aku malah tidak menangkap niatmu." Indra kembali mengusap pipi gadis itu. Senyumnya menipis dan melembut. "Tidak apa. Bukan salahmu. Aku senang mendengarnya. Ayo." Indra kini menautkan erat tangan mereka. "Masih ada waktu."


__ADS_2