![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indri terbangun tengah malam. Bukan karena mimpi buruk, tetapi kerongkongannya terasa kering, plus tubuhnya memang sedang gerah. Saat itu memang sedang musim kemarau, tetapi ia tak menyangka bahwa malam hari ternyata juga sepanas ini. Selalu, Indri mendapati dirinya sedang berada dalam dekapan sang suami. Wajahnya sedang terbenam di dada lelaki itu, seketika bisa menghirup aroma pinus di sana dalam-dalam. Kedua lengan lelaki itu mengurungnya erat, maka Indri sehati-hati mungkin bergerak bangkit seraya melepas dekapan itu dengan lembut.
Ternyata memang tidak semudah itu. Kedua lengan itu mendadak merengkuhnya lebih erat, enggan melepaskan Indri. Bersamaan, lelaki itu terbangun dengan mata setengah terbuka. Ia menunduk dan menatap Indri dengan mengantuk. "... ke mana?" lirihnya serak dan masam.
__ADS_1
"Aku haus." Indri tersenyum lembut dan mengusap rahang Indra, meyakinkan lelaki itu. "Aku ingin turun ke dapur."
Indra menghela napas pelan. Gilirannya yang justru bergerak bangkit dan berbisik lembut, "Biar kuambilkan." Lelaki itu mengecup bibir Indri sekilas sebelum beranjak turun dari ranjang lantas keluar.
__ADS_1
Indri sejenak mengusap bibirnya, agak tidak menduga perlakuan tadi. Kantuknya benar-benar hilang dengan sukses, berganti hangat di pipi. Perempuan itu bangkit terduduk dan memandangi gorden pada pintu balkon yang bergeming. Bahkan tidak ada angin malam ini. Jika biasanya ia kedinginan oleh angin itu, Indri justru berharap angin itu hadir sekarang. Suhu malam ini ternyata sebegitu panas. Itu membuatnya sampai mengenakan gaun tidur malam ini walau Indri tidak begitu menyukai bentuk pakaian itu yang membuat lengan, bahu, dan setengah pahanya terbuka. Masih lebih baik daripada ia merasa gerah oleh setelan piyamanya yang menutupi hingga pergelangan tangan dan kaki. Indri menoleh saat Indra kembali dengan segelas besar air putih. Indra juga telah menanggalkan kemejanya malam itu karena gerah oleh suhu yang lebih panas dari biasanya hingga lelaki itu bertelanjang dada. Indri kembali merona dan berusaha mengalihkan atensinya dari itu, beralih pada gelas di tangan Indra yang terbilang besar dari porsi biasa. "Kau membawa sebanyak itu?" ringisnya pelan.
Indri buru-buru menahan Indra yang hendak merengkuhnya. "Untuk malam ini saja," cicitnya gugup, "bisakah kau tidak memelukku? Aku ... jadi makin gerah."
__ADS_1
Bagus. Indra makin tidak suka pada musim kemarau. Lelaki itu pun terpaksa menahan tangannya yang selalu terbiasa mendekap Indri. Justru, sebagai gantinya, Indri berbaring menghadapnya. Indra pun mengikuti dan berbaring menghadap perempuan itu. Ia meraih tangan Indri untuk digenggamnya di antara mereka, setidaknya tetap ingin memastikan keberadaan perempuan itu di sisinya. Indri membalas genggaman itu dan tersenyum lembut, lantas lebih dulu memejam dan langsung terlelap. Indra juga sesegera mungkin memejam dan pergi ke alam mimpi--berusaha menyingkirkan apa pun isi pikirannya sekarang yang membuatnya berdebar.
Bertambah satu lagi alasan kenapa Indra tidak suka--sekaligus suka--pada musim kemarau. Suhu panas seperti sekarang membuat istrinya itu harus mengenakan gaun tidur yang tipis dan minim. Tubuh istrinya terekspos lebih dari biasanya, ditambah gaun tipis itu yang lemas dan secara sempurna menunjukkan lekuk tubuhnya. Indra tidak suka pemandangan itu--karena ia selalu dibuat berdebar dan itu mengacaukan napasnya. Meski Indra diam-diam juga menyukai penampilan itu.
__ADS_1