![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indra sebenarnya benci hujan. Ia tak bisa ke mana-mana. Namun, dalam beberapa momen ketika ia memang sedang ingin di rumah, Indra menyukainya. Termasuk sekarang.
Tapi ternyata Indri sedang sibuk. Wanita itu duduk di karpet besar di ruang kerja mereka. Berbagai buku tersebar di sekitarnya. Di pangkuan Indri juga terdapat sebuah buku agenda yang sesekali ditulisi. Sesekali buku lain dicermatinya.
Indra memutuskan mendekat karena kesibukan itu kelihatannya tak masalah jika ditemani. "Sedang apa?"
"Mencari beberapa referensi," balas Indri ambigu karena fokusnya sedang terbelah. Ia tersenyum kecil saat menangkap raut heran Indra. "Ini bukan tugas apa pun. Aku yang berinisiatif."
"Merepotkan diri seperti biasanya, huh?" Indra pun membentangkan selimut kecil yang sengaja dibawanya, lantas dilingkupkannya ke tubuh belakang Indri yang ketika itu hanya terlindungi kemeja tipis.
Indri salah tingkah dan menggenggam ujung selimut itu. "Terima kasih. Aku ... memang agak kedinginan." Ia lantas terdiam kikuk karena Indra ternyata ikut masuk ke lingkup selimut itu dan menempatkan diri si belakangnya. Indri buru-buru berusaha fokus lagi pada pekerjaannya. "Kau tak punya kesibukan atau pekerjaan apa pun? Tak ada yang ingin kau baca?"
Kepala Indra yang bersandar nyaman di bahu Indri pun menggeleng malas. "Aku sudah baca semuanya." Lelaki itu bisa merasakan gelagat kaku tubuh Indri. "Maaf. Apa aku mengganggumu?"
__ADS_1
Indri segera menata gejolak perasaan serta wajahnya yang memanas. "Tidak. Lagipula ini memang bukan pekerjaan penting. Aku tidak sedang buru-buru." Wanita itu kembali terdiam kikuk saat merasakan pinggangnya dipeluk dari belakang. "... kalau kau memang mengantuk, kenapa tidak tidur saja?"
"Sepertinya aku memang mengganggumu, hm?"
"Bukan begitu--"
"Sebentar saja, Indri." Suara Indra melirih menenangkan. "Hujan seperti sekarang ... Ibu selalu menghangatkanku seperti ini."
Kegugupan Indri seketika lenyap. Wanita itu tak bisa bicara beberapa detik, tetapi sebelah tangannya sejenak mengelus lengan Indra yang merengkuh pinggangnya. Kemudian, Indri kembali berkutat pada pekerjaannya.
Ketika Indri sudah selesai pun, wanita itu tahu bahwa Indra tidak sedang tidur walau sejak tadi diam memejam. Ia menepuk pelan lengan Indra. "Kau ingin tidur setelah ini? Atau apa?"
Indra menggeleng pelan tanpa berminat membuka mata. "Aku hanya ingin ada di dekatmu sekarang."
__ADS_1
Entah sudah berapa kali lelaki itu membuat Indri bersemu merah hanya dengan kata-kata--walau selalu dilontar terlampau jujur dan tidak sadar. Hening yang diisi melodi hujan kemudian membuat Indri ikut menghayati kehangatan yang sedang dirasakannya kini. Kehangatan rengkuhan Indra yang disukainya. "Akhir-akhir ini," bisiknya agak tersipu, "... kau ... lebih sering memelukku."
"Tidak boleh?"
Indri selalu tak berkutik ketika Indra melempar balik pertanyaannya. "... tidak juga."
"Kau tidak suka?"
"Tentu aku suka." Detik berikutnya, Indri baru sadar apa yang ia katakan. Wajahnya kian panas. "... berhenti memutar kata-kataku. Aku serius."
Indra mendengus geli dan membuka mata. Ia bisa melihat jari-jari Indri yang tertaut gugup di pangkuan wanita itu. Senyumnya melembut saat melihat kilap emas yang melingkar di jari manis Indri. "Aku hanya ingin memelukmu. Itu saja."
Makin kikuk saat kedua tangannya ditangkup oleh kedua tangan besar Indra, Indri berusaha membalas, "Cuma itu?"
__ADS_1
"Kenapa? Kau tampak ingin tahu sekali." Indra terdengar cuek. Ia lebih fokus menelusupkan jemarinya ke sela-sela jari Indri. Bisa dirasakannya kedua cincin mereka yang bersentuhan. "Ini tidak seperti dulu lagi. Kita sudah bukan sepasang kekasih lagi. Kita bukan tunangan lagi. Kau telah menjadi milikku dan aku juga telah menjadi milikmu. Kau sudah bebas mengungkap semua perasaan dan masalahmu padaku sampai puas. Aku juga tak akan ragu lagi untuk melakukan apa pun yang bisa membuatmu nyaman ... dan bahagia."