Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
45


__ADS_3

"Kau yakin tidak sebaiknya tidur saja?"


Ke sekian kali dan tak bosannya, Indri menggeleng ringan dan tersenyum menenangkan. "Tidak apa, Indra. Aku belum mengantuk. Kau bisa tidur duluan."


Indra yakin seratus persen: Indri pasti tahu bahwa mereka--harus--selalu tidur berbarengan. Lelaki itu tak ingin memaksa Indri ke kamar mereka sekarang juga, tetapi dia tetap heran karena pada malam larut begini di tengah hujan badai, istrinya itu malah ingin menontonnya. Di karpet di ruang kerja mereka yang menghadap jendela besar, Indri sangat betah duduk di situ dan menonton hujan badai melalui kaca jendela. Bagian yang tidak Indra mengerti: apa yang bisa dilihat di luar sana dalam keadaan malam begini?


"Tidurlah duluan," tegas Indri gemas karena Indra malah terus berdiri di sebelahnya dan menatapnya jengkel. "Aku pasti segera tidur saat sudah mengantuk."


Setelah beberapa detik, Indra akhirnya beranjak keluar ruang kerja mereka. Terdengar suara pintu terbuka di ruangan sebelah--kamar mereka.


Indri pun merasa agak bersalah--mengira bahwa Indra marah karena dirinya. Perempuan itu meringkuk gugup dan menatap gelap malam di luar jendela, bingung sebaiknya bagaimana.


Itu sebelum Indra mendadak datang lagi dan langsung melingkupinya dengan selimut tebal. "Ingin begadang tapi memakai gaun tidur," gerutunya. "Setidaknya, jangan membuatku khawatir. Kau bisa sakit."


Di balik selimut yang menutupi hingga setengah kepalanya, pipi Indri menghangat. Kedua lengannya tanpa sadar memeluk diri sendiri yang kali itu hanya mengenakan gaun tidur. "Terima kasih."

__ADS_1


Indra duduk bersila di sebelah Indri dan menghadap perempuan itu. Jarak mereka kurang dari tiga puluh senti. Indra bertopang dagu hingga bisa leluasa menatap wajah Indri dengan segenap masam. "Kau harus tidur sekarang."


Indri berusaha menutupi gugup dan kuekeh menatap jendela. Di antara aroma tanah yang bercampur hujan, ia kini malah ikut menghirup aroma pinus samar. "Aku belum mengantuk."


"Bagaimana kalau kau sakit?" Giliran Indra yang mulai gemas dan jengkel. "Jangan diam di luar seperti ini."


"Tapi di sini masih cukup hangat."


"Kamar kita jauh lebih hangat."


"Tapi dia sangat rentan sakit."


Sukses, wajah Indri makin hangat. Perempuan itu makin menyelimuti kepalanya dengan selimut untuk menyembunyikannya. Kedua lengannya memeluk perutnya. "... tidak akan."


Ingin rasanya Indra sekalian menggendong perempuan itu ke kamar mereka, tetapi lelaki itu sedang tak ingin melibatkan pemaksaan. Ia mencoba mengerti alasan Indri, tetapi tak kunjung menemukannya. Diamatinya perempuan itu dalam-dalam. Indri masih belum mau menatapnya dengan separuh wajah bersembunyi di balik selimut. Melihat kebetahan Indri diam di sini dan menonton--entah apa--di luar jendela, Indra juga tak bisa apa-apa. Lelaki itu mengembuskan napas perlahan, lantas berbaring menyamping begitu saja di sebelah Indri dan memejam.

__ADS_1


Seketika Indri menatapnya bingung dan cemas. "Kau tidak perlu ...." Perempuan itu terdiam ketika mendapati Indra yang benar-benar memejam dan bergeming. Ia menyentuh lengan Indra hati-hati, tak ada reaksi. Ia memperhatikan napas lelaki itu yang teratur. "... dia tertidur?" lirihnya. Indri sedikit beringsut untuk leluasa mengamati lelap tenang Indra. Ia seperti menangkap lelah tersembunyi yang akhirnya terganti dengan pulas di wajah lelaki itu. Rasa bersalah seketika menyergapnya. Begitu saja, minat Indri pada hujan badai sirna total.


Indri membentang selimut di tubuhnya hingga ikut melingkupi tubuh Indra, lantas ikut berbaring dan tepat menghadap lelaki itu. Hanya berjarak lima belas senti karena Indri ingin merasakan embus napas Indra yang seketika menghangatkan wajahnya. Indri mendadak betah mengamati rupa wajah lelaki itu dari jarak sedekat ini. Begitu saja, minat Indri teralih menjadi Indra. Matanya tak berkedip seolah ingin merekam baik-baik setiap inci rupa wajah lelaki itu. Indri baru menyadari pula bahwa suaminya itu memiliki bentuk wajah yang begitu maskulin yang barangkali digilai oleh banyak perempuan--dan itu memang benar.


Pertama kali, terbersit cemburu dalam dirinya ketika mengingat lagi setiap perempuan yang pernah mendekati Indra. Pertama kali, Indri merasa tak suka karena ada yang ingin merebur kepedulian Indra padanya. Indri amat jarang merasa cemburu, tetapi kenapa kini ia sangat ingin lelaki di hadapannya ini hadir dan ada di sini untuknya seorang?


Akan tetapi, perasaan tertekan itu lenyap saat Indri tak sengaja menatap bibir tipis lelaki itu. Seketika ia mengingat: justru hanya dirinya yang pernah dan selalu disentuh bibir itu dengan penuh perasaan. Jantungnya berdebar kencang, tetapi terasa sangat nyaman. Wajahnya menghangat bukan lagi oleh embus napas Indra.


Begitu saja, Indri tergerak untuk membalas meski wajahnya kian merona. Ia amat hati-hati beringsut mendekat dan menyingkap selimut yang agak menghalanginya. Indri gugup mencegat helai rambutnya yang berjatuhan dan hampir menyentuh pipi Indra. Sama gugup pula, Indri menunduk dan memejam hingga bisa dirasakannya bibirnya yang mengecup lembut bibir lelaki itu. Itu sentuhan yang ringan, tetapi terasa seperti sengat kecil yang meningkatkan energi tubuhnya. Sensasi yang selalu disukai Indri.


Buru-buru menjauh dan sejenak memastikan Indra tak terbangun, Indri segera berbaring dan beringsut lebih dekat. Wajahnya dibenam dalam-dalam di dada lelaki itu, tetapi malah terasa makin panas, terlebih ketika bisa merasakan detak jantung Indra. Indri juga tak mengerti kenapa ia seberani itu.


Dalam hening berikutnya, gugup Indri pun menyurut. Kini tergantikan hanyut sepanjang wajahnya terbenam nyaman di dada Indra dan bisa merasakan detak jantung yang disukainya. Kedua lengannya hati-hati bergerak dan merengkuh lelaki itu. Makin meluap dan hangatlah isi dadanya ketika bisa merasakan lelaki itu secara nyata. Telapaknya bisa merasakan otot punggung Indra yang selalu disukainya. Embus napas samar dirasakannya di pucuk kepala. Indri merasa tak butuh apa pun lagi. Bisa mendengar detak kehidupan dan merengkuh lelaki yang dicintainya sudah sangat cukup. Perempuan itu terbuai, lantas jatuh tertidur dengan damai dan pulas.


Dalam hening selanjutnya, Indra membuka mata. Lelaki itu sama sekali tidak tidur. Ia sengaja berpura-pura tidur untuk membuat Indri menyerah, tetapi ia malah mendapat hal yang lebih dari itu. Sejenak menyentuh bibirnya sendiri, Indra seperti masih merasakan manis apel dan harum anggrek yang tertinggal di sana. Indra tak merasa gugup sama sekali, justru lebih tak menduga bahwa Indri melakukannya saat ia tidur. Ia lantas mengamati Indri yang sedang merengkuhnya. Indra tak kuasa menahan senyum geli dan mengecup dalam-dalam pucuk kepala perempuan itu. Setidaknya, pengelabuannya berhasil. Ngidam Indri teralih dari menikmati hujan menjadi menyentuh dirinya.

__ADS_1


Sangat hati-hati seolah yang ditopangnya adalah keramik paling rawan pecah, Indra beranjak bangun sekaligus memangku Indri dalam dekapannya. Telapaknya merasakan kulit lengan perempuan itu yang sedikit dingin, begitu pula belakang lutut yang lebih panas dari suhu normal. Ketika bangkit berdiri, Indra telah membopong tubuh Indri hingga kepala perempuan itu bersandar nyaman di bahunya, lantas membawanya menuju kamar mereka.


__ADS_2