Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
51 (pt 1)


__ADS_3

Sang Pangeran Kerajaan Naturalis sebenarnya tidak begitu suka sebuah pesta. Ia lebih suka ada di arena pribadinya dan berlatih malam ini juga ketimbang harus hadir dalam suasana formal dan serba mewah. Kerajaan Naturalis adalah kerajaan yang cenderung menjadikan pertanian, perladangan, perkebunan sebagai pokok mata pencaharian. Kerajaan Naturalis juga bukanlah kerajaan yang istana dan negerinya bertabur bangunan megah dan penuh emas, tetapi kerajaan itu tetap sama makmur dengan kerajaan lain karena bisa berdiri dengan budayanya sendiri yang bergantung pada alam. Lingkungan kerajaan itulah yang mengefek pada karakter sang putra mahkota untuk lebih nyaman hidup dalam penuh kerja keras ketimbang hidup bergelimpangan harta.


Jika bukan karena paksaan sang ayah untuk menghadiri pesta yang merupakan kolaborasi empat kerajaan paling adikuasa, sang pangeran pasti sudah meningkatkan kemampuan berpedangnya barang satu level. Lokasi pesta itu juga agak ke utara. Sang pangeran tidak begitu terbiasa dengan iklim empat musim dan itu membuat suasana hatinya tambah jelek. Beruntung, dalam pesta "persaudaraan" itu(walau nyatanya empat kerajaan bersangkutan masih perang dingin), seluruh undangan maupun penyelenggara wajib memakai topeng. Benar. Ini adalah pesta topeng karena tujuan pesta ini adalah membaurkan semuanya tanpa memandang ras dan klan. Meski bagi sang pangeran, itu percuma karena topeng yang dikenakan sebatas menutupi separuh atas wajah. Warna mata dan rambut mereka tetap terlihat. Tidak ada bedanya.


Tak ada satu pun hal yang menarik minat sang pangeran di aula pesta. Dekorasi mewah tak membuatnya terpikat. Makanan mahal membuatnya biasa saja. Para perempuan yang menatapnya bahkan seperti ingin mengajaknya berbincang sekalipun membuatnya tak tertarik sedikit pun. Sosoknya ketika itu menarik kaum hawa manapun. Bukan karena ia berpakaian mewah--bahkan ia hanya mengenakan jubah cokelat gelap berornamen emas dan setelan dalam berwarna cokelat pastel, tetapi karena postur tubuhnya yang sama atletis seperti seorang prajurit tangguh. Seolah-olah ia adalah prajurit yang tak sengaja ikut dalam pesta itu. Kaum bangsawan yang memiliki postur seperti itu amat jarang karena kebanyakan malas melatih diri, maka sang pangeran sukses menjadi pusat perhatian para perempuan. Sekalipun separuh wajah sang pangeran tertutup topeng berwarna putih tulang berornamen emas, garis wajahnya yang tegas dan menawan tetap terlihat. Kulitnya justru berwarna langsat karena asupan gizi yang seimbang dengan porsi latihan. Walau rambut hitamnya menjadi ciri khas dari kerajaan di khatulistiwa, para perempuan berambut emas bahkan ikut memperhatikannya penuh minat.


Sudah puluhan kali sang pangeran menjauh dari perempuan yang seperti ingin mendekatinya. Sudah belasan kali pula ia enggan bicara lama-lama pada perempuan yang langsung mengajaknya bicara tiba-tiba. Walau sudah berumur dua puluh tiga tahun, sang pangeran masih malas berurusan dengan yang namanya perjodohan apalagi cinta. Sekalipun sang ayah akhir-akhir ini memaksanya melakukan 'ritual rutin' klan mereka untuk membantunya mencari pasangan hidup, sang pangeran tak mengacuhkan dan malah lebih fokus pada peningkatan kemampuan berperang dan memimpin. Bukankah lebih baik memupuk kemampuannya dulu sebagai penerus sang ayah kelak daripada berpusing-pusing memikirkan jodoh?


Lagi pula, sang pangeran masih menyimpan sebuah wajah perempuan dalam ingatan lamanya.


Indra akhirnya menemukan balkon. Ia sangat ingin menghirup udara sejuk malam, tetapi lelaki itu terpaku saat tak sengaja melihat seorang perempuan yang entah kenapa, membuatnya deja vu.


***

__ADS_1


Sang Putri Mahkota tak begitu menyukai pesta. Ia hanya suka bagian bertemu dan berelasi dengan orang-orang baru, tetapi ia tak begitu suka saat harus mengenakan gaunnya kini yang terbuka di bagian punggung serta bahu. Gaun berwarna perak berornamen emas itu direkomendasikan oleh pelayan-pelayan pribadinya--dengan alasan bahwa sudah saatnya sang putri mulai menarik perhatian lelaki dan segera menikah. Sang putri lebih tidak suka dan malu jika urusan pasangan hidupnya terus-terusan disinggung. Meski keluarganya tak berucap, tetapi sang putri amat sadar rakyatnya makin menginginkan itu, terlebih sang kakak baru menikah beberapa waktu lalu. Sebagai putri dari kerajaan yang makmur karena militer dan industri, ia dipandang harus segera memiliki pendamping karena menjadi satu-satunya anak gadis yang akan paling rawan dalam bahaya, sedangkan saudara-saudara lelakinya juga harus menjaga pasangan masing-masing. Walau sang putri bahkan berani mengembangkan kekuatan dan mampu melindungi diri sendiri, rakyat yang begitu mencintainya tetap khawatir.


Sang putri tentu senang dengan perhatian rakyat yang juga amat dicintainya, tetapi ia masih belum siap secara pribadi. Tepatnya, ia belum menemukan dan yakin tak akan menemukan pasangan hidup dalam waktu dekat. Siapa yang akan berani melamar putri dari kerajaan yang paling kuat dari segi militer? Mungkin hanya kerajaan kecil yang berniat cari aman, maka sang putri menjadi tak tenang tentang perjodohannya nanti. Apakah itu akan membuatnya bahagia?


Sebenarnyalah sang putri bisa bebas memilih lelaki mana pun. Bahkan kini pun ia terus saja menarik atensi para undangan lelaki walau sudah mengenakan topeng berwarna perak berornamen emas dengan hiasan bulu dan bunga--sehingga wajahnya menjadi agak samar. Pesona kecantikan dan keanggunannya sudah terkenal di seantero Kerajaan Aurum, bahkan mulai dilirik para pangeran dari kerajaan lain. Kulitnya seputih susu dan sehalus kelopak bunga. Rambut emasnya selembut sutra dan seharum anggrek. Mata madunya lebih memikat hingga orang-orang sulit mengalihkan atensi darinya. Kemampuan bertarungnya juga justru menjadi nilai plus yang membuat sang putri semakin memesona dan terlalu sayang untuk ditolak. Sang putrilah yang masih bimbang bahkan belum berminat mencari pasangan hidup di umurnya yang sudah dua puluh tiga tahun. Tak terhitung sudah berapa lelaki yang berani datang padanya dan mengungkapkan cinta, tetapi sang putri belum pernah sekalipun tertarik. Belum ada lelaki yang juga membuatnya merasakan hal sama. Sang putri sendiri bahkan belum mengerti betul cinta itu sendiri. Sang putri sudah lebih dulu tertahan oleh satu hal yang masih terpatri di hatinya.


Ketika begitu banyak lelaki menyerahkan cinta mereka, Indri entah kenapa berharap itu datang dari lelaki yang ada di ingatan lamanya.


Melodi orkestra yang tiba-tiba dimainkan menyadarkan sang putri dari lamunan kesendirian. Indri menatap tengah aula yang kini mulai diisi oleh para undangan yang berdansa. Dalam pesta topeng itu, para tamu bisa bebas menawarkan dansa pada siapa pun karena pandangan tentang sistem klan dan ras sedang tak berlaku di sini. Justru hal itu membuat Indri gugup. Ia selalu canggung dengan orang di luar Kerajaan Aurum. Perempuan itu celingukan bingung--mencari sang adik yang tak kunjung kembali setelah berjanji mengambil minuman.


"A-Aku--saya bersama adik saya." Kegugupan membuat suara Indri terbata-bata. Ia sedikit beringsut mundur dan menghindari tatapan pria itu. Indri tahu mata itu seperti ingin menelanjanginya.


"Begitukah? Selagi menunggu adikmu,"--pria itu menyorongkan tangan dan tersenyum dikulum--"mau berdansa denganku?"

__ADS_1


Indri selalu sopan pada orang yang lebih tua, maka perempuan itu menjadi kebingungan bagaimana harus menolak. Tangannya meremas gaun. "S-Saya--"


"Nona ini sudah berjanji untuk berdansa denganku."


Lalu suara itu tiba-tiba menyeruak dalam nada tenang dan tanpa emosi, tetapi tetap terdengar tegas dan penuh penekanan. Indri seketika menoleh dan mendapati bahwa sang pemilik suara adalah seorang lelaki Naturalis. Indri sempat terpana oleh penampilan lelaki itu, tetapi ia lebih tertegun oleh sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba muncul. Sebuah deja vu?


Bangsawan tadi menyipit pada Indra. "Kau bukan adiknya, 'kan?" Ia mengangkat dagu angkuh saat menyadari fisik Indra secara keseluruhan. Pria itu menyeringai tipis seraya mengerling pada Indri sekilas. "Kalau begitu, setelah kau, aku akan mengajak nona ini berdansa."


"Tapi nona ini sudah berjanji menemaniku sampai akhir acara," imbuh Indra datar, bahkan sebelum Indri sempat memikirkan jawaban. Bahkan tanpa aba-aba, ia menggenggam tangan perempuan itu perlahan. "Keberatan, Tuan?"


Melihat Indri yang tak membantah bahkan seperti beringsut ke dekat Indra, bangsawan tadi seketika bungkam dengan wajah jengkel. Ia memancangkan tatapan pada Indri--seperti mengingatkan diri untuk tidak melepasnya di lain waktu--sebelum kemudian beranjak pergi.


Hening canggung terjadi.

__ADS_1


"A-Anu," mulai Indri gugup. Ia tak terbiasa menghadapi orang asing, plus Indra masih menggenggam tangannya. "... terima kasih, Tuan."


"Dia tak akan mengganggumu jika kau tak malah diam di sini." Betapa lancar Indra mengatakan itu seolah bicara dengan teman. Tangannya menggenggam tangan Indri lebih erat. "Berdansalah denganku."


__ADS_2