Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
51 (last pt)


__ADS_3

Masih situasi yang sama di mana Indra menariknya pergi dari tempat acara selepas dansa mereka. Namun, Indri sudah paham karakter lelaki itu dan bisa berkesimpulan: Indra memang tidak suka menjadi pusat perhatian lama-lama. Maka wajar ketika lelaki itu kembali mengajaknya ke sisi lain tempat acara yang sepi. Kali itu, Indri diajak ke lantai dua pada bangunan yang ternyata ada di dalam pohon raksasa dekat alun-alun. Bangunan itu seperti kedai yang sedang sengaja dikosongkan, entah karena adanya acara penting di alun-alun atau Indra yang memerintahkan itu. Mereka tiba di lantai dua yang tanpa atap dan berdiri di dekat pagar kayu sehingga bisa melihat lanskap negeri yang dihiasi lentera-lentera.


"Negerimu indah," puji Indri spontan. Itu salah satu ungkapan yang ingin dikatakannya ketika sudah bertemu Indra. Perempuan itu menatap pemandangan di hadapannya. "Aku menyukai dan mengidamkan negeri seperti ini sejak lama. Kau harus menjaga dan melindungi negerimu. Kalian sudah banyak diberkahi kekayaan alam dan anugerah."


Itu membuat Indra sedikit penasaran tentang rupa Kerajaan Aurum. "Aku juga mencintai negeri ini." Lelaki itu menumpukan kedua tangan pada pagar kayu dan menatap ke seluruh penjuru negeri yang masuk dalam pandangannya. "Dan seperti yang kau tahu, aku terus berusaha dalam berbagai bidang untuk bisa memimpin negeri ini kelak."


Indri tercenung. Ia menatap Indra agak lama, berusaha mencari emosi tersembunyi di mata lelaki itu. Agak sulit karena hanya ada satu lentera di lantai dua itu dan agak jauh dari tempat mereka. "Indra ... apakah tidak apa-apa jika kita terus seperti ini?”


Indra bergeming. Matanya masih menatap seisi negeri. "Maksudmu tentang perang dingin?"


Nada bicara Indra agak beda dari biasanya dan terdengar tertahan, tetapi Indri tetap lanjut mencurahkan isi pikirannya. "Kita ... berasal dari klan dan kerajaan yang berbeda, sedangkan kerajaan kita juga masih perang dingin, begitu pun dengan kerajaan lain. Jika aku, Putri Mahkota Kerajaan Aurum, terus bersamamu yang notabene rakyat Kerajaan Naturalis ... tidakkah itu membuat kerajaan kita salah paham?"


"Salah paham bagaimana?" Indra berdiri tegak dan menatap perempuan itu lurus-lurus. Ada sirat emosi di matanya. "Apa kepentingan mereka mengarahkan keputusan kita?"


"Tentu saja penting--aku adalah Putri Mahkota," tegas Indri tertahan. Ia tak suka membahas ini. Hatinya sakit. "Setiap keputusan dan tindakanku ... akan sangat rawan bagi negeriku. Aku mencintai rakyatku, begitu pula sebaliknya. Aku hanya takut ... jika aku terus memaksa diri ingin bersamamu ... itu berefek pada entah apa reaksi rakyat dan kerajaanku nantinya. Aku juga mencemaskan keluarga dan orang-orang terdekatmu. Bagaimana jika mereka ikut terlibat hanya karena hubungan kita? Mereka tak seharusnya terlibat dalam keputusan sepihak kita. Lebih dari itu, kerajaanmu dan kerajaanku pasti tak akan diam. Dalam keadaan perang dingin ini ... kerajaan kita sangat rawan berperang--"


"Bagaimana kalau aku ingin kerajaan kita bersekutu, tepatnya bersatu?" bisik Indra penuh penekanan. "Dengan hubungan kita yang menjadi simbolnya?"


Indri merasakan wajahnya memanas cepat, tetapi ia segera menegaskan, "Dan bagaimana kau mewujudkannya? Sebuah persekutuan tak bisa serta-merta dibuat. Rakyat harus setuju. Pihak kerajaan harus diyakinkan. Kontrak harus dipikirkan--"

__ADS_1


"Kau dan aku sudah cukup untuk menciptakan persekutuan itu," desis Indra rendah dan serius. "Kontraknya adalah pernikahan kita."


Wajahnya serasa terbakar. Indri hampir ternganga oleh deklarasi yang diucap tanpa tedeng aling itu. Beberapa detik lamanya ia membekap mulut dan memandang Indra terkaget, tetapi lelaki itu masih balas menatapnya teguh dan dalam. Indri buru-buru memalingkan wajah. "Aku serius, Indra," lirihnya. Matanya entah kenapa ikut memanas. "Aku ... tak sanggup jika harus memilih antara kau ... atau negeriku. Namun, sebagai Putri Mahkota ... aku harus memilih negeriku. Aku tak punya alasan kuat untuk bisa memilihmu--"


"Tapi sebagai Putra Mahkota Kerajaan Naturalis, aku berhak memilih negeriku sekaligus memilihmu--sebagai istriku."


Indri sungguh berharap telinganya memang sedang bermasalah hingga mendengar deklarasi sakral seperti itu sampai tiga kali. Namun, setelah ditunggu, tak kunjung ada tambahan maupun ralat dari Indra. Ia justru mendapati lelaki itu selangkah maju hingga tepat berdiri di hadapannya. Indri mendadak tak berani mendongakkan wajahnya yang kembali memanas, takut berharap. Jantungnya berdebar kencang dalam adukan emosi tak tentu. Indri sampai tak paham apa yang ia rasakan kini--terlalu meledak-ledak hingga ia serasa ingin membenam wajahnya dalam-dalam.


Lantas Indri baru menyadari sesuatu dalam kata-kata Indra. Perempuan itu memberanikan diri mendongak dan masih mendapati sorot mata Indra yang serius dan dalam. "... kau ...?" lirihnya tercengang. "... jadi kau ... adalah ...."


Indra menghela napas pelan. "Kau baru menyadarinya, huh?" bisiknya masam sekaligus geli. "Bahkan setelah berkali-kali kuberi petunjuk di beberapa suratku?"


Indri seketika membekap mulut seiring wajahnya kembali merona dan kali ini adalah yang paling hebat, tetapi Indra menggenggam tangannya lembut--memintanya tidak menutupi wajah. Indri dengan gugup dan terpaksa menjauhkan tangannya. Ia menunduk makin dalam untuk menyembunyikan rona wajah, tetapi tangan Indra yang lain meraba pipinya perlahan, lantas memintanya mendongak. Indri sungguh ingin menolak dan menjauh sebentar dari lelaki itu. Degup jantungnya sudah tak keruan. Namun, Indra berhasil mengangkat wajahnya hingga mereka kembali bertatapan. Indri tak berkedip ketika Indra menggerakkan tangan ke tepi topengnya, lantas lelaki itu melepaskannya perlahan. Kini wajah Indri yang masih merona tak tertutup apa pun--dan itu membuatnya kian merona, terlebih ketika Indra refleks tersenyum lembut.


"Wajahmu ternyata tak jauh beda dari yang dulu," bisik Indra teduh. Lelaki itu sedikit membungkuk dan tersenyum kecil. "Bisa lepaskan topengku juga?"


Indri pun baru ingat bahwa sejak pesta sebelumnya bahkan sejak tiga belas tahun lalu, mereka belum melihat wajah satu sama lain. Jantungnya kembali berdebar ketika membayangkan rupa wajah yang ada di balik topeng burung elang di hadapannya kini. Tentu tak jauh beda dari yang dulu, tapi pastinya menerima tanda-tanda yang menunjukkan kedewasaan dan ciri maskulin khas lelaki. Tangannya bahkan gemetar hanya untuk memegang kedua sisi topeng Indra, lantas melepasnya dengan canggung. Indra ternyata menutup mata untuk memudahkannya. Setelah tak ada lagi yang menutupi wajah Indra, Indri bagai menahan napas oleh rupa wajah lelaki itu yang memiliki rahang tegas, wajah tirus, hidung mancung, dan bibir yang tipis. Semua itu tampak sangat lengkap dan serasi, terlebih ketika Indra perlahan membuka mata beriris hitamnya yang bergaris tajam. Mata itu kemudian menyorot teduh dan dalam langsung ke mata emas Indri.


Keduanya bagai terkunci pada mata satu sama lain. Keduanya bagai tertegun lama selagi menatap rupa wajah satu sama lain. Keduanya merasakan luap perasaan yang membuncah. Debar jantung terdengar cepat sekaligus nyaman.

__ADS_1


Sudah lama sekali pula sejak Indra mengingat rupa wajah perempuan itu. Menatap Indri tanpa halangan apa pun lagi setelah tiga belas tahun lamanya, hatinya menghangat dan perasaannya menguat. Enam tahun lamanya ia memendam rindu dan kinilah akhirnya keinginannya terwujud. Tangannya terulur dan kembali meraba pipi halus Indri yang masih merona, memastikan bahwa ia memang berhadapan dengan Orkhideya. Kedua tangannya merangkum wajah itu hingga bisa merasakan hangat samar khas makhluk hidup. Kembali diamatinya wajah perempuan itu. Terutama pada mata berbentuk kelopak bunga yang beriris madu. Sejak pertama kali melihatnya, Indra telah terpana dan tak bisa mengalihkan pandangan dari Indri. Mulai kini pun, ia tak akan membiarkan mereka berpisah berlama-lama lagi. Indra akan memastikan bahwa kekasih bersuratnya ini tak membuatnya harus menyalurkan perasaan cuma lewat pena bulu dan secarik kertas. Indra sudah muak menahan perasaan, maka lelaki itu mengikuti naluri hatinya. Ia menunduk dan membiarkan perasaan itu tersalur melalui tautan bibir mereka. Dirasakannya Indri yang kembali gugup seperti ciuman pertama mereka, tetapi Indra berhasil menenangkan perempuan itu dengan merengkuh pinggangnya dan menopang tengkuknya, lantas menarik Indri makin dekat untuk didekapnya erat. Mereka baru bertemu dua kali, tetapi perasaan Indra sudah terpendam enam tahun hingga ia tak ingin serta-merta menyudahi momen pribadi mereka ini. Indra tak tahan jika harus berpisah dengan perempuan itu lagi, sedangkan keadaan masih memaksa mereka demikian, maka lelaki itu ingin setidaknya mencurahkan segenap perasaan sekaligus membuat Indri paham tentang betapa kuat perasaannya kini.


Indra merasakan dorongan pelan di bahunya. Indra memahami isyarat itu dan memisahkan tautan bibir mereka setelah sempat mengecupnya. Lelaki itu menatap Indri yang balas menatapnya sayu dan sendu selagi napasnya terengah pelan. Indra sekilas mengecup pipi Indri yang masih merona hebat. "Maaf. Apa aku terlalu memaksamu?" lirihnya lembut.


Indri tak bisa berkata-kata. Sensasi ciuman mereka tadi masih begitu kuat membuatnya lemas. Indri menatap arah lain dan meraba wajahnya. Panas sekali. Ia tak bisa membayangkan seberapa parah rona malunya sekarang. Sekujur tubuhnya juga masih panas. Jantungnya bahkan masih bertalu keras. "... Kau terlalu lama melakukannya," cicitnya kikuk. "Aku ... jadi agak gugup ... membalasmu ...."


"Maaf. Aku hanya tidak tahan." Indra mendekap Indri dan menjatuhkan dagu di bahu perempuan itu. Ia sekilas menghirup manis anggrek. Indra membenam wajah di perpotongan leher Indri dan menghela napas rileks. "... sudah lama sekali aku menunggu momen ini tiba. Enam tahun lamanya."


Indri sudah tak menakar seberapa malu dirinya sekarang. Ia bahkan yakin bahwa degup jantungnya kini ikut dirasakan Indra yang tengah memeluknya erat. Ia juga merasakan detak jantung lelaki itu yang berdebar. "... kenapa?" lirihnya. "Kenapa kau ... sejauh itu padaku ...."


"Karena aku telah mencintaimu. Itu sudah sejak aku membaca surat terakhirmu, Indri."


Mata Indri seketika panas. Air matanya bahkan tumpah dengan cepat. Ia masih ingat persis bahwa isi surat terakhirnya justru adalah curahan hati tentang perasaannya pada lelaki itu--yang ia tulis secara tersirat. Ia ingin bertemu dan bercengkerama secara langsung dengan I. Ia merindukan I. Ia menyayangi I. Ia merasa telah jatuh cinta pada I. Siapa yang menyangka Indra kemudian ikut menyadari perasaannya sendiri?


"Dan karena surat terakhir itu juga, aku menyadari perasaanmu lebih awal. Itu sukses membuatku terus memikirkanmu dan gigih mencarimu. Lalu akhirnya aku menemukanmu," lanjut Indra teduh. "Maaf baru membalas perasaanmu sekarang."


Isak bahagia Indri meluncur. Lengannya benar-benar mendekap Indra erat. Tangisnya teredam di bahu lelaki itu. "... aku mencintaimu, I."


Indra hanya tersenyum lembut dan mengecup tengkuk Indri dalam-dalam. Lengannya semakin erat merengkuh perempuan itu hingga tangannya menyusup di antara urai rambut halus Indri. "Setelah ini, kita akan berpisah lagi, tetapi akan kupastikan ini yang terakhir kalinya. Kembalilah ke negerimu ... dan beberapa hari lagi, tunggu aku datang untuk melamarmu sebagai pengantinku, Indri."

__ADS_1


__ADS_2