Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
35 & 36


__ADS_3

"... Indra?"


Mendongak dari berkas yang sedang ditandatanganinya, Indra tak berkedip melihat Indri yang berdiri di ambang pintu ruang kerja mereka.


Masalahnya, hanya kepala Indri yang menyembul dari balik pintu. Seperti enggan masuk. "Maaf. Aku mengganggumu, ya?"


"Tidak." Indra mengistirahatkan pulpennya dan tersenyum tipis. "Kenapa diam di situ? Masuk saja. Ada masalah apa?"


Indri pun melangkah masuk dengan kaku. Kedua tangannya terlipat ke belakang. Arah tatapannya lebih banyak menuju karpet ruangan. Ia tiba di depan meja Indra dan canggung bertanya, "... Anu ... apa kau suka aroma bebungaan? Atau semacamnya?"


Indra kembali tak berkedip. Tidak mengerti. "Hah?"


Indri sontak gelagapan dan menghindari tatapan Indra. "Aku hanya bertanya. Apa kau suka menghirup aroma bunga? Sama seperti kesukaanmu pada teh hitam?"


Rasanya seperti ada pertanda dari pertanyaan itu, tetapi Indra belum sepenuhnya peka. "... lumayan." Ia segera menambah, "ingat kebun mawar di belakang rumahku dulu? Karena itu juga."


Indri mengangguk-angguk kambang. Ia cepat-cepat tersenyum. "Begitu." Ia bersiap pergi. "Lanjutkan saja pekerjaanmu. Maaf mengganggu--"

__ADS_1


"Tunggu." Makin penasaran, Indra langsung bangkit dan menghampiri Indri. "Kau menyembunyikan apa, sih?"


Indri pun tak sempat menghindar ketika sebelah lengannya ditarik keluar oleh Indra. Benda yang disembunyikan di tangan pun langsung terlihat.


Giliran Indra yang terbungkam kaku.


"Aku menemukannya ... di jubahmu," ungkap Indri gugup. Wanita itu segera menyerahkan benda itu pada Indra. "M-Maaf! Aku tidak bermaksud mengusik barang-barangmu--"


Indra justru menahan benda itu tetap di tangan Indri. Mengabaikan bahwa salah satu rahasia memalukannya sudah dibongkar oleh sang istri, lelaki itu mendesis teduh, "Kau tahu kenapa aku selalu membawa ini?"


Indri pun mendongak, tetapi yang didapati adalah Indra yang langsung berbisik di telinganya.


Hanya bisa merona, Indri pun tak mempermasalahkannya lagi--kenapa bisa ada awetan bunga anggrek yang tersambung dengan rantai saku pada jas Indra.


***


Pertama kalinya, Indri melihat Indra pulang dengan wajah begitu masam dan jengkel.

__ADS_1


"Mereka tidak becus bekerja. Sudah kukatakan untuk segera mengurus bahan presentasi, tetapi masih banyak yang kurang." Tak hentinya Indra meracau kesal. Lelaki itu sampai rebah di ranjang--masih dengan setelan jas lengkap--saking lelahnya. "Belum lagi beberapa peserta diskusi yang benar-benar ingin kutempeleng. Kata-kata mereka sungguh menyebalkan. Sopan santun macam apa yang diajarkan pada mereka?"


Indri duduk di sebelah lelaki itu dan hanya bisa tersenyum meringis. Indra belum pernah secerewet ini saking jengkelnya. "Kau sudah melakukan yang seharusnya. Mungkin mereka tidak sengaja."


"Pasti sengaja. Aku tidak peduli jika mereka tidak suka padaku--tetapi jangan sampai ikut-ikutan merepotkanku." Indra mengembuskan napas kasar dan kesal. Sebelah lengannya menutup separuh wajah. "Astaga. Semua ini harusnya selesai dalam sehari. Mereka mengacaukan semuanya. Hancur semuanya. Tidakkah mereka paham betapa sulit aku merancangnya?"


Gerutuan Indra semakin tidak jelas dan seperti bicara pada diri sendiri.


Indri pun simpati. Ia mengusap lengan Indra perlahan. "Kau sebaiknya tidur," pintanya lembut.


Usapan itu pun membungkam Indra. Perlahan menunjukkan kembali wajah kusutnya, lelaki itu menatap Indri sejenak. "Sayang," panggilnya lelah, "berbaringlah di sebelahku."


Indri nyaris terdiam kikuk. Indra amat jarang memanggilnya ‘Sayang’. Sekali itu terjadi, Indra sedang memohon dengan tulus. Wanita itu pun ikut merebah di sebelah Indra.


Langsung beringsut mendekat, Indra merengkuh pinggang Indri dari samping dan menenggelamkan wajah di bahu wanita itu. Indra seketika bernapas lebih rileks. Tak ada lagi racauan dan gerutuan. Lelaki itu sepenuhnya tenang.


Indri seperti bisa mendengar detak jantung mereka dalam hening kamar itu. Terutama jantungnya yang berdebar nyaman. Sebelah tangannya mengusap kepala Indra perlahan.

__ADS_1


Indra pun mengeratkan rengkuhan. "Sudah kuduga," lirihnya. "Hanya kau yang bisa menyembuhkanku."


__ADS_2