Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
13 & 14


__ADS_3

Ini bukan pertama kalinya mereka pergi jalan-jalan menikmati pusat kota yang selalu penuh hiburan tiap akhir pekan. Namun, ini adalah pertama kalinya mereka menyaksikan sebuah opera terbuka. Opera itu diadakan di sebuah arena berbentuk setengah lingkaran. Tribune tangga ada di sepanjang lingkarnya dengan panggung ada di bagian bawah depan. Itu membuat orang-orang yang lewat bisa sekadar melihat sambil berdiri santai di puncak tribune.


Mereka sendiri juga duduk di tangga tertinggi. Mereka sama sekali tak berencana mampir ke situ dan hanya ingin sekadar istirahat--sekaligus memperhatikan hiburan apa yang disuguhkan di situ. Ternyata cuma opera yang mempertunjukkan beberapa dongeng terkenal, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk mengundang atensi anak-anak. Jadilah yang mendominasi tribune saat itu adalah keluarga-keluarga yang juga sedang berekreasi dengan anak-anak mereka yang antusias menonton. Lentera-lentera yang ada saat itu hanya ditempatkan di sekitar panggung hingga bagian tribune hanya disinari oleh sisa berkas cahayanya maupun oleh lentera-lentera yang menggantung di tali dekorasi yang menyambung antar bangunan.


"Aku baru tahu dongeng ini punya banyak versi." Itu adalah komentar ke sekian Indri sejak beberapa belas menit mereka di sana. Perempuan itu memang kadang sering berkomentar spontan dan penuh takjub selagi pandangannya tak lepas dari panggung. Senyumnya tak pernah luntur sejak mereka duduk di sana. Perempuan itu sempat tertawa geli oleh sebuah adegan. "Anak itu menggemaskan sekali. Dia cocok dengan peran peternak. Atau dia memang sering menggembala?"


Sama seperti sebelum-sebelumnya, komentar Indra terhadap celoteh sang tunangan hanya berupa gumam pelan--entah menyetujui atau apa. Lelaki itu tak pernah berkomentar lebih, seolah-olah tak benar-benar menikmati opera. Namun, Indri tak merasa masalah dengan itu karena opera di bawah sana sudah sangat menarik perhatiannya. Indri bahkan kadang ikut tertawa lepas dan bereaksi sangat ekspresif sebagaimana penonton lain di tempat itu.


Sejam kemudian, opera itu tamat dengan meriah. Sekembali memberikan uang bersama penonton lain, fokus Indri masih pada akhir opera yang sangat mengesankannya. "Aku benar-benar tak menduga akhir dari versi wilayah timur--bahkan lebih bagus dari versi yang kuketahui! Jalan ceritanya juga lebih kompleks, tetapi entah kenapa masih mudah dicerna. Itu dongeng yang luar biasa. Bagaimana menurutmu, Indra?"

__ADS_1


Justru memandang balik perempuan itu agak lama, dengan wajah tanpa kesan sama sekali, lantas Indra menanggapi, "Bagus."


Indri menatap lelaki itu tak berkedip. Ia mengerjap sekaligus tersenyum geli. "Kau menonton dari awal sampai akhir? Atau tidak? Kau tidak suka opera? Maaf, aku malah mengajakmu ke sini--"


"Aku sudah pernah baca semua versi dongeng itu." Indra menggamit tangan perempuan itu lembut. "Ayo. Saatnya pulang."


***


Ada satu kebiasaan yang kadang suka mereka lakukan di keseharian.

__ADS_1


Salah satunya hari ini. Hujan melanda di luar sana. Itu membuat Indri lebih betah duduk di karpet ruang kerja yang lembut dan berwarna biru tua. Perempuan itu bersandar nyaman pada rak buku di belakang sembari meluruskan kaki dengan sebuah perkamen sastra di atas paha yang sedang dibacanya. Syal tenun yang lebar menyelimuti tubuhnya--ia disuruh mengenakan itu oleh sang suami walau merasa tak kedinginan. Di sisi lain ruangan, Indra masih fokus mengurus pekerjaannya di meja kerja. Ruangan itu senyap beberapa puluh menit lamanya dan hanya diisi melodi hujan yang monoton.


Tak lama berselang, Indra menyandarkan seluruh beban tubuh di kursi dan mendesah lelah. Pekerjaan yang belum selesai pun ditunda dan dijauhi. Lelaki itu berjalan mendekat ke Indri yang seketika mendongak. Mendapati Indra yang duduk di sebelahnya, Indri seketika paham dan menyingkirkan perkamen dari pangkuannya agar Indra bisa merebahkan kepala di sana. Selagi Indri beralih meletakkan perkamen di sisi tubuhnya yang lain tanpa berhenti membaca isinya, satu tangannya yang bebas lantas mengusap kepala sekaligus surai halus Indra dengan lembut. Indra menjadi rileks dengan cepat dan memejam damai, bahkan tertidur tak lama kemudian.


Di lain hari, ketika Indri mulai memaksakan diri melanjutkan pekerjaannya ataupun saat menunjukkan tanda-tanda lelah, Indra akan memaksa perempuan itu berhenti pula dan menyuruhnya ke karpet. Indri selalu paham isyarat itu dan merebahkan kepala di pangkuan Indra--walau ia menolak pun, Indra pasti akan menuntunnya merebah. Indri tak bisa langsung tidur dengan cara seperti itu, maka Indra coba merilekskannya dengan berbincang tentang berbagai hal yang ringan dan hangat bagi mereka berdua. Selagi mengobrol dalam suara rendah dan halus seperti itu, Indri kadang berbaring telentang hingga mereka leluasa bertatapan, kadang menolak menatap Indra jika topik yang dibicarakan membuat perempuan itu malu. Dengan sendirinya, setelah larut dalam ketenangan dan kedekatan itu, Indri menjadi nyaman dan damai dalam pangkuan Indra, lantas tertidur lelap selagi kepalanya dibelai lembut oleh tangan lelaki itu.


Jika salah satu dari mereka sedang tidak bisa meluruskan kaki, misalnya saat Indri sedang menenun atau Indra sedang merakit robot--itu menjadi hobi barunya akhir-akhir ini--mereka akan merebahkan kepala di bahu atau bersandar di punggung pasangan. Itu membuat mereka tidak tidur karena pekerjaan pasangan bisa terganggu hanya untuk menopang satu sama lain, tetapi itu sudah terganti dengan obrolan ringan dan rendah yang mereka lakukan. Selagi memperhatikan bagaimana tangan Indri menenun, Indra mengistirahatkan kepala pada bahu Indri dan ikut bersandar pada rak buku bersama perempuan itu, lantas berbincang pelan tentang bermacam hal. Di lain waktu pula, selagi menyandarkan tubuh pada punggung Indra hingga bisa merasakan pergerakan samar dari otot-otot lelaki itu sepanjang merakit robot, Indri juga akan memulai berbagai topik, kadang Indra yang memulai duluan.


Hanya dengan bersandar pada satu sama lain dan berbincang ringan, itu selalu membuat mereka teramat nyaman dan hangat.

__ADS_1


__ADS_2