![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indri tersentak bangun ketika suara ledak bergemuruh menyeruak dari langit. Untuk beberapa saat, ia mengumpulkan kesadaran. Matanya sedang tepat menatap pintu balkon kamar yang terbuat dari kaca dan sedang tertutup tirai pintu. Perempuan itu kembali berjengit pelan ketika cahaya terang menyeruak serta berkelebat lagi dan menembus pintu sekaligus kain tirai. Sekelebat cahaya itu lalu disusul guntur hebat yang ikut menggetarkan kaca balkon, bahkan getarannya seperti merambat dan merasuk dalam diri Indri hingga menggetarkan jantungnya.
Indri mengernyit keruh. Ia tidak takut petir, tetapi ia selalu merasa tidak nyaman oleh petir alam seperti itu. Ia tidak suka dikejutkan cahaya dan geledek seperti itu. Guntur berikutnya kembali mengejutkannya. Itu membuat Indri kembali tersentak kecil, lantas menyadari bahwa ternyata ada lengan yang sedang mendekapnya hangat dari belakang. Sang pemilik lengan itu ternyata tak terusik oleh petir dan tetap lelap.
Indri tidak bisa tidur dengan penampakan petir di hadapannya. Perempuan itu perlahan membalikkan badan, lantas menenggelamkan wajah ke dada sang suami.
Indra agak terusik dengan pergerakan itu dan membuka mata. Ia mengerjap-ngerjap dalam kantuk dan bertanya-tanya mendapati Indri yang sedang memeluknya erat, plus menyembunyikan wajah seperti sedang takut melihat sesuatu. "... ada apa?" lirihnya serak. Tangannya mengusap bahu Indri. "Kau mimpi buruk?"
__ADS_1
Pertanyaan itu langsung dijawab geledek yang lebih keras dari sebelumnya. Indra sedikit terkejut dibuatnya, lantas tertegun mendapati Indri yang membenamkan wajah lebih dalam saat geledek itu terjadi. Indra pun mengerti. Lelaki itu menarik selimut lebih tinggi hingga yang tersisa hanya separuh kepala Indri, mengecup pucuk kepala perempuan itu dan mendesis menenangkan, lantas kembali lelap dengan lengan membawa Indri lebih dekat padanya. Kebetulan, sudah mulai hujan di luar sana yang berangsur menjadi badai petir semalaman. Itu membuat udara mendingin drastis, tetapi Indri sudah merasa cukup dengan selimut tebal yang menutupi hampir sekujur tubuhnya itu, plus hangat tubuh Indra yang bisa dirasakannya sangat jelas hanya dengan membenam wajah ke dada lelaki itu.
***
Mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam, segala sesuatu menjadi lebih canggung dari biasanya. Siang itu, setelah selesai mencuci kasur yang kotor dan duduk bersebelahan di teras belakang, mereka cuma diam dan terus menatap kain putih yang telah terbentang di bawah terpa matahari dan berkibar pelan oleh angin. Ingin mereka mulai obrolan, tetapi tak tahu harus mulai dari mana. Indri dengan kikuknya dan Indra dengan kakunya.
Indra pun menemukan solusi sekalian memberanikan diri bersuara. "Ayo ke ruang kerja. Kau mengantuk juga, 'kan?"
__ADS_1
Memang benar. Karpet di ruang kerja masih bisa digunakan, maka dengan memanfaatkan bantal cadangan mereka merebah di situ. Jendela di atas rak tepat di belakang kepala sedang terbuka dan mengirim angin sepoi yang sejuk. Keduanya berbaring bersebelahan dan seketika mendesah rileks. Dalam pada itu, Indra memutuskan untuk berbaring menyamping hingga bisa leluasa menatap Indri yang berbaring telentang.
Indri menyadari tindakan lelaki itu dan tambah kikuk saat Indra justru menatapnya tak berkedip. "... kenapa?"
Entah karena mulai mengantuk, Indra tersenyum teduh dan berbisik, "Aku tak akan menyentuhmu secara tiba-tiba. Tidak perlu takut, Indri."
Justru dari ucapan penenangan itu, Indri memberanikan diri ikut menyamping dan beringsut menenggelamkan diri ke dada lelaki itu serta merengkuhnya malas. Suaranya mencicit gugup. "... aku malah jadi semakin ingin di dekatmu."
__ADS_1
Tindakan itu sudah lebih dari cukup untuk menghangatkan dan mendamaikan Indra. Sekilas mengecup pucuk kepala Indri, ia balas merengkuh pinggang perempuan itu hangat. Begitu saja, mereka berdua bisa kembali lelap sedekat ini.