![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
"Jadi ... tak terasa kalian sudah sejauh ini."
"... benar."
"Aku tak akan menuntut banyak. Kalian punya semua hak untuk bahagia. Entah ingin tinggal di sini atau di kota lain, itu terserah kalian."
"Terima kasih. Kami sudah mempertimbangkannya."
"Meski begitu, sering-seringlah mampir."
"Tentu."
"Dia sangat menyukai alam bebas. Dari dulu aku sudah tahu itu. Ia bahkan mungkin akan mempertimbangkan tinggal di dekat hutan. Pasanglah mata selalu padanya atau dia bisa terlalu asyik."
"Saya pikir saya akan membiarkannya. Saya tak masalah jika itu membuatnya bahagia."
"Haha. Aku sudah menduganya. Hati-hati jika cucuku mengikutinya ke mana-mana."
"... ehm. Tentu."
"Dia suka bermacam makanan, utamanya yang manis dan pernah berhari-hari hanya ingin memakan yang manis. Dia suka kebablasan jika sudah tertarik dengan sesuatu. Dia kadang suka tenggelam dalam hal lain daripada mengurus diri sendiri. Pantau pola hidupnya. Aku ingin dia lebih menikmati hidupnya."
"Pasti saya lakukan."
"Apakah dia sungguh-sungguh ingin menjadi guru? Itu di luar dugaanku, tetapi sangat bagus untuknya. Dia suka anak-anak. Itu juga bagus ketika ia memiliki anak kelak. Bantulah dia saat itu tiba."
"... tentu."
"Emosinya kadang tak bisa ditebak. Ia bisa sangat serius dan tekun dalam bekerja, antusias dan gembira saat menemukan hal menarik, dan tiba-tiba terpuruk dan putus asa saat melakukan kesalahan. Dia terlihat tegar, tetapi hatinya rapuh. Masih butuh sokongan. Kaulah yang bisa menetralisirnya. Jaga perasaannya. Tata hatinya. Dia sangat membutuhkanmu dan aku tahu kau juga."
"...."
"Kalian saling melengkapi. Hanya tinggal selangkah menuju itu. Sekarang, aku tanya ini sebagai ayah. Maka kau juga harus menjawabnya sebagai calon menantu. Sekali lagi, apa kau yakin?"
"... sangat."
"Sanggupkah? Beranikah kau bersumpah untuk itu?"
"Atas nama leluhur-leluhur saya."
__ADS_1
"Dan apa kau juga yakin bahwa dia menginginkan hal yang sama?"
"Sangat dan tak akan pernah ragu."
"Karena kau tahu sifatnya? Tahu bahwa ia tak akan menolak? Atau karena dia yang paling mempedulikanmu hingga ia tak akan bisa mengabaikanmu?"
"Karena saya mencintainya."
"Dan kenapa kau mencintainya?"
"Karena dia telah mempedulikan saya."
"Hanya itu?"
"Dan saya ... ingin membahagiakannya."
"Kau yakin dia juga mencintaimu?"
"Melebihi apa pun."
"Kenapa kau yakin?"
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika dia meragukanmu? Menemukan orang lain yang lebih baik darimu?"
"Saya akan meyakinkannya. Walau dengan segala cara."
"Jadi itu termasuk kekerasan?"
"Saya ingin menjaganya, maka saya tak akan pernah mau menyakitinya."
"Bagaimana jika dia yang menyakitimu?"
"Saya terima, lalu saya akan meyakinkannya lagi."
"Mau sampai kapan kau meyakinkannya?"
"Sampai dia mempercayai saya dan hingga batas kemampuan saya."
"Dan kenapa kau rela sampai sejauh itu?"
__ADS_1
"Karena hanya dia yang saya miliki dan cintai."
"Lalu jika dia tak mencintaimu lagi?"
"Saya akan kembali membuatnya memahami perasaan saya."
"Kenapa kau tak melepasnya?"
"Karena dia membutuhkan saya dan hanya saya yang memahami semua yang ada dalam dirinya.”
"Dari mana kau tahu?"
"Karena kami saling mencintai."
"..."
"..."
"Haha! Baiklah. Aku menyerah. Aku sering disebut keras kepala, tetapi kau lebih keras kepala lagi."
"... maaf jika--"
"Tidak ada kata yang salah. Semua yang kau katakan sudah sepantasnya. Lebih dari yang kuharapkan. Bagus. Kau sangat memuaskan."
"... terima kasih."
"Dengan begini ... aku tak punya alasan lagi untuk menahanmu."
"... Pak ...."
"Ayah. Mulai sekarang aku adalah ayahmu. Dan dia menjadi milikmu."
"...."
"Selamat, Indra. Aku merestui kalian."
Di balkon rumah yang menghadap ke langit senja itu, Indra tak sungkan membalas pelukan hangat sang calon mertua, berterimakasih atas pernyataan singkat pria itu yang akan mengubah hidupnya berpuluh-puluh tahun ke depan. Senyumnya terukir lepas dan lelaki itu memejam erat.
Sementara di balik pintu balkon dan mendengar semuanya diam-diam, Indri hanya bisa menangkup wajah yang memerah sempurna. Plus, membendung air mata bahagia yang tak bisa berhenti mengalir.
__ADS_1