Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
28


__ADS_3

Begitu merasakan rintik-rintik air yang menusuk pipi dan hidungnya di tengah perjalanan pulang, Indra menghela napas dan merapatkan syal tenunnya seraya mempercepat langkah. Ia bahkan belum setengah perjalanan ke rumah. Tampaknya ia akan pulang terlambat hari ini. Selagi mencari tempat persinggahan sementara, Indra menelepon sang istri. Selalu, tiada protes dan keberatan dari wanitanya itu. Justru Indra mendapat pesan untuk tidak memaksakan diri segera pulang, atau segera menemukan tempat teduh agar tidak jatuh sakit. Indra tersenyum kecil mendengar kekhawatiran dan kelembutan yang tersemat dalam ucapan itu. Indra hanya mengucapkan terima kasih dan janji untuk segera pulang, serta tambahan singkat seperti 'aku mencintaimu'. Indra langsung memutus komunikasi, diam-diam masih tersenyum kecil karena ia bisa membayangkan reaksi wanita itu.


Tepat ketika Indra memutuskan singgah di sebuah toko peralatan menjahit yang saat itu sedang sepi, hujan sudah turun lebat. Bukan tanpa alasan Indra memilih toko itu. Ada sesuatu yang ingin sekalian dibelinya. Setelah memastikan mantelnya tidak begitu basah, Indra masuk lebih dalam. Ia tidak langsung ke barang tujuan dan sekadar melihat-lihat barang lain di toko itu. Jujur, Indra agak terpukau oleh kain hasil tenun maupun lukis di sana. Corak-coraknya mulai dari cerah hingga elegan. Indra sempat berhenti untuk menyentuh beberapa kain yang memiliki ornamen. Indra juga bisa mengatakan bahwa semua kain itu memiliki corak yang lebih indah dari syal nila-putih miliknya yang memiliki ornamen lebih sederhana. Namun, Indra tetap menyukai syal itu dibanding semua kain tadi, setinggi apa pun kualitasnya. Indra tidak memperhatikan dari segi kualitas, tetapi tentang siapa yang membuat dan memberikan syal itu padanya, serta bagaimana ketulusan sang pembuat. Itu membuat Indra menganggap syal ini lebih mahal dari gabungan semua kain itu.


Indra memutuskan cukup melihat-lihat dan berjalan ke tempat yang dihapalnya. Sebenarnya toko itu memang sudah menjadi langganannya. Seperti sebelum-sebelumnya, ketika sampai di barang tujuan, Indra melihat sebuah meja kayu yang memiliki bilik-bilik berupa kotak-kotak di atasnya. Puluhan gulung benang disusun rapi di dalam setiap bilik dan dibagi berdasarkan warna dasar. Itu membuat keseluruhan benang seperti membentuk formasi pelangi. Jemari Indra meraba dan meniti setiap gulung, menimang-nimang sejenak. Ia sempat tersenyum kecil setiap kali mengingat bagaimana sang istri akan mengolah benang-benang itu menjadi kain yang meski sederhana, tapi akan sangat dihargainya. Lelaki itu kembali memutar momen baru-baru ini yang mengindikasikan keinginan istrinya tentang ini. Indra sudah hapal bahwa wanita itu tidak akan pernah terus terang memintanya membelikan benang tenun. Wanita itu tidak pernah memintai bantuannya meski butuh. Itu membuat Indra harus pintar-pintar menebak keinginan tersiratnya. Indra ingin setidaknya bisa memberikan sesuatu secara cuma-cuma dan rutin, salah satunya seperti barang yang bisa memenuhi hobi wanita kesayangannya itu.


"Minggu lalu, kau membeli warna hijau pucat." Bahkan pemilik toko itu sampai hapal pilihan Indra setiap berkunjung. Nenek itu sungguh gemas setiap kali melihat Indra yang akan berpikir keras setiap memilih warna gulungan benang. Ia dengan sabar menunggu di samping lelaki itu dan sesekali memberikan saran. "Jadi, akhir-akhir ini, Indri ingin membuat apa? Atau ia seperti menginginkan apa?"


Indra pun telah terbiasa curhat pada wanita tua itu setiap kali ia buntu. "Dia sempat berkomentar tentang syalnya yang terlalu pendek." Indra mengetuk-ngetuk telunjuknya pada sembarang gulungan benang, berpikir lama. "Syal, mungkin? Tapi ... warna apa?"

__ADS_1


"Mungkin dia sempat mengomentari syal orang lain?"


Indra terdiam sebentar. Ia ingat sang istri mengatakan itu sambil melirik syal miliknya sekilas dengan tatapan berharap. Indra seketika menjentikkan jari dan berdesir semangat, seperti anak kecil yang baru menemukan pemecahan tentang bagaimana memilih permen kesukaannya. Indra segera mengambil delapan gulungan benang agar syal yang dibuat bisa lebih panjang, lantas menyorongkannya pada sang nenek disertai senyum tipis. "Ini saja."


Hujan sudah reda tepat ketika Indra keluar. Langkahnya menjadi lebih cepat. Selain karena sudah akan petang, ia tak sabar untuk segera memberikan kantung dalam dekapannya. Indra baru tiba di rumah saat langit mulai menggelap. Indra bahkan baru sampai di depan pintu ketika sang istri langsung membuka pintu, seolah tahu bahwa Indra sudah tiba.


Walau keadaan sudah semakin malam dan dingin, hati Indra bagai menghangat karena hal pertama yang menyambutnya adalah senyum lembut perempuan itu. Disertai salam selamat datang yang selalu terdengar merdu baginya. Wanitanya itu sedang mengikat rendah rambut sepunggungnya dan masih memakai celemek abu-abu, pasti masih memasak makan malam saat Indra datang. Perempuan itu juga sedang mengenakan sweater putih dan daster tebal sebetis yang juga putih di baliknya, mungkin merasa dingin karena saat itu baru habis hujan. Itu penampilan yang polos dan sederhana, tetapi Indra tidak pernah mempermasalahkan pakaiannya. Istrinya selalu cocok mengenakan apa pun karena atensi Indra lebih dulu terjerat pada manik yang juga sedang menatapnya dengan hangat. Segala letih Indra bagai menguap habis saat itu juga.


"Kenapa minta maaf? Hujan memang tidak terduga. Aku lebih tidak ingin kau sakit--" Indri mengerjap saat Indra menyodorkan kantung belanja. Indri menerimanya dengan penasaran. "Apa ini? Bahan makanan?" Indri ingin mengintip, tapi sungkan karena belum ada izin dari Indra. "Bukankah persediaan kita masih banyak? Atau ini buku-buku barumu? Tapi kenapa terasa ringan ...?"

__ADS_1


Indra tersenyum kecil melihat tingkah perempuan itu. Ia membungkuk untuk melepas sepatunya. "Buka saja."


Indri pun menyingkap kantung itu dan terdiam kikuk. Tangannya merogoh sebentar untuk meraih salah satu gulungan benang berwarna nila. Ia juga melihat empat gulungan benang lain yang berwarna putih. "Kau selalu membelikanku tanpa bilang-bilang," cicitnya gugup. "Tidak perlu. Sungguh. Aku bisa menangani ini sendiri. Aku malah sudah akan membelinya besok."


Indra sudah hapal jawaban itu. "Tidak. Aku memang ingin membelikanmu. Kau bisa selalu minta bantuanku--jadi katakan saja padaku jika kau ingin membeli sesuatu." Ia beralih melepas sepatu yang lain. "Dan bukankah kau sudah janji untuk tidak mengerjakan semuanya sendirian, hm? Aku tidak suka jika kau tidak mengutarakan apa pun padaku. Kau selalu bisa mengandalkanku."


Dan Indri juga sama hapal dengan semua alasan itu. Ia masih menatap isi kantung dengan sungkan.


"Tidak. Aku tidak merasa direpotkan." Indra kembali mengimbuh tepat saat wanita itu hendak berucap. "Aku tak akan pernah merasa direpotkan karena ini bisa membuatmu senang. Aku memang ingin membelikan itu karena aku ingin kau bahagia." Lelaki itu menepikan sepasang sepatunya ke rak terdekat. "Jadi, jangan pernah merasa kau telah memaksaku."

__ADS_1


Indri akhirnya benar-benar menyerah oleh keras keinginan sang suami. Wanita itu hanya bisa tersenyum geli. "Terima kasih," bisiknya tulus. "Aku suka pilihanmu. Bagaimana kau bisa tahu kalau aku ingin membeli warna ini?"


"Aku hanya perlu melihat tingkahmu dan aku bisa langsung tahu." Indra kembali berdiri tegak, sekalian mendekati perempuan itu. Indra menunduk guna mengecup bibir Indri sebagai balasan salam selamat datang tadi. Lelaki itu tersenyum lembut mendapati wajah kikuk Indri oleh perlakuannya yang tiba-tiba. Indra meraih tangan Indri dan menggenggamnya perlahan, menuntun perempuan itu masuk ke dalam. "Ayo. Di sini semakin dingin. Biar kutaruh kantung itu di mejamu. Aku akan segera berganti untuk membantumu memasak."


__ADS_2