![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indri tak akan membiarkan dirinya kelelahan--Indra meyakini itu.
Tetapi sore itu, sekembali dari penugasan di desa sebagai tenaga pendidik selama sehari penuh, Indri tampak tak fokus. Ia tak bicara maupun tak sedikit pun menatap Indra. Ia langsung masuk kamar dan membersihkan diri. Sampai situ, Indra masih maklum.
Malam tiba, tetapi Indri masih senyap. Wanita itu turun dan duduk di meja makan dengan wajah hampa dan tatapan menerawang--seseorang akan mengiranya sedang masuk mode melamun tingkat akut. Barulah Indra mulai cemas, tetapi masih menunggu Indri sendiri yang melakukan atau mengucapkan sesuatu--Indra hanya tak tahu harus memulai bagaimana. Sepanjang makan malam pun, Indri seolah tak peka pada dunia di sekitarnya dan mengunyah makanan dengan pelan. Wanita itu bahkan balik ke atas lagi saat sudah selesai--biasanya malah akan membantu Indra membereskan peralatan makan.
Saat Indra diam-diam mengamati dari celah pintu ruang kerja, Indri sedang mengeluarkan berkas-berkas di dalam tas yang dibawanya berpergian hari itu. Bahkan Indri masih setengah melamun dan cenderung asal meletakkan semua berkas di atas meja. Itu pemandangan yang sulit dipercaya--mengingat betapa Indri benci melihat meja kerjanya berantakan dengan tumpuk berkas yang belum dipilah. Saat sudah selesai pun, Indri duduk di kursinya dan memandang kosong pada permukaan meja. Itu hampir lima menit.
Saat Indra memutuskan untuk masuk, Indri cuma melirik sekilas seperti melihat orang yang numpang lewat. Saat Indra--pura-pura--mengurus berkas di meja kerjanya, wanita itu masih diam. Saat Indra keliling ke rak-rak buku dan--dengan sengaja--sering lewat di sekitar meja kerja Indri, sekadar lirikan pun tak dilakukan Indri. Malah Indra yang kemudian kehabisan cara.
Indra betulan tak bisa diam sekarang.
Tepat ketika Indri hendak keluar dari ruang kerja dan baru meraih gagang pintu, Indra tahu-tahu sudah ada di belakang wanita itu. Tangannya mencegat tangan Indri memutar gagang pintu, sedangkan lengannya yang lain merengkuh pinggang Indri--menahan wanita itu di tempat. Cukup erat sampai Indra bisa mendengar Indri menahan napas, tetapi tak kunjung ada suara dari wanita itu.
"Ada apa denganmu, Indri?" lirih Indra sendu sekaligus melas. "... kau benar-benar tak bicara sejak pulang."
Gelagat Indri berubah gelagapan seperti ingin kabur. Indra tak akan membiarkan itu lagi, lantas sedikit memaksa Indri berbalik dan mendesaknya mundur hingga punggung wanita itu menempel pada pintu. Indri tepat ada di antara pintu dan Indra.
Indri seketika merona kikuk sekaligus terbungkam kaku. Itu karena wajah Indra yang terlampau dekat, sedangkan lengan lelaki itu juga mengurungnya. Wanita itu canggung mendorong sang suami, memintanya menjauh.
Tapi Indra enggan. Tidak untuk sekarang. "Ada masalah apa?" desaknya sehalus dan sepelan mungkin, tak ingin semakin menyudutkan Indri. "Ceritakan padaku. Aku justru tak bisa diam jika kau terus bungkam."
Indri melebarkan mata sejenak, tetapi ia menggeleng cepat.
__ADS_1
Indra makin cemas dan kesal. Ia menahan tangan Indri yang terus mendorong dadanya. "Kau tak ingin menceritakannya? Maka setidaknya jangan seperti ini. Aku benar-benar bingung dan khawatir."
Sontak menatap Indra terkejut, Indri justru menggeleng makin kuat. Wanita itu bahkan mulai memberontak.
Indra tak tahan lagi dan langsung merengkuh erat tubuh Indri. Sangat erat hingga wanita itu kontan berhenti bergerak dan diam terpaku.
"Aku benci melihatmu seperti ini. Aku ini siapa bagimu? Orang asing? Kenapa kau tak menjawabku juga? Kenapa kau tidak mau mengatakan sesuatu--bahkan sekadar menatapku?" desis Indra bergetar, antara ingin marah sekaligus memohon. Lelaki itu membenam wajah di bahu Indri. "... aku tidak suka terus diabaikan olehmu seperti ini, Indri."
Benar-benar terdiam, Indri hanya bisa menatap terkejut dengan napas tertahan.
Indra menghela napas frustrasi karena Indri tak juga membalas. "Aku benar-benar cemas padamu," bisiknya sendu. Rengkuhannya mengerat. "Sakit sekali ... melihatmu tidak memperhatikanku sedikit pun. Apa ada kesalahan yang tak kusadari? Atau aku pernah menyakitimu tanpa kuingat? Apa aku pernah mengecewakanmu? Apa kau membenciku?"
Indra sedikit lega karena Indri langsung menggeleng kuat, tetapi wanitanya masih tidak bicara juga. Indra masih dilingkupi rasa tertekan. "Lalu kenapa kau seperti ini? Kenapa kau terus diam?" lirihnya lembut sekaligus muram. "Indri, aku bukan orang asing. Aku ... aku suamimu--maka setidaknya jelaskan sesuatu agar aku tak semakin bingung oleh tindakanmu."
Indra nyaris tak tahu apa lagi yang harus dikatakan. "Kau tampaknya memiliki beban pikiran," mulainya pelan. Tangannya mengusap kepala dan punggung Indri perlahan. "Kau tampak sangat lelah dan terus melamun sejak tadi. Apa karena itu?"
Akhirnya, Indri mengangguk.
Indra lebih tenang sekarang, tetapi bungkam Indri yang masih berlanjut terasa sangat mengusiknya. "Katakan sesuatu," bujuknya pelan-pelan.
Lagi-lagi, Indri menggeleng kaku.
Nah. Indra kembali frustrasi sekarang. Ada salah apa dirinya sebenarnya?! "Kau tidak mau mengatakan apa pun?"
__ADS_1
Indri kali itu diam. Seperti ragu untuk mengangguk atau menggeleng.
"Kau tidak seperti biasanya," jujur Indra kecut dan melas. Embus napasnya bahkan terdengar lelah dan memohon. "Apa kau tidak bisa menjelaskan satu pun? Sedikit pun? Indri ... aku sungguh tak ingin kau masih memendam semuanya. Kau selalu bisa mempercayaiku. Kau selalu bisa mengungkap semuanya padaku. Jujur saja ... apa kau belum percaya padaku sepenuhnya?"
Tiba-tiba, Indri memberontak hebat hingga sanggup lolos dari rengkuhan Indra. Wanita itu setengah berlari ke meja kerjanya dan panik mencari kertas serta pena, lantas mengguratkan tulisan dengan buru-buru.
Indra pun tak berkedip. Kecamuk emosinya barusan sukses dilupakan. Ada yang salah di sini. Terutama ketika Indri buru-buru kembali ke hadapannya dan tergesa menyodorkan isi kertas itu tepat ke depan wajahnya. Makin bertanya-tanya saat melihat wajah Indri yang memerah malu, Indra menatap isi kertas itu. Di sana, terdapat satu paragraf:
Suaraku sedang hilang karena tanpa henti menasihati anak-anak di desa tadi! Semua yang kau pikirkan itu tidak benar! Aku tak bermaksud mengabaikan apalagi membencimu! Aku hanya sedang sangat lelah karena memikirkan metode pengajaran terbaik! Jadi tolong jangan salah paham hanya karena aku terus diam! Jangan menyudutkanku seperti itu apalagi sampai memohon-mohon--itu membuatku sama sedih dan sakit! Aku tak akan pernah bisa membencimu! Aku selalu menyayangimu! Aku selalu mencintaimu!
Hening total.
Indri langsung meremas kertas itu. Wanita itu memunggungi Indra dan membekap wajah yang sudah terpanggang dari tadi. Entah sudah seberapa parah rasa malunya sekarang.
Harusnya Indra yang malu. Ia sudah salah paham sampai sedemikian parah, tetapi melihat Indri yang jauh lebih malu, lelaki itu justru merasa bersalah. Maka, setelah menata perasaan, Indra hati-hati merengkuh Indri dari belakang.
Indri tidak kaget, tetapi masih betah membekap wajah dan terdiam kaku.
Indra mau tak mau menahan senyum. Lengannya melingkar penuh dan semakin erat membawa Indri dalam pelukannya. Indra kembali membenam wajah di bahu wanita itu, kali ini lebih rileks. Tangannya mengusap lengan Indri, bantu menenangkan.
Akhirnya, setelah Indri lebih tenang dan mau menunjukkan wajah, Indra baru berani berucap, "... maaf dan terima kasih." Lelaki itu mengecup sisi kepala Indri dan melirih lembut, "Aku juga tak akan bisa membencimu. Aku juga selalu menyayangi dan mencintaimu."
Ketika merasakan genggaman erat Indri pada salah satu tangannya, tanpa ucapan apa pun, Indra seperti langsung tahu jawaban wanita itu: aku juga.
__ADS_1