![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indra tak berkedip.
"Hei. Haloo. Ada apa, Indra?" Indri mengibas-ngibas tangan di depan wajah pemuda itu. Ia tersenyum geli. "Terkejut karena penampilanku?"
Memang benar. Indra sedang menjemput Indri di depan rumah gadis itu seperti biasa. Itu sebelum ia melihat rambut Indri.
Tumben-tumbennya berbeda dari biasa, Indri mengucir tinggi rambutnya dengan pita merah. Memberi kesan tomboi sekaligus anggun padanya.
"Ada tren baru di kalangan siswi," jelasnya setengah tertawa. "Kami mencoba gaya-gaya rambut yang baru."
Indra mengernyit. Tidak paham. "Dan untuk apa?"
Indri justru mengedikkan bahu dan tersenyum kecil. "Hanya membanding-bandingkan mana yang lebih cocok dengan kepribadian kami."
Bagi Indra terlihat tak ada bedanya.
Esoknya, Indra dikejutkan lagi dengan gaya rambut Indri yang kembali baru. Kali itu dijalin satu hingga gadis itu tampak seperti gadis-gadis peternakan di desanya--apalagi jika ditambah bandana. Gaya rambut itu dengan terang-terangan menunjukkan kesan lugu dan sopan khas gadis desa.
"Cukup lama merangkainya." Indri membawa jalinan rambutnya ke depan melalui bahu, lalu meraba dan menimangnya. Ia mendengus geli melihat betapa apik dan rapi hasil jalinannya. "Tapi ternyata cantik juga. Aku suka yang ini."
Sekali lagi, bagi Indra, yang manapun terlihat sama saja.
Tebakan Indra bahwa gaya rambut Indri berubah lagi terbukti benar.
Indri mengucir rambutnya rendah. Hal itu tak pelak membuatnya terlihat sedikit 'laki' jika dipandang dari depan. Bahkan tak sedikit murid yang mengakui bahwa sekilas Indri terlihat tampan.
__ADS_1
Menceritakan itu dalam perjalanan pulang, Indri mengakhiri dengan tawa pelan. "Apakah aku kurang merawat diri hingga mereka mengiraku laki-laki?" Ia melirik kuciran rambutnya yang mengayun seirama dengan langkah riangnya. "Tapi aku paling suka yang ini. Praktis dan sederhana."
Entah kenapa Indra lelah melihat pergantian gaya rambut itu.
Hingga perasaan tidak nyaman Indra itu menguat saat Indri menggunakan gaya rambut yang sama sekali tak terduga.
"Astaga! Kau seperti anak-anak!"
"Ah, manisnya~ Aku ingin mencoba itu besok!"
"Kau yang sekarang kesannya jauh sekali dari yang kemarin-kemarin!"
Menanggapi semua komentar siswi dengan santai dan ceria, Indri tampak menikmati gaya rambutnya yang satu itu. Kala itu jam istirahat dan ia dikerubungi para siswi di depan kelas. Termasuk siswi kelas lain.
Seisi kelas langsung sunyi saat Indra berdiri rusuh hingga menderitkan kursi keras. Pemuda itu berjalan pasti menuju Indri yang juga kaget dan bingung. Diiringi tatapan heran dan bertanya dari murid di sekeliling.
Tanpa ragu, Indra meraih sebelah bahu Indri hingga mereka saling hadap. Kedua tangannya terangkat dan meraih ujung kedua pita cokelat yang telah mengikat rambut Indri menjadi kucir dua. Disaksikan seisi kelas, Indra menarik pita itu hingga ikatannya terlepas. Langsung membuat rambut sepunggung Indri jatuh ke bahu dan tergerai lemas.
Semua orang melongo. Keheningan aneh menyelimuti.
Apalagi Indri. Gadis itu mengerjap-ngerjap kaget. "Indra ...?"
"Yang manapun, menurutku sama saja." Tanpa dosa, Indra menyakukan dua helai pita ke celananya. Ekspresinya tetap datar saat kemudian melanjutkan, "Tapi bagiku lebih baik jika rambutmu tetap tergerai."
Indra pergi begitu saja keluar kelas. Meninggalkan segenap murid yang kian ternganga dan terperangah.
__ADS_1
Indri, pipinya perlahan memanas saat mengetahui maksud Indra, segera meminta ijin. Mengejar Indra yang diketahuinya pasti sedang cemburu.
Seperti yang Indri duga, pemuda itu berdiri bersandar di bawah pohon besar dekat gedung utama sekolah.
Indra cuma menatapnya sekilas, lalu menatap arah lain. "Berhenti mengikuti tren itu."
Indri mengernyit. Kenapa sampai larang-larang begini? "Aku hanya mencoba-coba."
Indra semakin mengalihkan muka. "Kau lebih cantik dengan rambut tergerai."
Wajah Indri memerah dalam sekejap. Indra tak pernah terang-terangan begitu. Ia segera menguasai diri. "... Memang kenapa kalau aku mencoba gaya-gaya baru?"
"Karena ...." Suara Indra memelan hingga lanjutannya tak terdengar.
Indri mengerjap. "Karena ...?"
Indra seketika berdecak dan menatap masam. "Jangan membuat rambutmu seperti barusan lagi. Kau tampak lebih kekanakan."
Indri menyerah dan mendesah pelan. "Baiklah. Aku akan berhenti."
Indra langsung beranjak. Ke kelas lagi. Tentunya setelah memastikan indri menyusul dirinya.
Saat itu, Indri masih belum mengerti alasan Indra. Namun, setelah ia membiarkan rambutnya tergerai seperti biasa di hari-hari berikutnya, Indra tampak lebih betah dan nyaman menatapnya. Hingga Indri pun sadar.
Indra lebih suka rambutnya tergerai.
__ADS_1