Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
47


__ADS_3

Hampir sejam Indri berbaring menyamping dan menatap tak berkedip pada Cahya yang sejak tadi asyik melihat isi buku cerita begambar. Lembut dan tebal karpet membuatnya betah berbaring di tengah hawa sejuk musim hujan, tetapi yang lebih membuatnya betah adalah mengamati tingkah sang buah hati yang lebih menyejukkan hatinya. Beberapa helai rambut yang menjuntai turun segera disisihkan Indri dari wajah agar tak menghalangi pandangannya. Indri juga tak peduli pada rambut sepunggungnya yang tergelar berantakan di permukaan karpet serta kemejanya yang barangkali akan kusut setelah ia bangun nanti. Satu fokusnya hanya pada sang bayi.


Indri sesekali tersenyum geli melihat Cahya yang tampak berpikir keras melihat setiap gambar dalam buku. Padahal itu hanya buku cerita biasa, atau mungkin Cahya memang tidak pernah melihat gambar-gambar itu secara langsung. Sesekali Cahya sibuk sendiri dengan memekik pelan, menepuk-nepuk gambar dengan bersemangat, tertawa lepas, termasuk merengut tidak paham. Indri sungguh gemas mengamati setiap perubahan ekspresinya, bibir mungilnya yang sering tersenyum lebar maupun mengerucut sebal, serta pipi tembem kemerahannya yang makin membulat karena jengkel atau saat tersenyum. Indri ingin sekali mencubit kulit halus nan putih itu, tetapi ia ingin membiarkan bayinya tenggelam dalam dunia sendiri. Indri menyukai tingkah seperti itu. Sama seperti saat ia juga menyukai tingkah suaminya yang asyik sendiri dengan buku.


Baru saja dibicarakan, Indri merasakan getar samar di lantai. Ada sepasang kaki yang melangkah mendekat. "Dia mirip sekali denganmu," celetuknya geli.


"Tapi aku belum membaca buku saat umurku seusianya." Datang dari belakang Indri lantas duduk di sebelah Cahya adalah Indra yang baru selesai mengurus sisa pekerjaannya. Lelaki itu bertopang dagu, mengintip isi buku yang ditekuni bayi mereka. Ia tidak heran, karena memang ialah yang membelikan buku itu. "Dia akan jadi anak penyendiri sepertiku," komentarnya masam dan yakin.


"Jangan begitu. Aku yakin Cahya bisa mengatasinya. Ia akan ... punya banyak teman kelak." Sorot mata Indri menyendu tanpa mengalihkan pandangan dari sang anak. "Meski begitu, Cahya akan kuat dan mampu menghadapi hidupnya."


Beberapa detik, Indra mengamati kecamuk emosi di mata perempuan itu hingga ia ikut merasakan sesak yang sama. "Kenapa begitu?"

__ADS_1


"Cahya lebih mirip dirimu daripada aku," kelakar Indri geli, tetapi ia serius. "Dan ... karena itulah, ia akan tangguh dan kuat sepertimu. Cahya akan tetap tegak walau sekeras apa pun rintangan hidupnya." Perempuan itu mengulur tangan, mengelus rambut pendek dan pipi Cahya dengan jemarinya, membuat bayinya mendongak dan menatapnya lugu. Rambut itu memang seperti rambutnya, tetapi bentuk wajah dan iris mata Cahya lebih mirip Indra. Mata Cahya persis Indra, penuh rasa penasaran akan pengetahuan sekaligus keteguhan dalam memandang dan menjalani kehidupan. "Bahkan aku yakin ia akan sangat mirip denganmu saat sudah dewasa," gelinya. "Dia ... akan menjadi laki-laki yang cerdas dan tampan," sambungnya kikuk.


Indra sekilas tersenyum lembut mendengar itu. "Tapi aku yakin karakternya juga mirip denganmu. Ia akan menjadi laki-laki yang menyayangi teman-teman, rakyatnya, dan negerinya. Hatinya akan sama tulus dan lembut sepertimu."


Giliran Indri yang merona malu. "Tapi ia hanya mewarisi bentuk mata dan rambutku. Bukankah anak pertama selalu lebih mirip ... ayahnya?"


"Tapi dengan hati yang akan lebih mirip ibunya." Tanpa merasa perlu melihat maupun mendengar balasan Indri, Indra ikut merebah telentang. Cahya dengan sendirinya melupakan bukunya dan merangkak naik ke dada lelaki itu. Indra hanya tersenyum lembut dan menuntun bayi itu, membiarkan Cahya telungkup di atas dadanya dan mengusap punggung mungil sang anak.


Dalam pada itu, Indra bisa melihat surai lembut Cahya yang diterpa cahaya dari jendela. Surai itu makin berpendar indah. Tangannya yang masih mengusap punggung Cahya juga merasakan betapa ringkih bayi itu, seketika mengingatkannya akan kerapuhan yang sama pada sang istri, mengingatkannya untuk melindungi sang buah hati semampunya untuk saat ini.


"Indra, kenapa kau setuju dengan nama 'Cahya'?"

__ADS_1


Pertanyaan iseng dari Indri itu tidak sedikitpun meluruhkan hangat dan damai hati Indra saat ini. "Bukankah kau yang mengusulkan itu duluan?" Lelaki itu sedikit menoleh pada Indri. "Kau sendiri--apa alasanmu?"


Indri mengamati wajah pulas Cahya sebelum menjawab. "Artinya adalah 'cahaya'. Aku hanya berpikir bahwa ... Cahya, sebagaimana yang akan selalu kuharapkan dan doakan, akan menjadi cahaya untuk semua orang yang tersesat, serta menjadi cahaya untuk kegelapan lain yang tidak bisa kita atasi."


Indra sudah menduga itu dan tersenyum tipis. Ia kembali menatap Cahya. "Alasanku kurang lebih sama."


"Jadi ... kau masih punya alasan lain?"


"Bagiku, Cahya juga seperti cahaya kedua yang membuatku paling bahagia."


Indri mengerjap lugu. "Kedua?"

__ADS_1


"Pertama adalah dirimu."


__ADS_2