Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
20


__ADS_3

Indra pernah mendengar bahwa jika ada orang terdekat yang baru saja lulus dari suatu institusi atau dilantik ke pangkat tertentu, seseorang bisa ikut merayakan keberhasilannya dengan memberi buket bunga. Indra sudah membeli buket berukuran sedang yang dibalut kain satin lembut berwarna perak dengan pita jaring emas. Selagi memilih tempat di belakang auditorium agar tak terlalu mencolok, Indra mengamati seluruh rangkaian acara dan menanti dengan sabar. Salah satu alasannya adalah ketika ia bisa melihat sang istri yang naik ke atas panggung untuk menerima samir dan pangkat resmi sebagai tenaga pendidik yayasan. Seluruh orang yang akan dilantik hari itu mengenakan busana formal, di mana para lelaki mengenakan jas perak dengan ornamen emas, begitu pula para perempuan mengenakan gaun selutut sederhana dengan ornamen emas dengan rambut yang digelung. Indra tersenyum kecil melihat gaun itu sangat cocok dengan istrinya. Ketika pelantikan akhirnya selesai hingga seluruh tenaga pendidik baru itu bisa bertemu kerabat masing-masing yang juga datang membawa buket, Indra justru berjalan ke luar gedung dan menuju taman samping yang sepi. Ia tak suka momennya ada di keramaian. Tak lupa, ia menelepon sang istri--memanggilnya keluar.


Derap kaki terdengar mendekat tak lama kemudian. Ketika Indra menoleh sekaligus menunjukkan buket di tangannya, sang istri sontak melambatkan lari dan menatap buket itu tak percaya. Indra tersenyum tipis dan menyerahkan buket ketika perempuan itu berhenti di hadapannya. "Selamat atas pelantikannya, Indri."


"... terima kasih." Indri kikuk menerima buket yang penuh dengan bunga lili dan mawar putih itu. Jemarinya menelusuri kelopak-kelopak bunga yang lembut. Ia sekilas mengendus dan langsung diserang harum yang amat menenangkan. Perempuan itu menyukainya dan tersenyum tertahan. "Indah sekali. Kau yang meminta kombinasi ini?"


"Tidak juga. Aku tidak tahu bagaimana kombinasi bunga yang bagus. Aku hanya meminta perangkai bunga itu untuk lebih banyak mengisi bunga lili putih dan memakai kain perak." Indra mengedikkan bahu. "Yah ... mungkin warnanya jadi agak monoton dan terlalu polos."

__ADS_1


"Tidak. Ini indah. Sungguh." Indri kembali menghirup aroma buket itu. Kali ini lebih dalam hingga ia memejam hikmat dengan senyum mengembang.


Mata Indra tak sengaja menilai gaun Indri yang ternyata tanpa lengan dan menampakkan bahu putih perempuan itu. Indra kebetulan datang dengan mengenakan mantelnya yang berwarna cokelat tua. Mantel yang sedang disampirkan di lipatan sikunya itu kemudian digunakannya untuk menyelimuti tubuh Indri. "Siapa yang mengurus gaun kalian? Terlalu terbuka," gerutunya.


Indri tertawa gugup. "Aku juga tak begitu menyukainya, tetapi semua setuju dengan model yang ini." Tangannya menarik tepi mantel Indra lebih rapat agar tidak melorot. "Terima kasih. Ini membuatku lebih nyaman."


Kini perhatian Indra teralih juga ke leher putih dan jenjang Indri yang terekspos. Lelaki itu tak ragu menarik lepas hiasan di kepala Indri hingga gelung rambut sang istri terurai dan tergerai di punggung. "Model rambut seperti itu akan membuat lebih banyak lelaki memperhatikanmu," kilahnya saat ditatap kaget oleh Indri. "Dan aku lebih suka kau menggerai rambut." Lelaki itu beralih menautkan tangan mereka. "Ayo cari makan siang."

__ADS_1


Itu sudah beberapa bulan lalu. Indra nyaris lupa karena giliran dirinya yang dibuat sibuk oleh pelatihan dan penempaan militer berturut-turut. Kesempatan Indra bertemu dan menghabiskan waktu bersama Indri bahkan bisa dihitung dengan jari. Lelaki itu tak menyukai kondisi itu, tetapi ia tetap harus berjuang agar selanjutnya, ia bisa lebih dimudahkan dalam menjaga Indri sekaligus melanjutkan keinginan masa kecilnya untuk bergabung dengan angkatan militer. Rindu berusaha diredam dan diganti dengan keyakinan bahwa usahanya akan mendapat bayaran setimpal. Itu berhasil. Indra sukses melewati semua tahap dan menjadi lulusan terbaik. Indra mulai bisa dilantik menjadi pelatih tentara. Pelantikan dirinya bersama belasan orang lainnya juga dihadiri para kerabat yang ingin ikut menyambut keberhasilan mereka.


Indra awalnya tak banyak berharap Indri datang, terlebih karena istrinya itu juga mulai sibuk untuk beradaptasi dengan lingkungan yayasan. Namun, makin sering ia melihat kerabat teman-temannya yang datang, semakin lelaki itu berharap. Hingga sehabis pelantikan selesai, Indra tiba-tiba menerima telepon. Indra langsung pergi ke tempat yang diberitahukan, bahkan hampir berlari. Benarlah. Di bawah pohon di pinggir lapangan yang menjadi tempat pelantikan, Indra menemukan sang istri dalam balutan pakaian dinasnya sebagai tenaga pendidik.


"Kau sangat cocok dengan itu," jujur Indri saat melihat Indra dalam balutan seragam militernya. Perempuan itu menyodorkan buket bunga di tangannya dan tersenyum tulus. "Selamat atas pelantikanmu, Indra."


Indra sejenak tertegun oleh isi buket yang didominasi anggrek bulan dan beberapa mawar putih itu. Indra meraihnya dan merasakan lembut kain satin berwarna perak yang membungkusnya. Indra menghirup aromanya dalam-dalam hingga matanya terpejam dan hidungnya tenggelam di antara bunga-bunga. Itu aroma yang disukainya. Indra seketika tersenyum lembut dan menatap Indri teduh. "Terima kasih. Ini sudah sangat cukup. Aku suka."

__ADS_1


Indri terdiam kikuk karena dugaannya ternyata benar. "Yah ... warnanya sama monoton, sih," kilahnya malu.


"Tidak apa. Aku lebih suka aromanya. Sama seperti aroma tubuhmu."


__ADS_2