![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indra sejak awal sudah merasa ada yang aneh. Memang, ketika ia dan Indri sudah siap berangkat ke hotel untuk menghadiri acara formal perusahaannya, Indra melihat bahwa istrinya itu masih sehat dan baik-baik saja. Atau mungkin polesan riasan tipis Indri mampu menutupi sesuatu yang tidak beres pada perempuan itu. Indra mengingatkan dirinya untuk terus mengawasi sang istri selama acara malam nanti. Apa lagi, gaun formal Indri saat itu tidak begitu tebal untuk melindunginya dari udara dingin.
Dalam sebuah kesempatan dalam acara tersebut, Indra terpaksa menjauh dari Indri sebentar karena para kolega memanggilnya dalam rangka urusan penting. Saat itu, Indri juga sedang berbincang dengan beberapa tamu bersama sang sepupu sehingga Indra merasa tak perlu khawatir jauh-jauh darinya. Setidaknya, sang sepupu bisa dipercaya untuk menjaga istrinya itu.
Akan tetapi, baru beberapa menit Indra bicara dengan para koleganya, lelaki itu mendengar keributan di sisi lain aula. Firasatnya memburuk sehingga Indra sontak berlari ke sana. Kerumunan tamu di sana otomatis membelah saat melihatnya mendekat sehingga Indra bisa melihat apa yang terjadi. Lelaki itu hampir tercekat dibuatnya.
Indri pingsan. Sang sepupu telah sigap menangkap tubuh perempuan itu lantas memangkunya dan mengguncangnya pelan serta memanggil-manggilnya, berusaha menyadarkan sang sepupu. Indra langsung mendekat dan berlutut di depannya. Sang sepupu seketika paham dan menyerahkan tubuh Indri hati-hati.
Betapa tegang dan cemas Indra ketika mengambil alih tubuh itu. Tangannya hampir gemetar saat memangku Indri. Diamatinya, perempuan itu benar-benar pingsan. Napas Indri masih teratur, tetapi wajahnya sedikit pucat. Indra coba mengguncangnya pelan dan menepuk-nepuk pipinya. Tidak ada respons. Apakah Indri selama ini menyembunyikan suatu penyakit darinya?
Kerumunan semakin membelah ketika ayah dan ibu Indri datang mendekat, menyusul di belakang mereka adalah dua saudara Indri. Mereka sempat tak bisa berkata-kata, tetapi sang ibu yang merupakan seorang dokter sigap mendekat dan berlutut di depan Indra, ikut memeriksa putrinya agak lama dan teliti. Bisik-bisik dari kerumunan yang menduga ada yang meracun Indri atau ada penyakit misterius yang diidap sama sekali tak membantu suasana yang telah mencekam.
"Aku perlu memastikan sesuatu," desis sang ibu. Ia segera menatap Indra. "Bawa Indri ke kamar terdekat."
Indra yang kehabisan ide tentang kondisi perempuan itu pun mengangguk cepat. Indra segera menggendong tubuh Indri erat dan menyandarkan kepala sang istri ke bahunya, lantas mengekori sang ratu diiringi tatapan cemas dan tegang seluruh tamu.
__ADS_1
Tidak sulit untuk langsung memesan kamar. Kamar yang mereka dapat sudah yang terdekat. Setelah sang ibu membukakan pintu dan menghidupkan lampu untuknya, Indra segera menemukan ranjang di ruangan itu dan membaringkan Indri di sana. Indra terpaksa menepi untuk memberi ruang pada sang ibu agar leluasa memeriksa Indri, tetapi sang ibu kemudian memintanya untuk tetap ada di dekat Indri.
Sang ibu sekilas menyadari kecemasan Indra. "Tenang, Indra. Aku yakin faktornya tidak sampai sejauh itu. Indri perempuan yang kuat." Sang ibu perlahan memeriksa denyut nadi dan tubuh Indri. Ia sempat meraba bagian tertentu cukup lama, seperti berkonsentrasi melihat apa yang ada di dalamnya.
Indra hanya bisa mengamati semua itu dengan harap-harap cemas. Matanya terus menatap khawatir pada wajah sang istri yang masih agak pucat, berharap penuh bahwa apa pun penyebab kondisi itu bukanlah sesuatu yang bisa menyebabkan Indri pergi darinya ataupun jatuh sakit.
Sang ibu telah selesai, tetapi wanita itu terpaku lama seraya menatap Indri. Perlahan, ia mengusap matanya yang ternyata sedang berkaca-kaca.
Indra semakin bingung dan semakin sulit menahan pikiran negatif. "Bagaimana, Ibu?" bisiknya tertahan dan gemetar.
Indra tidak suka bertele-tele di saat kecemasan dan kebingungannya makin campur aduk. Ini menyangkut keselamatan Indri. Mana bisa dia sabar? "Apa maksud Ibu?
Akan tetapi, penjelasan sang ibu selanjutnya langsung menguapkan semua kecemasan Indra.
***
__ADS_1
Hal terakhir yang diingat Indri adalah pusing dan mual yang mendera sekaligus. Itu cukup mendadak sehingga ia tak bisa mempertahankan kesadaran. Kini, ia mulai memperoleh kesadaran lagi dan merasakan tubuhnya sedang berbaring di ranjang. Indri membuka matanya, terasa agak lemah seolah ia baru saja bangun tidur. Sisa pusing dan mual masih ada, tetapi semua itu entah kenapa lenyap saat Indri mendapati ada seseorang yang sedang duduk di tepi ranjang. Orang itu menautkan tangan mereka erat dan hangat sejak tadi. Orang itu terus menatapnya dengan teduh dan tersenyum begitu lembut. Sejenak, Indri terdiam canggung mendapati lelaki itu yang bahkan hampir tak berkedip menatapnya. "... Indra ...?"
"Bagaimana perasaanmu? Masih pusing dan mual?" Indra menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Indri, lantas beralih mengusap pipinya lembut. "Masih ingin berbaring?"
Indri menjawab itu dengan bangkit terduduk. Indra sigap menopangnya dan menuntunnya duduk, tetapi topangan lelaki itu di pinggangnya tak langsung dilepaskan sehingga rentang jarak di antara mereka begitu pendek. Indri kembali canggung dan beralih mengamati sekitarnya. "Kamar hotel? Kenapa aku di sini? Apa yang terjadi padaku?"
"Kau pingsan. Aku membawamu ke sini atas suruhan Ibu. Ibu juga telah memeriksa kondisimu."
Indri menatap Indra penuh tanya walau pipinya agak menghangat karena jarak wajah mereka yang terbilang dekat sehingga merasakan embus napas satu sama lain. "... memangnya aku kenapa?"
Indra sejenak mengecup kening Indri untuk menyalurkan sebagian luap bahagia dalam dirinya. Indra menjauh hanya beberapa senti. Hanya didengar oleh sang istri, Indra berbisik lembut dan teduh, "... kau hamil."
Satu kata itu mengubah drastis ekspresi Indri. Matanya melebar kaget. Mulutnya lebih ternganga. Cepat sekali, air matanya menggenang dan berjatuhan. Di dalam, sudah tak terukur lagi kadar ledakan perasaan dan bahagianya. "... a ... aku ...?" Gagap, ia meraba perutnya sendiri.
Indra menggenggam tangan itu lembut, lantas meraihnya mendekat dan mencium jemari serta punggung tangannya. Ia merengkuh perempuan itu erat. "Terima kasih. Aku sangat bahagia, Indri."
__ADS_1