Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
18


__ADS_3

Kala itu musim salju sedang puncak-puncaknya. Tak heran jika saat sudah larut malam begini, badai salju masih berlanjut sejak siang tadi. Suhu udara sudah lumayan dingin sejak siang tadi. Kini sudah sangat dingin bahkan terasa membekukan karena larut malam. Maka tidur malam ini pasti akan terasa sangat nyenyak di balik selimut tebal.


Tidak dengan Indra yang belum merasa mengantuk. Badai salju tadi siang malah membuatnya terbuai dan kebablasan tidur hingga lima jam--pertama kali dalam hidupnya, padahal ia tidur siang paling lama hanya satu jam. Indri yang tadi siang juga tidur bersamanya bahkan bisa bangun lebih dini--perempuan itu sengaja tak membangunkannya karena Indra baru bisa mendapat libur setelah berhari-hari lembur. Alhasil, mata Indra malah masih fokus seratus persen pada pukul dua belas malam begini.


Maka Indra menunggu kantuknya selagi membaca buku. Sudah tiga jam ia menekuni buku itu dan telah menghabiskan lima ratus halaman dari total enam ratus halaman. Sudah banyak materi dan ilmu yang dilahapnya. Bukannya menjadi lelah dan mulai mengantuk, pikiran Indra malah semakin aktif. Harusnya ia tahu bahwa otaknya malah akan makin aktif jika disuguhi ilmu-ilmu baru seperti ini. Biarlah. Indra sudah kepalang hanyut pada isi buku itu dan ingin menuntaskannya malam ini juga. Indra malah tambah tidak bisa tidur jika tak membacanya sampai habis.


"... masih belum mengantuk juga?"

__ADS_1


Indra seketika menunduk dan mendapati Indri yang ternyata terbangun oleh gesek kertas buku yang disibaknya. Lelaki itu merasa agak bersalah. Sebelah tangannya kembali mengusap kepala perempuan itu hingga bisa dirasakannya surai emas halus yang terurai. "Maaf membangunkanmu," lirihnya teduh. "Tidurlah lagi. Aku tak akan berisik."


"Kau sendiri?" Indri mengerjap sayu--masih setengah sadar di tengah kantuknya. Plus kamar yang hanya mendapat penerangan dari lampu tidur pada nakas di samping Indra. Jadilah cahaya lentera itu menerpa wajahnya, tetapi ia hanya melihat Indra sebagai siluet dan kurang jelas melihat wajah lelaki itu. "Jangan-jangan kau malah semakin tidak mengantuk?" lanjutnya lembut.


Indra menatap buku di pangkuannya. Lelaki itu merenggangkan tubuh dan bersandar lebih rileks pada bantalnya yang diberdirikan di belakang. Ia sedang duduk di tempat tidur dengan kepala ranjang dan bantal sebagai sandaran. "Entahlah. Aku sangat ingin bisa tidur sekarang. Tapi buku ini membuatku penasaran."


Memang benar bahwa saat itu Indra hanya mengenakan atasan kemeja putih berlengan panjang yang tak cocok untuk cuaca dingin. Lelaki itu justru beralih memerhatikan Indri yang berbaring rapat padanya sejak mereka sudah di atas tempat tidur. Sebelah lengan Indri merengkuh pinggangnya hingga wajah perempuan itu tenggelam di sisi pinggulnya. Itu murni refleks Indri karena kedinginan, walau sebenarnya selimut mereka sudah menghangatkan perempuan itu hingga sebatas bahu. Indri juga sudah diminta Indra memakai sweater abu-abu tebal milik lelaki itu. Sweater itu jelas kebesaran hingga menelan jemari Indri. Ternyata perempuan itu masih belum merasa cukup hangat hingga masih betah merengkuh pinggang Indra. Dilihatnya pula, ujung hidung dan telinga Indri sedikit memerah. Telapak tangan perempuan itu juga memerah oleh beku suhu malam itu.

__ADS_1


Pengamatan itu malah membuat Indra melupakan minatnya pada buku tadi. Lelaki itu pun menutup dan meletakkan bukunya di nakas, sekaligus meredupkan cahaya lampu tidur.


Indri kembali membuka mata saat dirasakannya Indra bergerak lebih banyak. Didapatinya, lelaki itu membaringkan diri dan merapat padanya. Selagi Indra ikut menaikkan selimut sebatas bahunya, Indri tersenyum tipis--tak terlihat karena tertutup kerah sweater. "Cepat sekali selesai. Sudah mengantuk?"


"Jelas belum. Yang lebih penting lagi ...." Indra menggenggam kedua tangan Indri. Benarlah. Dingin di sana seolah tangan Indri baru saja dibenam di air es. Lelaki itu bantu melingkupinya dengan menarik ujung lengan sweater yang memang kebesaran, lantas menempatkan kedua tangan itu tepat di antara mereka selagi lengannya yang lain juga merengkuh punggung Indri erat. Indra ikut mengusap pipi perempuan itu yang juga tampak memerah oleh dingin. Indra menaikkan kerah sweater hingga menyentuh bibir Indri. Terakhir, lelaki itu mendekat lebih rapat dan membawa Indri dalam dekapan hangatnya. Wajah mereka tepat berhadap-hadapan dengan dahi bersentuhan. Napas mereka saling menerpa hangat. "Kau benar-benar dingin," lirihnya sendu.


Sempat merona oleh semua perhatian Indra tadi, Indri menahan senyum geli. Pipinya memerah lagi. Bukan oleh dingin. "Aku tidak apa. Kehadiranmu saja ... sudah menghangatkanku."

__ADS_1


__ADS_2