Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
19


__ADS_3

Indri memang tidak suka cuaca yang terlalu dingin, tetapi kondisi demam ini juga membuatnya tak suka. Suhu tubuhnya terlalu tinggi. Masalahnya, sekarang ia sedang lemas dan tidak punya semangat dalam bergerak. Dan panas tinggi ini membuatnya tidak nyaman. Perempuan itu merapatkan posisi duduk hingga ia makin bungkuk dan setengah memeluk kakinya yang tertekuk. Selimut tebal yang menutupi sekujur tubuhnya semakin dirapatkan karena saat itu sedang hujan lebat. Lengkap sudah semua ketidaknyamanannya. Perempuan itu menoleh ketika pintu kamar berderit pelan. Ia seketika tersenyum tidak enak saat melihat isi nampan yang dibawa sang suami. "Maaf merepotkanmu."


"Hanya membuat cokelat panas sama sekali tidak merepotkan." Indra meletakkan nampan di nakas, lantas hati-hati meraih gelas. Lelaki itu duduk dan beringsut mendekat karena Indri duduk di tepi seberang ranjang. Ia menawarkan gelas itu. "Hati-hati. Masih panas."


Justru karena masih panas, Indri butuh itu untuk menghangatkan telapak tangannya yang agak dingin. Uap yang mengepul makin membuat wajahnya terasa panas hingga ia sempat mengernyit, tetapi aroma lembut cokelat membuatnya rileks. Dengan memegang penuh gelas tersebut dengan kedua tangan, Indri menyesapnya perlahan. Kehangatan yang menjalar di kerongkongan hingga dada malah makin menambah suhu tubuhnya, tetapi itu kehangatan yang menyembuhkan. Indri sejenak menatap cokelat panas itu. Lidahnya sedang mati rasa hingga tak bisa merasakan manis cokelat, tetapi minuman itu tetap mengalir lembut dan menyamankan rongga mulutnya. "Kau menambahkan bahan herbal?"

__ADS_1


"Itu berguna untuk menetralkan suhu tubuh." Indra sejenak meraba pipi perempuan itu, tetapi kurang bisa menangkap panasnya. Ia beringsut mendekat dan meraih belakang kepala Indri untuk menyatukan dahi mereka. Barulah panasnya bisa dideteksi. Memang tak setinggi tadi pagi, tetapi tetap saja. "Mungkin aku harus mencari obat alternatif," gumamnya pada diri sendiri. Lantas Indra terdiam saat melihat wajah Indri yang justru semakin memerah. Seketika tersadar, Indra menjauh. "Maaf," lirihnya lembut.


Indri menggeleng kikuk. Wajahnya masih sulit menetralisir hangat terpa embus napas lelaki itu tadi. Setelah beberapa menit menyesap dan meresapi bahan herbal di minuman itu--selagi Indra menawarkan diri memijat betis dan kakinya untuk membuatnya rileks--Indri akhirnya menjadi lebih baik. Setidaknya ia merasa tak nyaman lagi dengan suhu tubuhnya.


Indri membenarkan itu. Matanya terasa sayu dan redup. Barangkali itu efek bahan herbal dalam cokelat panas tadi. Namun, Indri enggan berbaring. Ia sudah berbaring dari pagi dan itu membuatnya pusing. Indri pun meminta Indra lebih dekat dengannya di mana lelaki itu duduk berlawanan hadap di serong depannya. Begitu saja, Indri menjatuhkan seluruh beban tubuhnya ke depan--bersandar pada dada lelaki itu dengan kepala terkulai di bahunya.

__ADS_1


Indra tak berkedip, tetapi kemudian mengusap kepala dan punggung perempuan itu perlahan. "Kau bisa pegal jika seperti ini," bisiknya.


"Aku lebih mual jika harus berbaring lagi." Indri menegak untuk menatap Indra dengan sungkan. "... apa kau merasa tidak nyaman?"


Menanggapi pertanyaan lugu itu, Indra hanya tersenyum tipis dan menggeser posisi duduknya menjadi bersandar pada kepala ranjang tepat di sebelah Indri, lantas menyilakan perempuan itu duduk di pangkuannya. "Ini akan membuatmu lebih nyaman."

__ADS_1


__ADS_2