![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Kadang, Indri merasa agak payah menjadi ibu rumah tangga. Pasalnya, justru Indra yang lebih banyak tahu tentang hal-hal rumah tangga. Setiap memasak, Indra selalu membantu atau minimal mengajarinya untuk membuat kombinasi bumbu dan bahan yang enak. Setiap membersihkan rumah, Indra selalu menyarankan tentang letak beberapa properti maupun cara membersihkan barang-barang tertentu. Setiap mencuci, Indra selalu memperingatkan tentang jenis-jenis kain yang tak bisa sembarang dicuci atau bahkan tak boleh dicuci. Setiap berkebun, Indra selalu tahu bagaimana merawat tanaman tertentu dan tahu cara memanennya hingga bisa dimanfaatkan. Setiap membeli bahan makanan atau properti baru, Indra selalu menyumbang saran dalam pemilihan kualitas maupun harga.
"Kau tahu banyak hal lebih dari aku," ungkap Indri malu karena pekerjaannya lagi-lagi diambil alih Indra--walau cuma sebentar. Ia terpaksa duduk karena Indra akan selesai sedikit lama. "Lama-lama peran kita seperti menjadi terbalik," candanya dengan senyum dipaksakan.
Indra sekilas melirik perempuan itu tidak mengerti, lantas lanjut mengupas umbi dengan perlahan. "Apa yang kau sayangkan? Apa karena kau kurang tahu banyak tentang rumah tangga?"
"Aku ... merasa seperti menjadi ibu rumah tangga yang gagal." Indri mengalihkan pandangan canggung. "Aku tidak begitu mahir memasak, tidak paham banyak tentang cara membersihkan rumah, tidak tahu hal-hal penting dalam mencuci dan berkebun." Indri tertawa kecil dan dipaksakan. "Aku tak akan heran jika kau ternyata juga lebih banyak tahu dalam mengurus anak."
Indra berhenti mengupas umbi--ia memang sudah selesai--dan menatapnya sejenak seolah merenungi sesuatu. "Kau sama sekali tidak gagal," jujurnya tenang. "Menurutku, kau malah sudah mahir dalam semua hal itu--karena aku juga sudah sering memberitahumu sebelum ini bahkan sebelum kita menikah." Indra berbalik dan berjalan mendekat. Ia menumpukan tangan pada sandaran kursi yang diduduki Indri, lantas membungkuk dan mengecup pucuk kepala perempuan itu perlahan. Senyumnya meneduh. "Terlebih, sekarang, kau sudah menjadi satu-satunya perempuan yang mampu membahagiakanku. Jangan pernah berpikir kau gagal sebagai pendamping hidupku."
Indri agak merona dan menatap lantai kikuk. "Tapi aku ... rasanya seperti menjadi istri yang gagal untukmu."
"Tapi kau sudah menjadi ibu yang sukses. Itu juga menjadikanmu istri yang sukses untukku." Indra setengah berlutut untuk mendapat arah tatapan Indri. Ia menipiskan senyum saat melihat rona malu itu lebih jelas. "Lagi pula, sekarang, aku memang harus lebih sering mengambil alih pekerjaanmu. Kau juga harus lebih banyak istirahat." Lelaki itu memajukan tubuh sejenak untuk mengecup perut Indri yang sudah sedikit buncit, lantas kembali tersenyum. "Kau tak perlu berusaha menjadi sempurna untukku. Kini, kau hanya perlu belajar menjadi ibu yang baik untuk anak kita."
***
__ADS_1
Setelah memastikan sang bayi benar-benar lelap, Indra menghentikan usapannya. Lelaki itu tersenyum kecil karena jari-jarinya masih digenggam erat. Pelan-pelan, Indra melepas genggaman tangan mungil bayi itu yang ternyata lumayan erat. Indra terenyuh. Sebegitu rindukah putra kecilnya itu?
Indra merasa amat bersalah. Maka dikecupnya kepala bayi itu lembut. Sekaligus, bersumpah tak akan menyia-nyiakan sisa waktu dengan sang bayi.
Setelah emosinya kembali tertata, Indra menegak. Lantas berbalik dan melangkah keluar kamar. Ia pun terdiam mendapati Indri yang berdiri di samping pintu.
Indri sedang menunduk hingga wajahnya tak terlihat oleh rambutnya yang terjuntai turun. Jari-jarinya menaut kaku dan tegang. Perempuan itu seperti anak kecil yang baru saja membuat ulah dan berusaha bersiap untuk sesi ceramah.
Sekali lihat saja, Indra tahu sebab muram emosi wanitanya itu. Lelaki itu mendekat dan merengkuh Indri lembut dalam dekapannya. Begitu perlahan seolah Indri memang serapuh itu jika ia sedikit lebih keras. Surai halus dan punggung Indri diusapnya pelan demi menstabilkan emosi wanita itu.
Indri melunak, walau tidak sepenuhnya. Perempuan itu masih kaku seolah mengira Indra akan sesumbar tentang kesalahannya. Indri masih takut membalas pelukannya.
Tak ayal, Indra agak jengkel dan geli juga. "Kau masih memikirkan itu?"
Indri sedikit berjengit. Suaranya mencicit gugup. "A-Aku ... aku sudah melanggar ... janjiku."
__ADS_1
"Baiklah. Aku marah," putus Indra kelewat datar. "Kau masih saja bekerja."
Indri semakin menunduk dalam dekapannya. Lirihannya nyaris tertahan. "... maaf."
"Tapi kau tidak mengabaikan bayi kita."
Indri diam canggung. "Tentu saja."
"Dan itu yang kumaksud. Aku marah, tetapi aku tidak bisa memarahimu. Kalau kau sampai mengabaikannya, mungkin aku betulan marah." Indra tersenyum geli saat dirasakannya Indri semakin meringkuk takut. Lelaki itu membawa Indri lebih rapat dan hangat. Seraya kembali mengelus punggung sang istri, Indra melanjutkan pelan, "Tapi, tetap saja. Jangan memaksakan dirimu juga. Aku tidak ingin kau sakit, apalagi aku tidak bersamamu. Itu jauh lebih membuatku marah."
"M ... maaf."
Indra mendesis lembut seraya menahan senyum. Ia agak kaget juga. Sebegitu menyesalkah Indri pada kesalahannya? "Sudah. Cukup. Melihatmu terus minta maaf membuatku bisa sungguhan marah."
"K-kenapa semua hal bisa membuatmu marah ...."
__ADS_1
"Karena definisi marah bagiku adalah untuk kebahagiaanmu."