Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
4


__ADS_3

Ada kerabat di desa yang akan menikah sehingga Indra sudah seharusnya datang ke pernikahan itu. Namun, ia tidak datang seorang diri ke desa tempat kerabatnya tinggal. Kali ini, Indra datang bersama Indri. Selain karena Indri yang berinisiatif dan ingin mengenal desanta lebih dalam, ini juga keinginan Indra karena ia bisa berada di desa itu sampai berminggu-minggu untuk membantu persiapan. Tentunya, ia tak mau meninggalkan Indri selama itu di tengah liburan panjang kini.


Kedatangan Indri amat disambut baik dan meriah oleh keluarga besar kerabat Indra. Bahkan hari pertama mereka datang, rumah besar itu sudah seperti menyelenggarakan pesta sungguhan dengan menyajikan jamuan mewah dan sambutan formal. Indri tak punya pilihan selain menerima dan menghargai semua itu, sedangkan Indra diam-diam merutuk pada para kerabatnya yang terlalu berlebihan menyambut mereka.


"Ah, aku sungguh merasa bersalah mengatakan ini," ungkap tuan rumah tiba-tiba saat mereka semua berkumpul di ruang keluarga sehabis makan malam, "tapi kerabat mempelai juga akan menginap di rumah ini. Jadi ... saat ini, cuma tersisa satu kamar kosong."


Ekspresi orang-orang di ruangan itu seketika bermacam-macam. Yang dominan adalah wajah melongo, ada pula yang mati-matian menahan senyum.


Indri langsung menangkap maksud tuan rumah. Wajahnya memanas hebat. Namun, belum sempat ia mengutarakan jawaban, Indra membalas dengan tenang.


"Tidak apa." Betapa kalem Indra mengatakan itu. "Apa boleh buat. Saya dan Indri akan menempati kamar itu."


Hampir semua wajah di ruangan itu seketika ternganga dan merona. Ada yang langsung meledakkan tawa dan tersenyum penuh maksud.

__ADS_1


Sayang, Indra merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya dan hanya menatap reaksi mereka dengan heran.


Barulah ketika ia dan Indri memasukkan barang-barang dan hendak tidur, Indra baru paham sepaham-pahamnya. Lelaki itu langsung merutuk. Kenapa ia tidak berpikir sampai ke situ? Indri sudah pasti tidak nyaman dengan ini. Apalagi ... mereka bahkan baru sebatas tunangan.


"T-Tidak apa." Giliran Indri yang mengatakan itu saat Indra hendak bernegosiasi ulang dengan tuan rumah. "Ini juga salahku yang tidak bilang-bilang ingin datang. Mereka pasti mengira hanya kau yang datang sehingga hanya menyisakan satu kamar ...."


Bukan itu masalahnya. "Aku akan tidur di bawah," putus Indra segera, masih merasa bersalah sekaligus bodoh di sini.


Indri sekilas menatap karpet yang menjadi alas kamar itu. Karpet itu bukan jenis yang nyaman dijadikan alas tidur. "Tidak usah," tegasnya gugup. Wajahnya dipalingkan. "Kau ... tidur di atas saja."


"Maksudmu, untuk minggu-minggu berikutnya--kau tidur di bawah?"


Indra terdiam. Benar juga. Tapi masih lebih baik daripada ia tidur di atas! Bisa-bisa ia diamuk kakak Indri jika lelaki itu sampai tahu hal ini. Tidak. Bukan itu yang paling dipikirkannya. Indra hanya takut ... jika ia kelepasan melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Kau harus tidur denganku." Indri ternyata masih keras kepala, tetapi wajahnya sendiri juga merona. "Aku hanya ingin kau tidur dengan layak dan nyaman. Jika kau terus di bawah selama berminggu-minggu, itu malah akan membuatmu tidak tidur nyenyak."


Indra memalingkan wajah. Sejujurnya tidak tahan melihat wajah merona perempuan itu lama-lama. "Itu masih lebih baik," kilahnya pelan dan kaku. "Aku takut aku melakukan sesuatu secara tidak sadar terhadapmu."


"Aku yakin kau tidak akan melakukannya. Tidak akan pernah."


"Tahu dari mana?"


"... kau tidak akan menyakitiku."


Satu kalimat pamungkas itu menyumpal mulut Indra. Ia menatap Indri dan mendapati betapa sungguh-sungguh perempuan itu--walau dengan wajah yang lebih merona manis dari sebelumnya. Indra segera menggeser atensi, sejenak memperhatikan satu ranjang di kamar itu dan menimang-nimang. Indri ada benarnya--meski ia masih tidak yakin. Indra paling tahu bagaimana warna perasaannya pada perempuan itu. "Kalau aku berbuat sesuatu," bisiknya tanpa menggeser tatapan, "kau boleh menghajarku."


Indri seketika menahan senyum geli. "Mungkin aku hanya akan berani menamparmu."

__ADS_1


Meski Indra sempat menduga bahwa perempuan itu justru tidak akan berani memberinya pelajaran--mengingat bahwa Indri bahkan tidak tahan melihatnya terluka--ternyata nada bicara Indri kali itu tidak terdengar ragu. Indri serius dengan ultimatumnya. Indra sedikit lega mendengarnya. Ia tidak keberatan dihajar perempuan itu. Indra menghela napas perlahan, entah kenapa serasa akan berangkat perang. Ia berhasil mengendalikan kegugupan dan menatap sang tunangan dengan teduh. "Kita tidur sekarang?"


__ADS_2