Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
16


__ADS_3

"Indri?"


Agak tersentak, Indri berbalik. Hanya remang yang ia lihat karena cahaya lampu cuma ada di dapur. Sebelah tangannya yang memegang pisau sontak bersiaga.


"Sedang apa pagi-pagi?" Orang bersangkutan akhirnya melangkah keluar dari keremangan--hampir membuat Indri langsung memasang kuda-kuda. Ia keheranan.


Betapa lega Indri saat melihat siapa orang itu. "Astaga ... kau mengejutkanku."


Indra mengerjap tak mengerti. Ia menguap dan mengusap sekilas rambutnya yang berantakan seraya berjalan mendekat. "Kau sedang apa?"


Indri tersadar dan gelagapan berbalik untuk menyembunyikan sesuatu itu, tetapi kepalang terlihat oleh Indra yang tahu-tahu telah tiba tepat di belakangnya. Bayangan tubuh lelaki itu yang hampir menelannya membuat Indri sempat terdiam kaku. Itu sebelum suara Indra kembali menyadarkannya.


"Apa ini?" Masih dengan wajah mengantuk dan mata setengah terbuka, Indra menjulurkan sebelah tangan melalui samping tubuh Indri. Tangan itu mengangkat kotak dari karton tebal hingga tulisan yang tercetak di atasnya terlihat oleh cahaya lampu. Lelaki itu mengernyit. "... Ini paket kue yang Adi pesan kemarin, kan?"


Indri nyaris menahan napas ketika suara Indra yang rendah dan bernada mengantuk itu terdengar sangat jelas di telinganya. Embusan napas lelaki itu menggelitik lehernya. "I-Iya."


"Tidak banyak yang memakan ini kemarin. Lagipula kenapa kau mengeluarkan ini--" Indra tak berkedip melihat benda di tangan Indri. "Untuk apa pisau itu?"


Sudah terlambat untuk mengelak. Amat terpaksa dan malu, Indri melirihkan sesuatu.


"Hm?" Indra tidak jelas mendengar dan memajukan kepala. "Kau bilang apa?"


Nyaris terkaget dengan wajah Indra yang tiba-tiba sudah di sampingnya, Indri buru-buru membuang muka ke samping. "A-Aku tidak tahu ... cara membukanya."


Tidak menyadari gelagat Indri, Indra justru dibuat tak berkedip mendengar jawaban Indri. Lelaki itu menatap kotak kue--memang dilihat sekilas akan sulit mengetahui cara membukanya. Kotak itu tak seperti kotak biasa yang bisa dibuka tutupnya secara vertikal. Jika Indra tak melihat cara Adi membuka kotak itu kemarin, ia juga tak akan tahu caranya sekarang. Indra kemudian melirik pisau di tangan Indri.


Indra tak kuasa menahan dengusan geli.


"Lu-lupakan saja. Aku hanya penasaran." Makin malu saat mendengar reaksi Indra, Indri segera meletakkan pisau dan mengambil kotak itu untuk dikembalikan ke kulkas.


Itu sebelum kedua lengan Indri ditahan dari belakang oleh Indra. "Bohong. Kau ingin memakannya, 'kan?" ungkapnya tenang, terlalu tenang hingga sebenarnya ia terdengar sedang menggoda. "Aku baru tahu. Ternyata pagi-pagi begini, kau memang memiliki kebiasaan mengemil."

__ADS_1


Wajah Indri memanas hebat. Untungnya tak terlihat oleh Indra. "... bagaimana kau?"


"Aku pernah melihatmu pagi buta di dapur istana. Ah tidak. Selalu."


Indri tak bisa berkata-kata saking malunya. Jika Indra tak sedang mengukungnya dari belakang, ia mungkin sudah kembali ke kamar, menyembunyikan wajah di bantal, dan tak keluar sampai besok pagi.


Saat itu jugalah, Indri benar-benar sadar bahwa Indra memang mengukungnya.


"Kalau begitu biar kubukakan--"


"T-Tidak usah. Biar aku--"


"Dan apa kau tahu caranya?"


Indri sukses terbungkam lagi. Ekspresinya sudah tak terdefinisi lagi sekarang. Ia malu-malu menggeleng.


Indra tersenyum tipis. "Akan kuajarkan." Perlahan, tangannya yang semula memegang lengan Indri mulai beralih menangkup punggung tangan perempuan itu--nyaris tenggelam dalam tangan besarnya. Tangannya pun menggerakkan tangan Indri. Indra mendekat agar leluasa memberi arahan. Dagunya bersandar rileks pada bahu Indri. "Ini sederhana jika kau perhatikan baik-baik di sebelah sini ...."


Indri merasakan tekanan di bibirnya. Ternyata Indra menyodorkan sepotong kue ke depan mulutnya--seperti bermaksud menawarkan suapan.


"K-Kau tidak perlu--hmmph"


"Aku tahu kau menyukainya." Indra telah dengan santai menyuapkan potongan itu ke dalam mulut Indri meski ujung jarinya seolah ikut terlahap oleh perempuan itu.


Indri hanya bisa mengunyah kue itu. Agak susah karena berusaha menekan rasa gugup dan malunya yang membuncah. Akan tetapi, rasa manis lembut khas madu di mulutnya membuat Indri akhirnya benar-benar menikmati kunyahannya.


"Pantas kau menyukainya." Indra ternyata telah ikut mencoba potongan lain dan mengunyahnya lamat-lamat sebelum ditelan. "Citarasanya didominasi madu." Indra mengambil potongan baru lagi. Lelaki itu lumayan suka bahkan sampai menjilati remah di jemarinya.


Indri nyaris tersedak saat baru menyadari sesuatu. Bukankah Indra juga menyuapnya dengan jari yang sama tadi? Wajahnya kembali menghangat. Indri segera mengambil potongan lain agar Indra tak melakukan itu lagi.


Ternyata Indra juga berniat mengambil potongan yang sama. Tangan mereka pun bertumpukan. Sayangnya itu memanglah potongan terakhir.

__ADS_1


Indri buru-buru menarik tangan. "Untukmu saja."


Indra justru mengambil dan menyodorkan potongan itu ke mulut Indri.


Pipi Indri kembali merona. Itu masih jari yang sama. "Kubilang ... untukmu saja."


"Kau tidak mau?"


"Tapi kau juga menyukainya--"


"Kau justru jauh lebih menyukainya, 'kan."


"Aku sudah kenyang."


"Kau baru memakan satu."


"Kau pasti lebih lapar."


"Aku sudah makan dua dan aku sudah kenyang."


"K-Kalau begitu letakkan saja."


"Adi akan marah jika ada sisa makanan di kulkas. Terlalu boros ruang dan energi hanya untuk menyimpan satu potongan."


Indri habis argumen. Ditatapnya gugup jemari Indra yang masih menawarkan kue. Itu benar. Untuk apa Indri gugup pada hal seperti ini? Lagipula Indra sudah berkali-kali melakukan hal yang lebih—


Pemikiran itu langsung membakar wajah Indri dan membuatnya cepat-cepat melahap kue itu. Ia mengunyah agak rusuh.


Indra terheran sekaligus tak kuasa menahan geli melihat tingkah Indri, lantas berubah khawatir saat perempuan itu betulan tersedak. Ia segera ke sisi dapur satunya guna mengambilkan air, lalu membantu Indri minum. "Dasar. Kenapa kau juga sangat buru-buru memakannya?"


Indri menghela napas lega, tetapi segera berubah gugup dan merasa bersalah. "Maaf."

__ADS_1


__ADS_2