![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Sudah Indri cari ke mana-mana, termasuk di perpustakaan, lorong sekolah, ruang OSIS, tetapi ia tak menemukan Indra di mana pun. Selagi membalas sapaan beberapa murid yang berpaspasan dengannya, Indri berpikir ke mana lagi ia bisa mencari. Kala itu jam rehat sehabis pelajaran praktik. Indri telah dititipkan pesan oleh seorang guru yang merupakan kenalan lama Indra, dan diminta menyampaikan itu pada Indra. Memang tidak harus sekarang, tetapi Indri ingin memberitahukannya sekarang selagi ia ingat.
Tanpa sadar, Indri sampai di taman sekolah. Rupanya, di salah satu gazebo yang agak jauh dari tempatnya, ia menangkap sosok yang sudah sangat dihapalnya dan dicarinya sejak tadi. Indri pun bergegas ke sana, berlari-lari kecil. Namun, langkahnya melambat saat menyadari bahwa ada seorang siswi yang datang dari arah lain dan lebih dulu sampai di tempat Indra. Indri berhenti total di tempat, semata ingin mengamati situasi. Diperhatikannya, siswi itu tampak seperti sedang meminta tolong suatu hal yang penting pada Indra. Merasa bahwa urusan siswi itu lebih penting darinya, Indri pun memutuskan berbalik pergi, kembali ke kelas. Ia bisa memberitahu Indra saat pulang nanti. Indri punya banyak kesempatan untuk itu.
Ketika tiba pulang, setelah menunggu sebentar di gerbang sekolah yang telah sepi, Indri berbalik ketika mendengar langkah kaki mendekat. "Bagaimana?"
"Beliau hanya ingin memberitahu akan berkunjung ke rumahku hari Minggu besok," jawab Indra ala kadarnya setiba di hadapan Indri. Kentara sekali pemuda itu sedang lelah dari raut malas dan kuyunya.
Indri bisa melihat itu. "Kau lelah. Kembalilah ke rumah. Kita tidak usah makan bersama hari ini."
Fokus Indra seketika meningkat, tepatnya berusaha ditingkatkan. Pemuda itu menggeleng. "Aku ingin menemanimu."
Indri pun tahu ia tak bisa memaksa jika Indra mulai menggunakan nada yang ditegaskan seperti itu, maka ia segera melangkah diikuti Indra agar bisa segera kembali lagi ke rumah sebelum makin sore. Di sepanjang langkah, gadis itu sibuk memilah-milah menu apa yang ia inginkan siang ini. Ia sedang ingin mencoba bahan yang berasal dari air payau. Apa yang cocok selain ikan?
"Kenapa tadi kau tidak jadi menghampiriku?"
Indri tidak langsung menangkap maksud pertanyaan Indra yang tiba-tiba itu. Gadis itu mendongak, menatap Indra yang lebih fokus menatap jalan. "Maksudmu?"
__ADS_1
"Kau mencariku siang tadi, 'kan?"
Butuh waktu lagi untuk Indri mengingat kejadian mana yang dimaksud. Barulah ia ingat--pasalnya, ia menganggap yang satu itu tak terlalu penting untuk diingat. Yang penting adalah ia sudah menyampaikan pesan sang guru. "Umm. Begitulah. Aku tidak jadi menghampirimu karena kulihat kau sedang sibuk dengan salah satu kerabatmu. Aku berpikir bahwa urusan kalian pasti lebih penting. Dan kulihat gadis itu sangat butuh bantuanmu, jadi aku mengalah." Indri menoleh ketika langkah Indra terdengar seperti hampir berhenti. Gadis itu mengerjap bingung karena Indra malah menatapnya lama. "Kenapa?" tanyanya polos.
Indra kembali menatap ke depan. Ada jeda lama. "Tidak. Lupakan."
Indri tidak mengerti, tetapi ia putuskan untuk tak memikirkannya lebih. Begitu saja, pikirannya lanjut memilah sesuatu yang dianggapnya lebih penting: apa sebaiknya ia makan ayam saja?
Yang Indri tidak tahu, Indra sebenarnya sedikit berharap kekasihnya itu cemburu.
***
Pandangan Indra bergeser dari isi buku dan mendapati Indri yang menunjuk suatu sub materi. Posisi mereka yang sedang bersandar di tepi sofa ruang tamu rumah Indra--benar, mereka belajar di rumah sang pemuda--membuat Indra hanya perlu menolehkan kepala demi melihat isi buku yang dituding. "Itu mudah. Kau hanya perlu mengerti konsep dasarnya."
Indri merengut. "Makanya kuminta kau jelaskan ulang." Gadis itu sekilas mengusap lengannya. Hujan di malam itu rupanya lumayan lebat.
Indra menyadari itu. "Kau kedinginan?"
__ADS_1
"Tidak."
"Kau kedinginan."
"Jangan mengalihkan topik, Indra. Ujian dimulai besok. Cepat jelaskan atau kita sungguhan begada--"
Indra tiba-tiba bangkit dan pergi ke kamar tamu terdekat. Pemuda itu kembali dengan membawa sebuntal selimut di dekapannya, lantas membentangkannya.
Indri mengerjap, tetapi kebingungan itu sirna saat selimut itu menaunginya hingga nyaris menutupi sekujur tubuh. Ketika Indra membetulkan posisi selimut dan giliran menaungkan benda itu juga ke tubuhnya, Indri pun kaku.
"... Indra."
"Sebentar. Aku ingin membacanya lagi sebelum menjelaskannya padamu." Indra beringsut mendekat dan meraih satu sisi buku di tangan Indri agar bisa ikut melihatnya.
"B-Bukan itu. Kau ... terlalu ...."
"Aku juga kedinginan." Dengan cuek, Indra menyandarkan pipi ke bahu Indri dan membentangkan sebelah lengan ke belakang gadis itu hingga terlihat seperti memeluk dari belakang. Ditambah, selimut tebal yang mengurung mereka seperti gundukan. Tangan satunya mulai menunjuk isi buku. "Baiklah. Jadi pada dasarnya ...."
__ADS_1
Sejak itu, Indri tak bisa fokus. Yang terus terbayang di pikirannya hanya suara berat dan lembut serta deru napas halus Indra di telinganya.
Indri pun sadar. Sepertinya memang sudah jadi kebiasaan Indra untuk bermanja-manja padanya jika sedang berdua saja.