![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indri berkali-kali mengecek penampilannya. Hanya setelan kemeja putih bergaris abu-abu, celana jins biru tua, dan jaket kain berwarna krem yang bertudung. Tak ada yang salah, tetapi perempuan itu seperti menganggap dirinya masih kurang layak dilihat. Padahal lelaki-lelaki yang berseliweran di sekitarnya justru meliriknya terpesona. Indri lebih memakukan fokusnya pada pintu keluar bandara seraya sesekali melirik jam di ponselnya. Debar jantungnya masih terasa cepat. Ia tidak sabar oleh luap rindu sekaligus gugup.
Yang ditunggu akhirnya tampak. Indri tidak mungkin salah mengenali lelaki berjaket abu-abu keperakan yang sedang menarik koper di sana. Jantungnya bagai berhenti ketika sosok itu juga melihat dirinya. Tubuhnya tak bisa bergerak ketika lelaki itu mengubah arah jalan menjadi ke tempatnya. Semakin dekat, semakin jelas perubahan lelaki itu setelah tiga tahun mereka tak berjumpa. Garis wajah lelaki itu sudah menjadi lebih tegas dan tubuhnya sedikit lebih tinggi. Ketika lelaki itu akhirnya tiba di hadapan, mereka justru bergeming lama dan menatap mata satu sama lain dengan dalam.
Indra menggerakkan bibirnya, tersenyum tipis. "Aku pulang."
Balasan dari sang tunangan adalah pelukan erat yang segera diberikan. Indri membenamkan wajah dalam-dalam di bahu lelaki itu seraya menahan panas di mata. Ia sangat merindukan aroma pinus lelaki itu. Napasnya yang sesak berusaha dihela rileks. "Selamat datang," lirihnya lembut.
Beberapa menit lamanya Indra membalas itu dengan rengkuhan hangat dan usapan perlahan di kepala Indri. Mereka tak peduli pada orang-orang yang sekitar yang menjadi melankolis karena melihat adegan romantis seperti itu. Biarlah. Indra sudah menjalani studi ke luar negeri selama tiga tahun penuh. Itu cita-citanya sejak kecil. Justru karena sangat merindukan kekasihnya dan tak ingin perempuan itu sampai didekati lelaki lain selama ia pergi, Indra berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam tiga tahun dan mendapat gelar yang ia inginkan, lantas akhirnya bisa merengkuh Indri lagi seperti ini dan mendapati cincin di jari manis perempuan itu masih tetap di sana.
__ADS_1
Setelah makan sebentar, sebelum meninggalkan bandara, Indri menghubungi keluarganya lebih dulu. Itu karena Indra akan menginap sebentar di rumahnya. Rumah Indri sebenarnya bukan di kota itu. Namun, karena rumah Indri adalah yang terdekat, Indra akan singgah di sana sebentar sebelum kembali ke rumahnya yang ada di desa yang lebih jauh. Meski asal-usul tempat tinggal mereka agak jauh seperti ini, mereka bisa bertemu karena Indra pergi ke sekolah di kota. Meski Indra sebenarnya berasal dari keluarga yang tak begitu kaya, sedangkan Indri justru seorang putri wali kota, mereka tak pernah memusingkan status itu.
Agak lama Indri berbincang di telepon. Raut wajahnya perlahan mengerut. Ia mengernyit keruh. Setelah senyum maklum di akhir percakapan, Indri menutup telepon dan menatap Indra sungkan. "Jalan menuju rumahku sedang ada longsor. Di sekitar sana juga sedang badai."
Indra sudah menduga itu sejak ia melihat penampakan awan badai jauh di utara saat ia di pesawat tadi. Lelaki itu mengangguk-angguk paham.
"Ibuku ... mengusulkan untuk menginap di hotel," ungkap Indri gugup. "Bagaimana?"
"Ide bagus, tetapi aku sedang ingin berhemat. Tabunganku sudah banyak terpakai saat di luar negeri." Indra mengangkat sebelah tangan ketika Indri hendak bicara. "Dan aku tak ingin merepotkanmu." Lelaki itu berpikir sejenak, lantas sedikit mengalihkan pandangan. "Bagaimana jika di apartemen lamaku?"
__ADS_1
Indri baru akan mengangguk, tetapi ia baru membayangkan: bukankah itu berarti ia akan menginap juga di apartemen lelaki itu? Wajahnya pun merona, terlebih saat didapatinya Indra juga masih diam canggung. Ternyata itu yang juga membuat Indra agak sungkan mengusulkan. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Indri menginap di apartemen Indra sejak mereka bertunangan sejak empat tahun lalu. Namun, ini menjadi agak canggung lagi karena sudah tiga tahun mereka berhubungan jarak jauh. "Tidak apa," balasnya agak malu. "Aku juga malah tidak membawa banyak uang. Ah, berarti kau belum melepas apartemenmu? Sejak SMA?"
"Aku masih punya hak sewanya. Jaga-jaga jika aku harus ke ibukota seperti sekarang." Indra mengusap lehernya kaku. "Kita ke sana sekarang?"
Hal pertama yang dilakukan mereka sesampainya di apartemen adalah bersih-bersih sebentar. Tak banyak debu yang harus dibersihkan karena Indra terakhir kali meninggalkan apartemen itu dalam keadaan bersih dan rapi. Apartemen itu tak terlalu mewah dan berada agak di pinggir kota, tetapi cukup dekat dengan sekolah lama mereka dan nyaman untuk ditinggali. Fasilitasnya juga lengkap, dalam artian terdiri atas semua fasilitas yang memang wajib ada. Setelahnya, mereka memasak dan makan malam bersama. Sisa waktu dihabiskan dengan mengobrol ringan seraya saling merebahkan kepala di bahu satu sama lain di sofa, plus televisi yang menyala di hadapan tapi tak benar-benar ditonton. Mereka bercerita tentang kehidupan dan masalah masing-masing seraya sama-sama menghabiskan beberapa bungkus keripik kentang yang sempat dibeli di supermarket. Itu salah satu hobi sederhana mereka setiap kali Indri datang berkunjung.
Dan tibalah momen yang membuat mereka canggung. Saatnya pergi tidur. Sekali lagi, ini bukan pertama kalinya Indri menginap, dalam artian ini bukan pertama kalinya ia tidur bersama Indra. Mereka sekadar tidur bersama biasa tanpa aktivitas lain. Lelaki itu tetap memperlakukannya dengan hormat dan sopan karena Indra bukan tipe orang yang gampang terpancing maupun tergoda. Rasanya setelah tiga tahun tak bertemu, tidur bersama ini menjadi agak canggung. Meski begitu, Indra tetap bisa menghargainya. Lelaki itu bersikap seperti saat mereka melakukan ini. Indra sudah pernah berjanji--bahkan bersumpah--tak akan melewati batasannya bahkan walau Indri meminta. Indra tak ingin menyakiti perempuan itu dan ingin membahagiakannya di waktu yang tepat.
Maka Indri tak perlu khawatir. Ia sudah tahu dari lama betapa Indra sangat menghargai dirinya dan selalu hati-hati serta lembut memperlakukannya. Perempuan itu pun bisa tidur lelap dalam dekap hangat sang tunangan, yakin bahwa lengan kokoh itu tak akan pernah menyakitinya, justru akan selalu melindunginya.
__ADS_1