![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Pertama kali Indra pulang larut. Itu sudah sekitar pukul sebelas. Dan Indra berharap tak ada yang menunggunya sampai semalam itu.
Yang ia temukan justru adalah lentera ruang keluarga yang masih menyala. Ditambah buku-buku yang memenuhi meja utama. Terlebih Indri yang tertidur di sofa.
Sejenak, Indra berusaha mengurut dada.
Lebih dulu, ia gantung mantelnya. Lelaki itu mendekat hati-hati dan setengah berlutut, mengamati sebentar wajah lelap sang istri di hadapannya. Hanya diterpa sinar lembut lentera, betapa damai wanita yang sangat ia cintai itu dalam tidurnya--ada buku terbuka di dadanya dan kepalanya miring oleh kecilnya bantal sofa hingga Indra bisa memandangnya leluasa.
"Sudah kubilang untuk tidak menungguiku," lirih Indra lembut. Jemarinya menyingkap perlahan anak rambut yang menutupi sisi wajah Indri. Indra membuang napas pelan. "Kau pasti lelah dan memaksakan diri."
Memandang Indri lebih lama bisa membuat Indra malah betah, maka lelaki itu segera berdiri. Buku di tangan Indri diraihnya hati-hati dan ditumpuk bersama buku lain. Buku-buku itu ia putuskan untuk biarkan--bisa diurus besok. Lebih perlahan dan hati-hati, sebelah lengannya menelusuk ke belakang kepala Indri lantas mengangkat dan membawanya bersandar ke bahu. Tangan satunya lagi ditempatkan ke belakang lutut wanita itu. Tak perlu terlalu banyak usaha untuk Indra mengangkat tubuh Indri--menggendongnya secara bridal style.
Dalam perjalanan ke kamar mereka, Indra bisa mendengar lenguhan kecil Indri. Lantas wanita itu menyamankan diri bahkan mengalungkan sebelah lengan di leher Indra. Seolah ia memang sudah di tempat tidur hingga embus napas halusnya terdengar jelas di telinga Indra. Lelaki itu hanya bisa tersenyum kecil.
Agak sulit menurunkan Indri, apalagi wanita itu masih erat memeluk lehernya. Indri juga nyaris terbangun, tetapi Indra berhasil menenangkannya dengan desisan lembut dan usapan pelan di kepala. Sebelah tangannya menarik selimut hingga menutupi tubuh Indri sebatas dada.
Setelah memastikan Indri kembali lelap, Indra menunduk dan mengecup lama dahi wanita itu. Lantas sekali lagi tersenyum tipis saat melihat wajah damai yang menghangatkan hatinya itu.
Indra tidak langsung ikut tidur. Ia pastikan semua jendela dan pintu terkunci. Semua lentera dipadamkan. Dan makanan yang sudah disediakan tandas tak bersisa--semata karena ia memang sangat lapar dan untuk menghargai Indri. Hingga ia baru ingat kalau masih ada beberapa berkas yang perlu diurus. Tidak banyak, tetapi harus sudah siap besok.
Sibuk di ruang kerjanya yang merangkap dengan ruang kerja Indri, tepat di sebelah kamar mereka, Indra mondar-mandir dengan berkas-berkas di tangan. Sesekali ia menyusuri rak, membolak-balik berkas, menyingkap buku, menulis sesuatu, lalu mondar-mandir lagi. Dalam hati ia merutuki diri sendiri karena tak menyelesaikan semua itu lebih awal. Sepertinya ia baru akan tidur setengah jam lagi.
"Indra?"
Refleks menoleh, Indra langsung diserang keheranan sekaligus rasa bersalah.
Menghampiri ke sebelah Indra masih dengan keadaan terbangun, Indri mengamati berkas-berkas yang tersebar. "Untuk besok, ya?"
Indra hanya menggumam pelan. Ia abaikan sebentar berkas di tangan dan menatap Indri tak enak. "Apa aku mengganggumu?"
__ADS_1
"Iya--maksudku ... lumayan, tapi aku mengerti. Kau memang semakin sibuk." Indri tersenyum ringan. "Jangan terlalu malam. Tidur saja jika kau sudah sangat lelah."
Indra balas tersenyum tipis dan mengacak pelan pucuk kepala Indri. "Terima kasih. Kau bisa tidur lagi. Aku tak akan berisik."
Indri justru tampak canggung membalas. Matanya melirik arah lain. "Ehm ... kalau bisa. Kau harus tidur secepatnya."
"Aku tak akan sakit hanya karena ini."
"Bukan itu." Suara Indri mengecil. Ia semakin gugup melanjutkan, "Aku ... tidak bisa tidur."
Butuh dua detik bagi Indra memahami maksud wanita itu sebenarnya. Ia tak kuasa menahan senyum geli. Secepat kilat, tangannya meraih sisi wajah Indri bersamaan dengan bibirnya yang menekan bibir sang istri. Lalu ia berbisik di hadapan wajah wanita itu. "Akan kuselesaikan ini secepatnya."
Dengan wajah merona merah, Indri menggangguk kaku. Ia pun canggung berbalik kembali ke kamar mereka.
Dukungan dan curhatan tersirat Indri tanpa sadar membuat Indra bekerja dua kali lebih cepat dan fokus. Ia sudah selesai hanya dalam lima belas menit. Berkas-berkas segera dirapikan dan dipinggirkan. Lampu dipadamkan. Ruang kerja dikunci.
Ketika Indra masuk ke kamar, ternyata Indri memang belum kembali tidur. Wanita itu langsung menatapnya dalam posisi yang sebenarnya sudah berbaring nyaman.
"B-Biasanya juga begini," Suara Indri terdengar menahan malu. "Kita selalu tidur berbarengan."
"Tapi biasanya kau bisa tidur lebih dulu." Indra membuka almari dan menanggalkan jas formalnya. Ia melanjutkan kalem, "dan barusan kau juga bisa tidur tanpa aku."
Langsung mengalihkan pandangan dari Indra yang kini bertelanjang dada dan mencari kemeja polos, Indri menanggapi terbata, "Aku ketiduran, 'kan. Lagipula aku memang menungguimu."
"Dan siapa suruh? Aku sudah memintamu untuk langsung tidur."
"Tidak ada yang akan menemanimu makan."
"Aku bukan anak kecil. Jadi kau memang mengaku kalau kau tidak bisa tidur duluan tanpaku?"
__ADS_1
Indri seketika memunggungi Indra dan menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
Menutup almari dan kini sudah berganti pakaian, Indra diam-diam tersenyum puas melihat reaksi sang istri. Ia menutup gorden dan meredupkan lentera di nakas. Dalam remang kuning pucat, ia naik ke ranjang dan berbaring dengan Indri yang juga tepat menghadap ke arahnya. Terpaan lentera membuatnya masih bisa melihat rona malu wanita itu.
"Tidak biasanya kau begini." Indra menyingkirkan helai rambut yang menghalangi wajah Indri dan tersenyum lembut. "Tapi aku menyukainya. Kau sangat manis."
Berusaha tetap menatap Indra walau wajahnya semakin merah, Indri bersuara walau hanya bisa berbisik. "Kupikir ... ini juga karena dia." Sebelah tangannya justru semakin menangkup separuh wajah yang kian panas. "Aku jadi semakin ingin ... terus ada di dekatmu."
Gerakan jari Indra berhenti. Lelak itu menatap tak berkedip. Hening total di ruangan itu lantas membantunya mencerna apa yang terjadi.
Serta-merta Indra setengah terduduk dan meraup sebelah bahu Indri agar menatapnya. Ia berusaha bersuara. Matanya membeliak tercengang sekaligus kaget. "... Indri ... maksudmu ...."
Indri tak membalas. Masih dengan wajah bersemu merah, ia perlahan tersenyum lembut dan lepas. Tatapannya bergulir turun. Bersamaan dengan sebelah tangan yang meraba perut yang masih rata.
Isi dada Indra meluap. Semuanya membuncah hingga lelaki itu berdesir dan napasnya tertahan. Ia terduduk sepenuhnya. Tatapannya terus dipakukan pada perut Indri seolah sedang menatap permata paling langka dan indah sedunia. Ia menatap Indri, lalu kembali pada perut wanita itu. Terus begitu hingga ia kembali berdesir tak percaya. Sudut matanya menghangat.
"Kenapa tidak bilang sejak awal, hah?" desis Indra tertahan, tetapi ada sirat luar biasa bahagia di sana. "Rasanya sudah lama sekali ... dan ini yang--"
"Kedua sejak setahun lalu." Indri ikut terduduk dan tak bisa menahan senyum bahagia. Matanya berkaca-kaca. "Aku juga baru tahu pagi ini. Aku sangat tidak sabar memberitahunya hingga menungguimu pulang."
Indra berdesir, antara ingin marah, kesal, dan bahagia. Ia merengkuh Indri erat. Bisikannya serak oleh isakan bahagia yang terancam keluar. "Dasar. Langsung saja katakan dari tadi."
"Kau sibuk dan aku menunggu waktu yang pas." Indri tak mencegah air mata kegembiraannya yang mengalir turun. "Jadi ... apa kau bahagia dengan ini?"
"Bicara apa kau." Indra melonggarkan rengkuhan dan merangkum wajah wanitanya. Ia menyentuhkan dahi mereka hingga satu sama lain bisa merasakan deru napas memburu oleh kebahagiaan dan tatapan yang saling terkunci. Senyum Indra saat itu adalah yang paling bahagia dan tulus. "Sangat. Aku sangat bersyukur dan menantinya. Aku lebih bahagia lagi karena kau yang menjadi ibunya, Indri."
Indri tertawa pelan. Ujung hidungnya sudah memerah. Matanya menatap mata Indra penuh binar kehidupan. Senyumnya pun adalah yang paling hidup dari yang pernah ia ulas. "Aku juga. Hanya dengan mengetahui bahwa kau yang membuatku menjadi ibu dari anak ini ... aku merasa sangat cukup. Aku tak butuh apa pun lagi."
"Kau butuh. Kita butuh," desis Indra lembut. Sebelah tangannya meraba perlahan perut Indri. "Kasih sayang untuknya."
__ADS_1
"Tidak perlu dicari." Indri balas menggenggam tangan Indra dan menautkan jemari mereka. "Cukup dengan kita berdua, yang lebih dari itu pun menjadi mungkin."