![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indri justru merasa tak terusik dengan kalimat perintah mendadak dari orang asing itu. Indri memberanikan diri menatap lelaki itu langsung ke mata. Pertama kali, Indri sama sekali tak merasa takut dan waspada pada orang asing. Seperti ada sesuatu dalam sorot mata Indra yang membuatnya yakin bahwa lelaki itu tak punya maksud buruk. Indri seolah yakin bahwa niat Indra hanya untuk melindunginya. Pertama kali pula, Indri merasa amat dekat dan akrab dengan orang asing yang--diyakininya--baru bertemu pertama kali kini. Hanya dengan Indra, entah kenapa Indri merasa aman. Perempuan itu dengan sungkan mengangguk.
Air muka Indra tampak melunak. Sorot matanya bagai meneduh. Lelaki itu menawarkan tangan yang kemudian disambut sama sungkan oleh Indri. Menyadari bahwa perempuan itu masih gugup, Indra menuntunnya perlahan ke tengah aula. Entah karena sejak awal mereka memang sudah jadi pusat perhatian atau apa, orang-orang sontak memberi jalan. Bahkan yang sedang berdansa mau menunda dulu untuk memberi mereka ruang. Ada yang penasaran tentang siapa sebenarnya dua orang itu karena tiadanya tanda-tanda tertentu yang menunjukkan status sosial mereka. Ada pula yang mulai iri karena incaran mulai didekati orang lain.
Indri tak pernah berdansa di sebuah pesta. Berdansa pun tidak begitu paham. Namun, Indra menuntunnya perlahan. Tangan kirinya bertautan dengan tangan lelaki itu. Pinggangnya direngkuh hingga tubuhnya menjadi lebih dekat dengan Indra. Mereka tepat berhadap muka sehingga bisa menatap iris satu sama lain, ditambah Indri hanya setinggi telinga Indra. Semua perlakuan itu membuat Indri merona kikuk, tetapi Indra kembali berhasil merilekskannya dengan mengulas senyum tipis yang hanya terlihat oleh Indri. Sensasi de javu kembali dirasakan Indri, terutama saat menatap ke iris hitam legam Indra. Indri terpaku dalam perasaan itu hingga tak sadar bahwa Indra sudah mulai membimbingnya berdansa. Itu membuat mereka terus berkontak mata seolah sedang menggali ingatan satu sama lain untuk menjawab satu pertanyaan yang sama: kenapa mereka merasa de javu pada satu sama lain?
Seolah mereka menjadi akrab berkat kontak mata itu, Indra melibatkan gerakan-gerakan yang lebih aktif hingga Indri diajaknya menjejak seluruh lingkar tengah aula. Sesekali Indri dilepasnya berputar hingga gaun perempuan itu mengembang dan menyapu lantai. Indra kembali menariknya mendekat dan melanjutkan ke gerakan yang lebih ekspresif. Indri ternyata bisa mengikuti suasana yang dihadirkan Indra dan berhasil mengekspresikan gerakan. Dansa mereka berubah dari gemulai menjadi ceria. Indra memang sedikit melibatkan ciri khas dansa klannya agar Indri bisa lebih rileks. Itu berhasil sehingga mereka tanpa sadar tersenyum lepas selagi kontak mata terus terjadi.
Indri tak pernah merasa dekat secepat ini dengan orang asing. Perempuan itu makin ekspresif dalam gerakannya sehingga gaunnya mengembang berkali-kali dan rambutnya mengibas halus. Indra tiba-tiba menariknya lebih rapat hingga mereka benar-benar hampir berpelukan dengan wajah di bahu satu sama lain. Indra ikut menghentikan gerakan. Bersamaan, melodi orkestra berhenti. Seketika, mereka disambut sorak dan tepuk tangan bergemuruh.
Di antara riuh aula itu, Indri mendengar lirihan Indra yang bagai memompa jantungnya berdebar lebih kencang.
"Akhirnya aku menemukanmu, Orkhideya.”
Indri tak sempat menata perasaannya karena Indra langsung menariknya pergi dari situ. Mereka diiringi sorak kecewa para tamu yang masih ingin melihat dansa mereka lagi. Keributan itu perlahan terdengar pelan hingga hilang sama sekali ketika Indra menariknya hingga ke taman istana Kerajaan Archontia itu.
__ADS_1
Indri bagai tahu jalan yang mereka lewati. Tidak. Ini memang jalan yang sama. Benarlah dugaannya ketika Indra akhirnya berhenti di balik dinding semak taman, sedangkan di hadapan mereka terdapat kolam teramat luas yang bagai danau mini. Cahaya bulan memantul di permukaannya yang dihias lotus dan pancuran raksasa. Suara kucur air mengisi hening damai di taman itu.
Indri diberi kesempatan mencerna keadaan. Kata-kata Indra tadi kembali terngiang. Indri tak pernah memberitahukan nama penanya pada siapa pun bahkan pada keluarganya ... kecuali satu anak laki-laki yang dulu pernah bertemu dengannya. Itu sudah kejadian yang sangat lama saat ia masih berumur sepuluh tahun. Di tempat yang sama dan jenis acara yang sama pula, Indri kecil yang tak paham politik dan relasi kerajaan memutuskan untuk pergi dari pesta itu tanpa sepengetahuan keluarganya. Niat Indri kecil adalah berkeliling karena rasa ingin tahunya pada usia itu masih sangat besar dan nekat, tetapi luas istana Kerajaan Archontia memang terlalu kompleks hingga ia tersesat.
Lalu Indri kecil bertemu anak laki-laki itu. Anak itu sebenarnya juga tersesat, tetapi malah menjadi hafal daerah istana Kerajaan Archontia karena ia terlalu lama berkeliling. Jadilah mereka diam di dekat kolam itu dan berbincang banyak hal. Mereka bersepakat untuk tak memberitahukan status masing-masing dan hanya memberitahukan nama kecil. Mereka melakukan itu agar tak perlu pusing dengan perbedaan klan. Indri memperkenalkan diri sebagai Orkhideya, sedangkan anak laki-laki itu hanya memberi inisial I. Ada banyak hal yang mereka diskusikan. Entah hal-hal remeh yang hanya dipikirkan oleh anak seusia mereka, hingga hal rumit semacam tanggung jawab di masa depan. Mereka bertukar pikiran dan sering berdebat, tetapi tanpa disadari itulah yang membuat mereka akrab. Selepas kejadian itu, mereka juga diam-diam saling berkirim surat melalui pelayan pribadi masing-masing yang sudah bersumpah tak akan membocorkan komunikasi mereka. Sayangnya komunikasi itu terputus sejak perang dingin enam tahun lalu, tetapi mereka telah sangat memahami dan mendalami karakter satu sama lain.
Pertama kali, ada anak yang mengubah persepsi Indri tentang dunia di sekitarnya dan membuatnya ingin menjadi perempuan yang tangguh bertarung. Pertama kali pula, ada anak yang berani menentang pemahaman sang anak laki-laki serta mendukung penuh impiannya yang bahkan sempat ditertawai sang ayah. Pertama kali, mereka bertemu teman seumuran yang bisa saling klop walau berbeda pendapat. Pertama kali, mereka menemukan orang yang benar-benar paham keinginan dan karakter mereka. Pertama kali, mereka menemukan alasan untuk berkembang menjadi seseorang yang tangguh dan mumpuni, dan itu tak lain adalah diri mereka satu sama lain. Itu karena mereka sudah bersepakat bahwa di masa depan nanti, mereka akan bekerja sama membangun impian itu.
Dan Indri tak bisa memungkiri bahwa hingga kini, hanya anak laki-laki itu yang begitu membuatnya terpikat dari segala aspek tanpa memandang fisik apalagi klan. Persepsi dan karakter anak laki-laki itu sangat dikagumi dan disukainya. Indri kecil bahkan sering menjadi gelisah ketika tak kunjung menerima surat, lantas malah menjadi gugup dan malu-malu saat tiba menerima dan membaca surat dari anak laki-laki itu. Indri kecil selalu memastikan segala kondisi anak itu dalam keadaan baik, terlebih karena mereka bersepakat untuk tak memberitahukan status sosial. Indri selalu tertarik memahami curah hati anak laki-laki itu di setiap surat. Indri kecil tanpa sadar selalu berdoa untuk keselamatan dan kesehatan anak itu, sedangkan akan menjadi sangat khawatir saat anak itu sempat menceritakan masalah kesehatan maupun lingkungannya. Indri kecil belum paham apa yang ia rasakan saat itu. Semakin ia remaja, Indri mulai sedikit paham perasaannya pada anak laki-laki itu dan sempat sangat memikirkan nasib kerajaannya nanti. Ia baru akan mencurahkan itu, tetapi komunikasi mereka terputus di usia tujuh belas tahun. Sampai kini, Indri sulit melupakan anak laki-laki yang selalu menulis inisial I di kulit suratnya tanpa tulisan apa pun lagi. Indri masih menyimpan segala sesuatu tentang karakter dan persepsi anak itu di otak dan hatinya. Indri sempat berpikir untuk melupakan perasaan ini karena ia bahkan tak tahu I itu siapa. Ia hanya tahu bahwa I adalah orang Naturalis dan pastilah salah satu anak bangsawan. Namun, di luar status sosial, Indri jauh lebih ingin mengetahui kabar I, atau bahkan bisa bertemu lagi dengannya. Atau setidaknya ... Indri ingin tahu nama asli dari laki-laki yang sukses mencuri hatinya selama tiga belas tahun ini.
Hanya dengan mendengar dua pernyataan itu, Indri hampir tak kuasa membendung sesak di dada. Selagi duduk bersimpuh di sebelah Indra yang sedang bersila menghadap kolam, perempuan itu memejam erat dan menunduk dalam-dalam. Tangannya mengepal dan terbenam di gaunnya yang mengembang di hampar rumput. Surai emasnya berjatuhan. Bahunya bergetar. Matanya sangat panas.
Indra tergerak untuk mengusap sisi kepala Indri perlahan. "Aku mendengar kabar tentang sosok Putri Mahkota Purabha baru-baru ini, tetapi belum tentu cuma dia yang memiliki nama yang mirip denganmu." Suaranya kembali merendah teduh. "Aku ingin mendengarnya darimu langsung. Aku belum tahu namamu, Orkhideya."
Indri nyaris terisak. Perasaannya terlalu membuncah hingga perempuan itu tak bisa berkata-kata. Ketika Indra kembali mengusap kepalanya, itu malah membuat pertahanannya runtuh. Indri menangis terisak hingga bahunya berguncang dan air matanya bertumpahan. Mata dan wajah perempuan itu makin panas saat Indra justru bergerak mendekat dan merengkuhnya erat. Indri makin terisak di bahu lelaki itu dan mencengkeram kain jubah Indra. "Aku bersyukur ... kau baik-baik saja." Justru itu yang diucapkannya.
__ADS_1
"Aku lebih bersyukur karena bisa bertemu denganmu lagi." Indra mengusap kepala Indri lembut. "Terima kasih sudah menungguku menemukanmu, Indri."
Betapa tidak tepat ketika gema lonceng berkumandang. Itu pertanda acara telah berakhir. Mereka harus kembali sebelum dicari masing-masing pengawal. Mereka harus berpisah lagi.
Indra tersenyum tipis saat menangkap kekecewaan itu di air muka Indri. Lelaki itu mengusap jejak air mata di pipi sembap Indri yang kemerahan. "Kita akan bertemu lagi. Kupastikan itu," lirihnya serius, lantas meneduh, "Bukankah aku pernah bilang aku tak akan membiarkan orang-orang yang berharga untukku ... lolos dari sepengetahuanku?"
Indri seketika merona. Wajah sembapnya jadi tambah merah. "S-Setidaknya beritahukan status sosialmu," cicitnya memelas. "Kau bahkan duluan tahu nama dan statusku. Tidak adil."
"Rahasia. Aku akan membiarkanmu mengetahuinya sendiri," bisik Indra halus. Lelaki itu perlahan memajukan tubuh. "Namun, akan kupastikan kau segera mengetahuinya--dengan caraku sendiri."
Menyadari apa yang hendak Indra lakukan, Indri kian merona, tetapi ia tak menolak. Dibiarkannya Indra mempertemukan dan menautkan bibir mereka dengan dalam dan lembut. Tak ada yang tahu kapan mereka bisa bertemu lagi, maka Indri dengan gugup meraih leher Indra dan membalas sentuhan itu. Dirasakannya pula belakang kepalanya ditekan perlahan oleh Indra hingga memperdalam interaksi bibir mereka. Terhitung beberapa menit dan mulai terdengar derit roda kereta di kejauhan, maka keduanya menyudahi agak enggan dan sejenak saling menatap dengan sayu dalam jarak teramat dekat. Embus napas mereka menghangatkan wajah satu sama lain.
"Indra," lirih Indri gugup, "sebenarnya bagaimana perasaanmu ... padaku--" Pertanyaan perempuan itu terbungkam karena Indra kembali mengecup bibirnya.
"Aku sudah punya jawabannya." Indra tersenyum lembut. "Aku juga yakin kau sudah tahu--tidak mungkin aku menciummu begitu saja, 'kan? Nanti, saat kita bertemu lagi, akan kubuktikan langsung dengan tindakan."
__ADS_1
Indri tak bisa lagi bersuara. Wajahnya sudah terlalu terpanggang, terlebih ketika Indra mengecup dahinya dalam dan lama. Itu membuat Indri rileks dan berhasil tersenyum kecil. "... aku akan menunggumu lagi."