![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Lagi, Indri bermimpi tentang kekasih pertamanya.
Indri tak tahu kenapa akhir-akhir ini ia mendapat mimpi seperti itu. Indri tak terlalu memikirkan kemungkinan itu, yang penting itu tak memberikan efek buruk padanya. Masalahnya, Indri mendapat sisa-sisa ingatan itu saat ia baru saja menikah. Di saat ia sudah mulai menempuh hidup baru bersama sosok yang dicintai, ia kembali dibayang-bayangi sosok terdahulu. Indri sedikit gelisah.
Lama sekali Indri memandang wajah lelaki yang masih lelap dan memeluknya kini. Itu sudah dilakukannya sejak terbangun dari mimpi bersangkutan. Indri terus menatap wajah itu untuk menyingkirkan sisa-sisa bayangan mimpinya, tetapi itu percuma.
Indri akhirnya memejam lagi, tetapi kantuk tak kunjung datang. Pikirannya masih teraduk. Perempuan itu pun menghela napas pelan. Amat lembut dan perlahan, Indri melonggarkan dekapan lengan sang lelaki pada pinggangnya. Itu tak mudah karena lelaki itu selalu terbiasa memeluknya. Indri sama hati-hati bangkit dari ranjang dan beranjak keluar kamar. Ia butuh udara segar. Teras belakang rumah menjadi tujuannya. Malam yang cerah dan bulan purnama seketika membuatnya betah. Indri duduk di tangga teras dan memandang menerawang pada bulan penuh. Keheningan membantunya menenangkan pikiran. Indri sendiri juga tak mengerti. Ini sudah tujuh tahun, tetapi kenapa ia merasa kalut pada semua ingatan itu?
"Kalau mimpi buruk, bangunkan aku. Jangan keluar seperti ini."
__ADS_1
Indri tak terkejut ketika sang suami tahu-tahu datang lantas duduk di sebelahnya. Pikiran yang masih penuh dan kalut membuatnya merasa sungkan menatap lelaki itu.
Indra langsung menangkap gelagat itu. "Ada masalah apa?" bujuknya halus.
Itu benar. Indri tak mungkin bisa terus menyembunyikan masalah ini. Ia memberanikan diri menatap Indra langsung ke mata. Seketika, perempuan itu bagai mendapat pemecahannya. Entah kenapa, hanya dengan menatap dan menangkap warna perasaan dari mata lelaki itu, Indri langsung tahu bahwa mata itu berbeda dengan mata di mimpinya. Bukan dari segi warna, tetapi perasaan yang terpancar. Perasaan di mata Indra lebih tegas dan sungguh-sungguh, sudah sejak Indra mengungkapkan perasaan itu padanya 7 tahun lalu. Perasaan Indra lebih teguh dan yakin dibanding pancaran perasaan yang diselipi keraguan serta dilema yang didapati Indri dalam kisah pertamanya. Begitu saja, kalut Indri hilang. Ia berhasil mengatasi dilema hatinya. Perempuan itu tersenyum ringan. "Aku hanya tidak bisa tidur."
Mendapati Indri yang ternyata langsung menurut, Indra agak heran juga. Sebegitu cepatkah Indri mengatasi--apa pun--masalahnya tadi? Lelaki itu tak ambil pusing karena Indri diyakininya sudah lebih tenang. Namun, herannya masih tersisa karena saat mereka kembali berbaring di ranjang, Indri duluan memeluknya yang dari samping. Perempuan itu menahan Indra yang hendak berbaring menyamping. Indra pun diam telentang dengan Indri yang memeluknya dari samping, meski ia merasa kurang karena selalu terbiasa merengkuh perempuan itu saat tidur. Lengannya bergerak ke belakang kepala Indri dan menjadi bantal bagi perempuan itu. Jemarinya menyisir helai rambut halus dan mengusap kepala Indri lembut. Dirasakannya, tangan perempuan itu meraba dada kirinya. Indra tahu Indri belum mengantuk lagi, maka tangannya terus mengusap kepala dan bahu perempuan itu perlahan selagi ia berusaha menahan kantuk—Indra tidak akan tidur jika Indri belum tidur, atau Indri akan keluar lagi seperti tadi.
"Indra," bisik Indri tiba-tiba, agak takut. "Apa kau marah jika misalnya ... aku masih mencintai Surya?"
__ADS_1
Usapan tangan Indra berhenti. Sunyi yang aneh untuk waktu yang lama.
Indri buru-buru menambah kaku, "Maaf. Aku malah menanyakan hal yang tidak--"
"Aku tidak akan heran jika itu benar," ungkap Indra terlampau tenang. "Walau itu benar atau salah pun ... aku tak peduli. Sekarang, aku hanya akan mengusahakan satu hal: aku akan berbuat yang lebih darinya." Indra sedikit menolehkan kepala hingga bibirnya tepat mencium pucuk kepala Indri. Suaranya agak teredam di antara helai rambut perempuan itu, tetapi masih terdengar melirih lembut. "Aku akan memedulikan dan menjagamu lebih dari yang dilakukannya. Aku akan membuatmu lebih nyaman dan bahagia dibanding saat bersamanya. Aku akan membuatmu perasaanmu padaku lebih kuat dari perasaanmu padanya."
Indri merasa teramat malu sekaligus jahat karena melontarkan pertanyaan seperti tadi. Memang, itu semata pemisalan. Indri sudah tak memiliki perasaan pada masa lalunya. Ia cuma takut jika perasaan itu menghampirinya lagi, tetapi jawaban Indra seketika membuatnya sangat yakin: itu tak akan terjadi apa pun kemungkinannya. Indri makin tak pantas menunjukkan wajah. Perempuan itu membenam wajahnya di bahu Indra. "... maaf. Sungguh. Aku malah menanyakan ... hal seperti itu."
"Tidak apa. Aku tahu. Itu cuma pemisalan. Sekarang, kau hanya mencintaiku."
__ADS_1