![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indri terkejut. Mulutnya yang ternganga segera dibekap.
Indra hanya meringis pelan melihat penampilannya yang basah kuyup. Hujan mendadak turun saat ia dalam perjalanan pulang dan kian lebat sekarang. Mantelnya terasa sangat berat dan rambutnya lepek. Tetes-tetes air sudah memenuhi lantai teras.
"Astaga. Ayo, segera bersihkan dirimu!" Buru-buru, Indri membantu lelaki itu melepas mantelnya. "Langsung mandi saja. Akan kuurus mantelnya."
Indra melakukan tanpa protes. Udara dingin malam tambah menusuk tubuh dan bisa membuatnya masuk angin.
Selesai mandi kilat lantas mengenakan kemeja polos dan celana selutut, Indra merasa pusing dan ingin rebah.
"Ah tunggu!" Indri mencegatnya. Nadanya sarat cemas sekaligus jengkel. "Jangan tidur dulu, Indra. Rambutmu masih sangat basah. Kau bisa masuk angin." Perempuan itu kemudian memaksa Indra duduk di tepi tempat tidur. Tangannya sudah menggenggam handuk kecil. Berdiri di hadapan Indra, Indri telaten mengeringkan rambut lelaki itu.
Berat di kepala yang dirasakan Indra pun perlahan lenyap. Usapan di kepalanya yang terasa dingin oleh air hujan membuatnya nyaman. Ditambah harum manis dari tubuh Indri membuat suasana hati dan pikirannya jauh lebih rileks dan jernih. Bagus. Indra tambah mengantuk sekarang.
"Indra, kubilang jangan tidur sekarang," cetus Indri tertahan sekaligus malu. Pasalnya, lelaki itu malah menyandarkan kepala padanya. Tepatnya pada perutnya. "Aku jadi kesulitan mengeringkan rambutmu."
Indra justru semakin menempelkan wajah di perut perempuan itu. Matanya terpejam. "Aku sangat mengantuk."
"T-Tahan sebentar. Kau mau masuk angin?"
"Aku hanya ingin menyapanya. Tidak boleh?"
Wajah Indri memerah. Ia kikuk beberapa detik. Lalu lanjut mengusap rambut Indra kaku. "Jangan tidur, ya."
Diam-diam Indra tersenyum kecil dan melingkarkan kedua lengan rileks pada pinggang sang istri. Demi merapatkan jarak dengan sang buah hati yang baru berusia beberapa minggu. Mendengar detak kehidupannya. "Aku janji akan segera menyelesaikan semua pekerjaanku."
"Tidak usah buru-buru. Aku juga tidak apa-apa." Suara Indri melembut dan merendah. Usapannya menjadi perlahan. "Mereka membutuhkanmu, 'kan?"
__ADS_1
"Tapi aku jauh lebih membutuhkan dia."
Pipi Indri kembali memanas. Usapannya kembali kasar. "Oh."
"Hei, kenapa kau marah?"
"Tidak."
"Kau semakin labil sejak dia hadir di antara kita."
"Perasaanmu saja."
"Kau cemburu pada anak kita?"
Rona merah Indri semakin kentara. "Tidak."
"Memangnya bisa?"
"Orang-orang memaksaku cuti, tahu." Indra menjauh dan menengadah demi menatap wajah Indri. Ia tersenyum tertahan. "Hanya kau yang bersikeras memaksaku tetap mengurus semuanya."
Kini wajah Indri memerah malu. Ia mengalihkan pandang. "A-Aku takut menganggumu."
"Tapi kau kelihatannya selalu tak rela saat aku berangkat."
"I-Itu cuma khawatir."
"Khawatir pada apa dan kenapa?" Indra tak bisa menahan diri untuk tidak menggoda perempuan itu. "Kau tahu sendiri siapa pun akan menjauh duluan sebelum bisa mengusikku. Atau jangan-jangan kau takut aku didekati perempuan lain?"
__ADS_1
Indri menatapnya aneh dan masam. "Perasaanku saja atau kau akhir-akhir ini makin menyebalkan? Kudengar kau masih sama jutek dan menyeramkan di turnamen."
"Dan aku bisa jadi begini," lirih Indra lembut seraya mengusap sisi wajah Indri, "karena aku sangat merindukan dan mencintai kalian."
Bisa dipastikan wajah Indri kali itu adalah yang paling merah dari sebelumnya. Ia hendak mundur, tetapi Indra lebih dulu memeluk dan menarik pinggangnya mendekat. Tangan Indra satunya beralih ke belakang kepalanya, mendorongnya menunduk. Indra meraup bibirnya lembut. Hanya sebentar karena lelaki itu tak ingin sang anak terhimpit dan posisi yang bisa membuat Indri pegal, tetapi dilakukan penuh perasaan. Sudah cukup untuk mewakili apa yang ia nyatakan sebelumnya. Lebih dari cukup untuk melunakkan Indri. Ketika mereka kembali berhadap muka, Indri hanya bisa menjatuhkan dahinya pasrah pada dahi Indra.
Indra kembali tersenyum lembut dan menatap manik Indri lekat-lekat. "Jadi?"
"A-Aku juga--maksudku, d-dia," bisik Indri malu, "dia juga ... merindukanmu. Ti-Tiap hari aku selalu mendengar--tepatnya, aku ... merasakannya."
"Lalu kau sendiri?"
Indri ingin sekali menyembunyikan wajah, tetapi kedua lengan Indra tak membiarkannya menjauh. Tidak sebelum lelaki itu puas dengan jawabannya.
Indri menghela napas perlahan. Ia memberanikan diri menatap langsung pada manik cokelat kayu di hadapan. "... iya," lirihnya tulus.
"Iya apanya?"
"... aku ... juga."
Indra menyelipkan helai-helai rambut di sisi wajah Indri agar sinar lampu bisa menyinari pipi merona perempuan itu. Ia tak bisa menahan senyum geli. "Juga apanya?"
Indri memejam sebentar. Berusaha sabar. Matanya yang kembali membuka pun tak membiarkan sirat malu mendominasi. Lirihannya menjelas dan lembut. "Aku ... juga merindukanmu."
Senyum geli Indra pun menipis menjadi senyum teduh. Dikecupnya sekali lagi bibir perempuan yang sangat dicintainya itu, barulah ia melepas kukungan.
Indri menjauh dengan canggung. Masih dengan wajah panas, ia kembali mengusap kepala Indra--pekerjaan yang belum juga selesai.
__ADS_1