Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
37 & 38


__ADS_3

Indra selalu benci jika meninggalkan Indri terlalu lama di rumah. Apalagi, akhir-akhir ini, ia ikut lembur. Ia sebisa mungkin pulang cepat, tetapi yang paling cepat malah pukul sembilan.


Yang membuat Indra jengkel adalah Indri yang kadang kala menungguinya. Ia sudah meminta wanita itu untuk tidur duluan, tetapi Indri masih lebih sering menunggunya sampai larut.


Itu membuat Indra punya satu kebiasaan baru setiap pulang telat.


"Selamat datang. Kau terlihat sangat lelah," sambut Indri pada suatu malam. Senyumnya masih saja terkembang cerah walau malam sudah larut. "Biarkan aku menanggalkan jasmu--"


Indra akan selalu merengkuh wanita itu erat tanpa membalas ucapannya dulu. Hanya itu yang bisa Indra lakukan.


Indri biasanya selalu paham, maka wanita itu pun menelan kata-katanya ketika Indra sudah memeluknya. Indri akan selalu membalas pelukan itu dan membelai kepala serta punggung Indra--bantu menghilangkan penat lelaki itu.

__ADS_1


Kadang kala, ketika Indri akhirnya tidur duluan--sangat jarang terjadi, Indra tetap akan merengkuh wanita itu. Biarlah Indri akan mendapati dirinya ada dalam dekapan Indra keesokan pagi. Indra hanya merasa bahwa pelukan itu memang sudah seharusnya dilakukan.


Sebenarnyalah, bagi Indra, rengkuhannya itu mengungkap tiga kata yang sangat ingin diucapnya bersamaan: aku lelah, maaf karena selalu membuatmu menunggu, dan terima kasih karena kau masih mau tersenyum padaku.


***


"Makanan dari mana itu?" letup Indra heran saat mendapati meja ruang tamu mendadak penuh oleh begitu banyak paket yang sepertinya dihias apik oleh pita-pita renda--dan kini sudah dibongkar oleh Indri hingga menampakkan isinya. Banyak sekali cemilan dan kue yang setahu Indra, berasal dari berbagai daerah dan kota.


Indra mendekat, masih menatap takjub pada seisi meja yang penuh. "Harusnya tidak sebanyak ini, 'kan."


"Ah iya. Yang lain itu juga termasuk hadiah pernikahan kita yang baru tiba, hadiah untuk pengangkatanku, lalu yang itu juga untuk promfosi jafatanmu ...."

__ADS_1


Sadar bahwa ada yang aneh dengan akhir suara Indri, Indra menoleh dan mengerjap saat mendapati wanita itu ternyata sedang melahap satu potong kue. Kue itu diketahuinya sebagai salah satu kesukaan Indri karena penuh citarasa madu dan ditaburi gula halus.


Hendak memakan sisa separuh keping kue yang barusan dimakan, Indri baru sadar Indra sedang menatapnya. Wanita itu mengerjap lugu dan menawarkan kue yang barusan hendak dimakan. "Mau setengah dariku?"


Indra pun mendekat. Tangannya meraih dan menuntun tangan Indri itu ke bibirnya. Indra meraup kue itu ke dalam mulut--karena memang cukup kecil untuk bisa dilahap sekaligus. Itu akan terlihat seperti Indri menyuapi Indra.


Indri kontan merona ketika sisa remah di ujung-ujung jarinya ikut dijilat lelaki itu. "... anu ... Indra?"


"Kau lupa? Kue ini juga kesukaanku." Indra tersenyum tipis saat melihat sisa remah juga di bibir Indri. Jarinya menyeka lembut remah-remah itu. "Jangan makan terburu-buru seperti tadi atau kau akan tersedak--sisakan juga untuk nanti malam saat kita bekerja."


Indri hanya bisa mengangguk kikuk, lantas buru-buru kembali memilah kue-kue. Wanita itu tak lagi berminat pada kue barusan--setidaknya untuk sekarang.

__ADS_1


Terlebih, saat Indra pergi ke atas, Indri sempat melihat sang suami juga menjilati remah yang diseka dari bibirnya.


__ADS_2