![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indra tidak ada kerjaan. Dan ia tidak sengaja memandang rambut sepunggung Indri yang sedang tergerai. Buku tebal di pangkuannya pun untuk sementara diabaikan. Tangan Indra terulur, menyentuh dan menelusupkan jemari ke urai lurus rambut itu. Sangat lembut dan halus seperti biasanya, sampai-sampai Indra tidak yakin apakah ia sedang meraba sutra atau rambut. Indra meraih sejumputnya hati-hati, mendekatkannya ke hidung dan menghirup harum anggrek yang sebenarnya tidak terlalu manis, justru aroma yang samar seperti itu membuatnya tenang. Indra selalu menyukai harum itu dan memejam demi mendalami harum yang memenuhi paru-parunya, sedangkan jumput rambut itu semakin dihirup dan dikecupinya.
"... ehm, Indra?"
Indri yang sedang menenun dengan duduk membelakangi lelaki itu pun kebingungan dan kikuk mendapati tingkah Indra. Plus, tegurannya tadi seolah cuma angin lewat bagi sang suami.
***
Indri terbangun lebih dulu. Dan ia mendapati Indra yang masih lelap dengan posisi lelaki itu yang masih merengkuhnya dari depan. Wajah Indra sedang terbenam nyaman di dada atasnya, tepatnya di bawah dagu Indri. Kedua lengan kokoh lelaki itu juga masih mendekap tubuhnya erat, sehingga Indri bisa merasakan punggung rapuhnya yang direngkuh hangat oleh tangan besar Indra. Indri agak tidak tega membangunkan karena tumben-tumbennya Indra belum bangun saat fajar sudah menanjak. Napas lelaki itu juga terdengar sangat halus dan pulas, itu ikut membuat Indri damai mendengarnya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Indri selain menunggu Indra bangun. Maka perempuan itu menggerakkan tangannya, menyusuri rambut Indra. Jemarinya tenggelam di antara rambut lelaki itu dan mengusap kepala Indra perlahan. Selalu, terasa lebih halus dari penampilan luarnya, seperti sedang mengusap bulu anjing yang paling lembut. Ujung-ujung rambut itu juga menggelitik leher dan rahangnya. Indri selalu menyukai sensasi itu, plus bisa menghirup aroma pinus samar yang menguar. Indri tidak sadar bahwa dirinya mendadak betah berlama-lama mengusap rambut lelaki itu.
Indri tak tahu bahwa Indra sebenarnya sudah bangun. Indra sengaja bergeming, ingin membiarkan usapan lembut itu berlanjut dan membuainya. Dalam momen ini, mereka berada sangat dekat sehingga Indra enggan menjauh. Lelaki itu kembali memejam rileks, menghirup aroma tubuh Indri dalam-dalam, dan tidak melonggarkan pelukan sedikit pun pada sang istri.
***
__ADS_1
"Mau jalan-jalan?"
Mata setengah terpejam Indra sedikit tersingkap. Ia menggumam seadanya.
Indri hanya tersenyum geli. Ia baru akan melangkah bersama pemuda itu. Hingga tiba-tiba ia merasakan sengat kecil di belakang kepala. "Akh!"
Pekik pelan Indri langsung membuat mata Indra terbuka sepenuhnya. Pemuda itu menoleh. "Ada apa?"
Indri meraba area belakang kepalanya. Lalu meringis saat mencoba menjauh dari dekorasi buket bunga di belakangnya. "Sepertinya ... rambutku tersangkut di ranting."
Yang tak disadari Indra, Indri seketika menahan napas karena pemuda itu berada tepat di hadapannya. Terlalu dekat hingga Indri bisa mencium aroma pinus samar dari tubuh Indra. Ditambah dengan kedua lengan terjulur ke belakang Indri, Indra sekilas tampak seperti memeluknya.
Meski tempat itu agak terpisah dari aula istana, tamu-tamu dalam jarak terdekat tampak menahan senyum melihat mereka. Lantas buru-buru menjauh.
Indri baru bisa bernapas ketika Indra akhirnya menarik diri. Pemuda itu hanya mengangkat sebelah alis, tidak mengerti kenapa Indri tampak begitu lega.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus memotongnya. Mungkin sebatas bahu," gumam Indri seraya melirik sekilas rambut sepunggungnya yang tergerai itu. "Sudah terlalu panjang."
"Jangan dipotong."
Indri menatap Indra tak berkedip.
Indra segera mengalihkan pandangan. Suaranya kaku. "Biarkan saja."
"Tapi rambutku bisa tersangkut lagi seperti tadi. Lagipula ini merepotkan saat aku--"
"Kubilang biarkan."
Indri mengatup mulut rapat. Tak menyangka Indra bersikeras. "Dan kenapa?"
Indra meliriknya. Utamanya pada rambutnya yang tergerai lemas di bahu dan mengilap samar oleh sinar matahari dari jendela. "Aku menyukainya." Pemuda itu langsung beranjak. Menuju pintu keluar. Berusaha menyembunyikan tulang pipi yang samar memerah.
__ADS_1
Siapa pun tahu itu bukan kata-kata penggoda, tetapi Indri tak bisa menahan wajahnya yang memanas.