Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
8


__ADS_3

Ketua OSIS mereka adalah salah satu definisi dari pacar idaman. Indri sudah mendengar itu berulang kali semenjak sang ketua dilantik sebulan lalu.


"Ah, sungguh, apa lagi yang kurang darinya?" ulang salah satu teman perempuan Indri gemas. "Tampan, cerdas, dingin, tegas, bisa memasak, jago olahraga--dan meskipun dia berasal dari keluarga yang biasa saja, siapa, sih, yang bisa menolaknya?"


"Penggemar ketua di sekolah ini benar-benar membludak--aku salah satunya," jujur teman Indri yang lain. Ia menangkup wajah dan mendesah penuh damba. "Yang membuat Ketua sangat memikat itu karena ia beda dari pemuda populer lainnya di sekolah ini. Dan itu yang membuatnya menarik dan menawan."


Siswi lainnya melambai-lambaikan tangan ke depan wajah gadis itu. "Awas halu," ejeknya. "Jujur, aku penasaran apakah Ketua punya pacar--atau pernah menyukai seseorang. Ketua tampak seperti orang yang tak peduli pacaran."


"Memang. Apa kau pernah melihatnya bersama seorang perempuan lebih dari sepuluh menit--kecuali dengan para pengurus dan anggota OSIS?" timpal siswi lainnya. "Bahkan kulihat sudah banyak murid perempuan yang berani mendekatinya, entah adik kelas bahkan kakak kelas. Tapi setelahnya, mereka tak tampak lagi di sekitar Ketua."


"Kudengar mereka menyerah karena kata-kata Ketua yang lumayan pedas terhadap mereka." Siswi lainnya agak bergidik. "Yah ... tapi tetap saja Ketua sangat diidolakan. Pemuda yang dingin selalu menjadi primadona, ya."


Indri sejak tadi tidak berkomentar dan hanya mendengarkan selagi ia memakan roti selai kacangnya. Sebetulnya ia tidak mendengarkan sepenuhnya karena suasana kantin yang ramai. Pikirannya masih terpatri pada salah satu soal dalam ulangan Fisika tadi yang masih membingungkannya.


"Indri, bagaimana pendapatmu?" Akhirnya salah satu temannya berinisiatif mengembalikan fokus Indri, meski sebenarnya ia gemas karena Indri tampak biasa saja dengan obrolan mereka.


Indri menyedot susu kotaknya sebelum menatap mereka tak berkedip. "Tentang apa? Ulangan tadi?"


"Ah! Jangan ingatkan itu lagi! Tahu, kok, kamu itu peringkat kelima angkatan, Sayang." Salah satu temannya mendengus masam. "Bagaimana pendapatmu tentang Ketua?"


"Ketua?" Indri menyedot lagi susu stroberinya. "Dia Ketua yang hebat dan bisa diandalkan. Sangat bekerja keras."


Teman-teman Indri serasa ingin tepuk jidat. Murid secerdas Indri ternyata masih sebegini polos tentang laki-laki.


"Tidak. Bukan tentang kinerjanya," tegas temannya yang lain sesabar mungkin. "Apa pendapatmu sebagai perempuan?"

__ADS_1


"Dia adalah teman laki-laki yang hebat dan bisa diandalkan--"


Salah satu temannya sontak mengangkat kedua tangan. "Oke! Oke! Kami menyerah! Tidak usah dilanjutkan!"


"Percuma," komentar siswi lain. "Indri, 'kan, sudah punya laki-laki lain yang menyukainya. Jelas ia tidak peduli."


Teman-teman Indri lainnya sontak memandang Indri dengan kaget, menggoda, sekaligus jengkel. Indri sendiri juga hampir tersedak dan menatap siswi itu sama kaget.


"Siapa yang menyukai Indri?!" desak salah satu siswi karena siswi itu tak kunjung melanjutkan. "Dia harus orang baik-baik! Indri terlalu polos dan baik!"


Suara siswi itu cukup keras sehingga sempat membuat murid-murid di sekitar meja mereka menoleh penasaran.


Indri buru-buru berbisik pada siswi tadi. "Anu, siapa yang kau maksud?" ringisnya.


Siswi itu malah mengernyit. "Lho, bukannya Kak Raka sempat mengajakmu bicara berdua minggu lalu? Bahkan kau juga sempat cerita kalau dia mengajakmu jalan-jalan kemarin, 'kan? Jangan pura-pura tidak peka--aku tahu kau gadis yang sangat peka. Kak Raka sedang mendekatimu, tahu. Dari Liana, kudengar dia sering bertanya tentangmu--bahkan dia pernah bertanya ke teman sekelas kita. Dia menyukaimu, Indri. Jangan bilang kau tidak sadar?"


Suara baru itu mendadak masuk percakapan sebelum Indri sempat menanggapi. Mereka langsung mengenali suara itu dan sontak menoleh. Betapa kaget dan gugup teman-teman Indri saat mendapati orang itu adalah Ketua OSIS yang tiba-tiba sudah berdiri di ujung meja mereka.


Kekagetan itu mengular ke orang-orang sekitar sehingga seisi kantin senyap perlahan. Adalah kejadian langka melihat sang ketua secara langsung menghampiri bahkan memanggil seorang siswi. Bahkan walau dua orang itu seangkatan, murid lain tahu bahwa dua orang itu beda kelas dan tidak terlalu akrab--terlihat berjalan bersama maupun mengobrol pun tidak pernah.


Indri adalah satu-satunya orang yang tidak terlalu terkejut. Ia justru tampak agak kikuk. "... ya, Ketua?"


Sebutan 'Ketua' itu justru membuat sang ketua mengernyit, seperti mendengar suara berisik yang merusak ketenangannya. Pemuda itu melirik sekilas teman-teman Indri--yang seketika mengalihkan pandangan dengan gugup. Ia kembali menatap Indri. Kali ini lebih lurus dan intens. "Sudah kubilang berhenti memanggilku begitu. Panggil namaku." Pemuda itu mengedikkan dagu. "Ikut aku. Sekarang."


Perintah itu hampir mengundang keributan dan kehebohan seisi kantin, terlebih teman-teman Indri. Mereka amat penasaran. Bagaimana dua orang itu bisa saling kenal? Bahkan ini pertama kalinya sang ketua menyampaikan permintaan nama panggilan seperti itu.

__ADS_1


Daripada kehebohan itu bertambah parah, plus ingin segera menjauh dari semua orang dan semua tanda tanya, Indri pun menurut dan beranjak.


Sang ketua menggamit tangan gadis itu dan menggenggamnya erat untuk ditariknya menjauh dari kantin. Diabaikannya keributan yang makin membahana di belakang sana. Dipelototinya setiap murid yang berpas-pasan dengan mereka--membuat murid-murid yang awalnya kaget itu buru-buru memberi jalan. Indri hanya bisa pasrah dan tersenyum meringis pada setiap murid yang menatapnya penasaran.


Mereka akhirnya berhenti di atap sekolah. Tanpa melepas genggaman tangan, sang ketua berbalik menghadap Indri. "Kau tidak cerita apa pun padaku tentang Raka," interogasinya masam.


"Kak Raka hanya kebetulan akrab denganku karena dia teman kakakku," jelas Indri tenang dan kalem.


"Tapi dia menyukaimu."


"Lalu kenapa?"


Sang ketua terbungkam sebentar. Kalah telak. Pemuda itu mengembuskan napas jengkel. Suaranya kemudian sudah lebih tenang, tetapi masih ada kemasaman. "Panggil namaku mulai sekarang."


"Bukankah kau yang bilang tidak ingin hubungan kita diketahui murid lain?"


"Aku sudah lelah digosipi. Memang harusnya aku segera mengklaimmu agar tidak didekati lagi seperti itu. Dan aku tidak tahan mendengarmu terus memanggilku 'ketua'. Kau bukan bawahanku di OSIS. Kau gadisku."


Indri pura-pura membenahi anak rambutnya yang tersibak angin, menyembunyikan wajahnya yang menghangat. Memang, ia belum terbiasa. Mereka bahkan baru berpacaran dua bulan lalu, setelah mereka selalu saja tak sengaja bertemu di perpustakaan kota. Jelas tidak ada murid yang tahu hubungan mereka karena mereka bertemu dan menjalani kebersamaan di luar sekolah. Hanya keluarga mereka yang tahu saat mereka kadang mengunjungi satu sama lain. Ia mencintai laki-laki di hadapannya kini. Itu jelas, tetapi Indri tentu butuh waktu untuk terbiasa mengistimewakan sang ketua yang penuh kuasa ini, bukan?


Mendapati kesenyapan Indri yang berlangsung lama, sang kekasih pun menangkap kegugupan gadis itu dan menghela napas perlahan. "Aku mengerti. Kau belum terbiasa."


"Maaf. Aku ... hanya malu."


Ucapan lugu itu mengundang senyum tipis sang ketua. Hanya gadis itu yang berhasil membuatnya tersenyum lepas seperti ini. Bertepatan, akhirnya, bel masuk berbunyi. Mereka terdiam kaku, menyadari apa yang akan terjadi setelah ini saat mereka kembali ke kelas. Tentunya, hujan pertanyaan dan gosip.

__ADS_1


"Apa yang harus kukatakan ... Indra?"


Akhirnya mendengar kembali gadis itu menyebut namanya, Indra merasa lebih sejuk ketimbang pusing memikirkan solusi pertanyaan itu. "Katakan saja semuanya. Agar mereka segera diam."


__ADS_2