Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
41


__ADS_3

Indri mengembuskan napas perlahan dan serileks mungkin untuk mengembalikan tenaga. Ia harus bisa tetap terjaga sampai satu jam ke depan jika ingin pekerjaannya selesai malam ini, walau rasanya mengantuk sekali. Apa lagi ia selalu tak kuat begadang. Setelah menyeruput kembali kopinya--Indra pasti akan menceramahinya agar tak minum kopi andai lelaki itu sedang tidak lembur malam ini--Indri kembali berkutat dengan evaluasi poin murid-muridnya. Setengah jam berlalu dan ia mulai lelah. Agar kembali rileks dan fokus, Indri bersandar sejenak di kursinya dan menatap ke seberang. Tepat ke meja kerja kosong di sana.


Sudah sejak tiga hari lalu Indra harus pergi ke kota sebelah untuk mengurus pembukaan cabang perusahaannya. Lelaki itu tidak bisa memastikan kapan akan pulang, dan itu membuat Indri mau tak mau merindukannya. Hanya sekejap setelah ia berpikir begitu dan wajahnya agak merona, Indri segera menggeleng pelan dan kembali fokus ke pekerjaannya. Namun, beberapa menit berselang, ia mulai tidak kuat menahan kantuk. Maka daripada tertidur sebelum ia sempat menyadarinya, Indri menyingkirkan semua berkas ke pinggir, lantas melipat lengan dan merebahkan kepala di sana. Ia ingin tidur sebentar.


Saat Indri membuka mata, seketika ia tahu bahwa ia ternyata malah bablas tidur sampai pagi. Namun, yang lebih membuatnya kaget adalah dirinya yang ternyata ada di ranjang, serta seseorang yang juga tidur bersamanya dan sedang mendekapnya dari depan sehingga dahi mereka bertemu. Tak lain adalah sang suami yang masih begitu lelap dengan napas yang teratur menerpa wajahnya.

__ADS_1


Indri hampir tersentak kikuk, semata karena ia benar-benar terkejut mendapati Indra yang ternyata sudah pulang. Plus kemeja lelaki itu yang tidak terkancing--barangkali karena saat itu sedang musim kemarau sehingga malam terasa menggerahkan--dan menunjukkan dada bidang dan otot-otot di perutnya. Indri tidak siap dengan semua kejutan ini sehingga ia makin merona, tetapi di satu sisi merasa amat senang dan sejuk. Ia merindukan dekapan ini dan rupa menawan lelaki itu yang betah dipandanginya. Indri pun memberanikan diri mengusap leher Indra perlahan dan mengecup bibirnya.


Sentuhan lembut itu selalu bisa membangunkan Indra. Matanya terbuka, menunjukkan iris kayu lembapnya yang menatap iris emas di hadapannya dengan setengah mengantuk, sekaligus menyorot teduh. "Indri," lirihnya serak.


Indri hanya tersenyum kecil dan menyingkirkan helai rambut yang menutupi pipi Indra. "Pagi."

__ADS_1


Saatnya berangkat. Ketika Indri hendak membuka pintu, Indra menahan bahunya lembut. Indri kebingungan dan menatapnya penuh tanya, tetapi Indra lebih memperhatikan kerah kemeja perempuan itu.


"Aku tidak suka kemejamu seperti itu. Terlalu terbuka," jelas Indra masam. "Permisi." Ia mengancingkan bagian kerah kemeja Indri sehingga seragam itu menutupi hingga leher sang istri.


Indri justru baru menyadari itu dan segera menambah gugup, "Ah, terima kasih. Aku tidak sadar yang di situ belum terkancing. Sungguh. Maaf ...."

__ADS_1


"Lain kali, jangan berpenampilan terbuka begitu. Kecuali jika hanya denganku." Indra mengecup bibir Indri lembut dan tersenyum tipis. "Ayo berangkat."


__ADS_2