![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Sepulang dari festival dan ia diantar kembali oleh Indra, Indri terheran saat mendapati anggota keluarganya yang lengkap di ruang keluarga rumahnya.
Sang ayah duduk di sofa terbesar yang segaris lurus dengan pintu dan hanya berselimut jubah tidur sederhananya. Sang ibu ada di sofa sebelah dan merekahkan senyum. Sang kakak duduk berpangku lutut di sampingnya dan ikut melirik. Sang adik ada di antara sang ibu dan kakak serta langsung melongok antusias. Sementara di sofa seberang, ada juga sang kakak sepupu dan sang sepupu yang tumben-tumbennya ikut berkumpul.
Indri lebih dulu mengerjap, agak terkejut dan tambah heran. Ia baru akan bertanya jika tak merasakan tarikan pelan di tangannya. Perempuan itu baru sadar kalau Indra masih menggandengnya sejak dari festival.
Indra menuntunnya menuju sofa pendek di seberang sang ayah. Lelaki itu tersenyum singkat saat menilik kebingungan Indri. "Duduk saja."
Indri tak pernah secanggung ini bersama keluarganya. Tidak jika waktunya terlalu mendadak dan Indra juga ikut serta. Ditambah, sekarang sudah mulai larut malam.
"Habis dari festival?" Sang ayah berbasa-basi.
Indra mengangguk. "Maaf karena terlalu malam."
Sang ayah tertawa pelan. "Remaja seusia kalian memang wajar ingin bersenang-senang sepuasnya." Pria itu berhenti perlahan untuk mengubah ekspresinya menjadi serius. "Jadi ... apa itu benar, Indra?"
Indra menegak perlahan. Matanya memandang lurus dan yakin pada sang ayah. "Tentu."
Indri kontan melirik keduanya bolak-balik. Ia ikut menatap sang ibu dan yang lain, menuntut penjelasan. Namun, mereka hanya tersenyum dengan maksud berbeda-beda. Sang sepupu memberikan cengiran mencurigakan.
"Aku menginginkan yang terbaik," ungkap sang ayah tanpa mempedulikan kebingungan sang putri. "Memang benar ... selama ini, aku tak bisa berbuat apa-apa. Sebelumnya pun aku menjadi ayah yang gagal." Pria itu lalu menatap Indri sendu sekaligus bahagia. "Namun ... dia telah melampaui apa yang kuinginkan."
Indri tertegun dan terus menatap sang ayah lekat.
Sang ayah lebih dulu mengendalikan diri dan menatap Indra. Lebih serius dan intens. "Dan mungkin kau sadar telah sempat menambah deritanya."
Dirasakan oleh Indri, genggaman Indra pada tangannya mengerat. Tidak terlalu keras. Lelaki itu seperti berusaha menguatkan dan meyakinkan diri.
"Tetapi," sang ayah perlahan tersenyum lembut, "kau yang sekarang ... juga melampaui harapanku."
Indra tampak terhenyak. Mulutnya yang terkatup rapat dipaksa membuka. "... Terima kasih."
Sang ayah mengangguk hikmat, lantas melirik sang ibu.
Sang ibu pun menatap Indra sepenuhnya. Wanita itu tersenyum sejuk. "Apapun, demi kebahagiaan Indri ... kurestui."
Indri kontan menatap sang ibu tak berkedip. Sementara Indra kembali merasa isi dadanya meluap.
__ADS_1
"Aku tidak akan banyak berkomentar," tanggap sang adik saat giliran sang ibu yang meliriknya. Remaja 17 tahun itu tersenyum lebar. "Aku akan selalu mendukung."
"Yah." Sang kakak mengusap tengkuknya sebentar, lantas memandang Indra lekat-lekat. "Kuakui kesungguhanmu. Bagus, Indra. Mau tak mau, aku harus melerakan Indri."
Indra tak menjawab. Ia balas menatap teguh.
Indri belum bisa menangkap apa yang mereka bicarakan, maka ia beralih pada dua orang terakhir.
Seraya bersedekap, sang kakak sepupu tersenyum tipis. "Aku tak keberatan. Sejak dulu, kalian memang tak akan bisa dipisahkan."
"Oh astaga. Aku tak menyangka hari ini akan tiba!" letup sang sepupu tak tahan lagi. Ia mengulas cengiran amat bahagia dan puas. "Selamat, kalian berdua. Rukun-rukun, ya. Oh! Dan ijinkan aku ikut mengajari Indra junior--atau Indri junior juga boleh. Aku akan menjadi paman yang baik!"
Raut serius Indra langsung berubah masam. "Tidak boleh."
"Hei, hei, kau mau satu keluarga jadi pendiam? Rumah tangga yang indah itu adalah yang penuh keceriaan dan--"
"T-Tunggu sebentar!"
Mereka semua kontan menatap Indri yang telah bangkit berdiri. Ekspresi gadis itu campur aduk. Bingung, heran, terkejut, tercengang, ditambah malu. Pipinya sudah merah padam. "A-apa yang ... kalian ... bicarakan ...?"
Hening sebentar.
Di sisi lain, sang adik mati-matian menahan tawa menggoda. Sang kakak sepupu mendengus geli. Sang ibu tetap pada senyum sejuknya dan sang ayah cuma menggumam, "sama-sama pendiam, ya."
Pada akhirnya Indra menghela napas pelan. Lelaki itu ikut berdiri dan menatap gadisnya lekat. "Indri."
Indri nyaris terbungkam. "... ya?"
Ditunggu beberapa detik, rupanya Indra tak membalas jua. Lelaki itu justru terus menatap Indri, ingin sekali mengatakan sesuatu tetapi masih butuh keberanian.
Sang kakak tiba-tiba bangkit. "Baiklah, semuanya. Mari kita beri mereka ruang."
Bahkan kepergian sang kakak dan yang lain pun tak sempat Indri pedulikan. Hingga ruangan itu sunyi dan hanya terdengar tonggeret malam yang samar dari luar, perempuan itu tak bisa melepas atensi dari Indra. Apa yang Indra ingin bicarakan amat penting bagi keduanya dan entah bagaimana Indri bisa mengetahui itu.
"Maaf." Adalah kata pertama yang Indra lirihkan. "Atas segalanya. Atas apa yang kulakukan di masa lalu ... apapun itu."
Indri tak berkedip.
__ADS_1
"Aku selalu berusaha membuatmu benar-benar bahagia." Indra menatap sendu. "Aku tidak pernah benar-benar tahu caranya, maka aku terus berusaha."
"Sudah." Indri akhirnya bisa tersenyum, tipis dan tulus. "Kau selalu mengusahakan yang terbaik. Itu sudah sangat cukup untukku."
"Tidak akan pernah cukup." Suara Indra tiba-tiba berubah serius. Tatapannya meneduh. "Aku ingin terus mempedulikanmu."
Segalanya mendadak sunyi sekali hingga Indri seperti bisa mendengar detak jantungnya yang berdentum keras. Perempuan itu kian membeku saat Indra mendekat dan mendekapnya. Tidak terlalu erat dan hanya seperti Indra ingin mengukungnya, tetapi Indri bisa merasakan kekakuan pada gerakan lelaki itu, cenderung memberanikan diri.
"Bukan cuma sekarang." Suara Indra pun bahkan berusaha dikeluarkan hingga menyerupai bisikan. Lidahnya seolah kelu, tetapi terus dipaksakan oleh tekad. "Aku ... ingin menjagamu. Untuk seterusnya ... dan selamanya."
Butuh beberapa detik bagi Indri untuk mencerna. Keluarga yang berkumpul larut malam. Keseriusan sang ayah dan Indra. Sang sepupu yang mendadak sangat bahagia dan menyelamati mereka. Lalu kata-kata Indra barusan.
Wajah Indri memanas dalam sekejap. "... J-Jadi ... tadi itu ...."
Indra melepaskan dekapan, tetapi tidak menjauh hingga lelaki itu itu terpaut jarak amat dekat dengan Indri. Matanya kini bisa memandang serius sekaligus lembut. Akhirnya, ia bisa berujar mantap, "Iya."
Jika ada yang lebih membahagiakan dari mendengar pernyataan perasaan Indra dulu, itu adalah sekarang. Indri tak bisa bereaksi banyak lagi. Seisi dadanya bergemuruh dan membuncah. Sesak dan riuh sekali. Luapan emosi itu ikut membuat air matanya terancam meluap saking bahagianya. Tidak kuasa lagi, Indri menghambur dan memeluk Indra erat. Perempuan itu terisak lega.
Biasanya Indra akan langsung menceramahi maupun menenangkannya jika sampai menangis, tetapi kali ini lelaki itu diam. Air mata Indri kali ini tidak patut dihapus. Air mata itu adalah termasuk yang Indra tunggu. Maka lelaki itu balas memeluk erat dan membiarkan Indri menangis sepuasnya di bahunya. Sebelah tangannya mengusap perlahan surai sang perempuan seraya ia tersenyum lembut.
Setelah beberapa menit lamanya, Indri bisa kembali tenang, tetapi belum mau menjauh dan masih erat melingkarkan lengan.
"Sudah malam," Indra mengingatkan. "Kau tidak lelah?"
Indri menggeleng di bahu Indra. "Mana bisa aku tidur?"
"Maksudmu?"
"Setelah apa yang terjadi," Suara Indri semakin pelan dan malu, "Aku ... terlalu senang."
Indri kemudian merasakan tangan Indra yang mendorongnya pelan dan mereka kembali berhadap-hadapan. Indra beralih mengangkat kedua sisi wajahnya hingga mereka bisa menatap satu sama lain lebih lekat dan leluasa.
"Apa jawabanmu?" bisik Indra sedikit cemas. "Jika kau belum siap, aku--"
Suara Indra tertelan karena Indri menghentikan pergerakan bibirnya dengan telunjuk. Indri tersenyum tertahan. Rona merah bahagia menjalar di pipinya. "Kau sudah tahu jawabannya, 'kan?"
Indra masih ragu. "Aku tidak ingin memaksamu," lirihnya lembut.
__ADS_1
"Aku akan selalu bahagia dan menyukai semua yang kau usahakan untukku." Indri balas tersenyum tulus dan sejuk. Rona merahnya menjelas saat ia menyambung pelan, "itu karena ... aku mencintaimu."
Kebimbangan Indra pun lenyap. Ekspresinya jauh lebih rileks dan lega. Mulutnya terkatup rapat seperti menahan luapan emosi. Lelaki itu berhasil mengulas senyum yang mewakili seluruh kebahagiaan dan rasa syukurnya. "Aku juga," bisiknya haru. "Terima kasih ... Indri."