Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
17


__ADS_3

Baru beberapa minggu lalu Indri melihat satu hektar tanah itu masih penuh pohon dan belukar raksasa. Kini, bahkan hanya dengan melihatnya dari dalam jendela kereta kuda, Indri sampai terpana melihat rumah lantai dua yang telah berdiri di sana beserta halaman depan yang tertata rapi dan asri. Rumah itu ada tepat di perbatasan antara hutan dengan ladang dan kebun super luas milik penduduk lain. Hutan di sekitar rumah itu juga sedikit dibuka dan 'dirapikan' hingga rumah itu seolah ada di antara taman penuh pohon. Tak ada kesan angker lagi seperti yang dilihatnya waktu itu.


Setelah mereka menurunkan beberapa bawaan yang tak begitu banyak--serta berusaha menolak tawaran bantuan dari sang supir dengan halus--Indri masih terkesima dan memandang rumah berdinding putih itu. Tidak begitu mewah, tetapi tetap terlihat nyaman sesuai harapannya. Darahnya berdesir ketika mengingat lagi bahwa rumah itu kini menjadi rumah tetapnya. Tempatnya melanjutkan hidup hingga--barangkali--akhir hayat nanti. Indri akan menghabiskan sisa hidupnya di rumah itu bersama dengan lelaki yang dicintainya.


"Mereka memilih pekerja bangunan terbaik." Indra berkomentar seraya meregangkan badan. Masih pegal karena resepsi kemarin yang benar-benar makan seharian. Ia tersenyum tipis pada Indri. "Mereka membuatnya sangat sesuai dengan permintaan kita. Ayo. Kita harus menata barang dan memasak makan siang. Kau masih kelelahan, 'kan?"


Memang benar. Semua kelelahan mereka kini adalah akumulasi kelelahan sejak rangkaian panjang pernikahan mereka sejak seminggu lalu.


Entah perasaan Indri saja atau apa, lelaki itu menjadi lebih banyak tersenyum padanya sekarang. Terutama sejak mereka berikrar sumpah pernikahan. Perempuan itu merasakan pipinya agak menghangat. Ia mengangguk kecil dan tersenyum. "Ayo. Kau bahkan lebih lelah dariku--hampir tertidur berkali-kali di mobil tadi."


Indra hanya mendengus, tetapi tetap mempertahankan senyum tipisnya. Ia menggamit tangan Indri lembut dan menariknya menuju ke hadapan pintu depan. Lelaki itu mengeluarkan rangkaian kunci rumah yang telah dimintanya untuk dibuatkan secara pribadi. Rangkaian itu hanya terdiri atas dua kunci. Ia memisah rangkaian kunci itu, lantas memberikan salah satu kunci pada Indri.


Indri seketika paham dan menyimpan kunci itu, bersamaan dengan Indra yang membuka pintu. Demi melihat isi rumah yang ternyata sudah sangat lengkap dari segi properti, perempuan itu agak melongo takjub. Ia sampai menghabiskan waktu beberapa belas menit untuk berkeliling dan melihat semua properti, sedangkan Indra terlebih dahulu meletakkan ransel besarnya serta ransel Indri ke kamar di lantai dua. Yang membuat Indri seketika hampir geleng-geleng adalah karena semua properti itu berasal dari para perajin dan perusahaan paling bergengsi. Alias, kualitasnya tingkat tinggi. Ia sudah mengatakan pada sang ayah dan sang kakak untuk tidak perlu menunjang mereka dengan barang-barang mewah. Itu memang benar, tetapi ternyata semua barang di rumah itu adalah yang paling baik di antara yang terbaik.


Indri meletakkan sekantung besar bahan makanan di meja makan, bersamaan dengan sang suami yang turun dari lantai dua dan telah melepaskan mantelnya. Tanpa ganti baju terlebih dahulu, mereka putuskan untuk langsung memasak makan siang. Selain karena matahari sudah di atas kepala, mereka butuh tenaga untuk menata barang-barang. Seperti biasa, Indra mengambil alih sebagian proses memasak tanpa diminta. Mereka saling bantu mengolah dan mengambilkan bahan makanan. Tak lupa, saling mencicipi masakan yang hampir selesai. Semua itu sudah menjadi kebiasaan dan refleks karena mereka telah memasak bersama-sama sejak bertunangan. Termasuk ketika setelah mereka selesai makan, keduanya saling membantu membereskan isi meja, membersihkan peralatan makan, dan menata sisa bahan makanan di rak untuk makan malam.


Saatnya mengatur barang. Sebenarnya yang mereka bawa selama perjalanan cuma barang-barang yang perlu mereka atur sendiri seperti berkas-berkas pekerjaan dan pakaian. Lagi-lagi Indri dibuat takjub oleh ruang perpustakaan merangkap ruang kerja yang tepat bersebelahan dengan kamar mereka. Bagian rak-rak buku di ruangan itu memang atas permintaan Indra, tetapi ternyata para pekerja menanggapi itu dengan serius hingga memberikan rak tinggi penuh buku segala. Bahkan semua bukunya benar-benar berkaitan dengan bidang ilmu yang dipinta Indra. Semua itu pasti menjadi surga tersendiri bagi mereka yang suka membaca buku. Sampai-sampai Indri melihat sendiri betapa lama lelaki itu berkeliling di rak dan melihat satu-persatu buku, seperti terkagum-kagum sekaligus puas. Indri berani sumpah. Andai Indra sedang tidak dalam keadaan lelah seperti dirinya, lelaki itu mungkin akan langsung mengurung diri di ruangan itu dan melahap semua buku di sana. Indri diam-diam menikmati pemandangan itu dan betah menunggu seraya duduk di karpet tebal nan lembut di sudut ruangan--itu permintaan darinya. Hanya Indri yang tahu betapa lucu ekspresi Indra saat berada di antara rak penuh buku. Terhitung hampir setengah jam mereka di ruangan itu. Indra sampai minta maaf karena ia terlalu lama.

__ADS_1


Ketika mereka dalam perjalanan hendak kembali ke kamar, Indri kebingungan mendapati lima ruangan lain di lantai dua itu. Ia yakin itu bukan kamar tamu karena sudah ada dua kamar tamu di bawah. Indri mengintip isi 5 ruangan itu. Ternyata masih kosong. Ia berpandangan dengan Indra yang juga agak heran. Mereka tak meminta 5 ruangan itu sebelumnya. Namun setelah mereka berpikir baik-baik, barulah diketahui alasannya. Mereka seketika terdiam canggung dengan wajah memanas. Sudah jelas lima ruangan itu masih kosong. Kelimanya adalah ruangan khusus untuk anak-anak mereka--dan kenapa harus lima?


Buru-buru menepis segala hal tentang itu, mereka segera lanjut mengatur barang-barang. Tidak mudah untuk langsung melenyapkan kecanggungan sehingga hening menguasai kamar mereka selagi keduanya mengatur baju masing-masing. Hampir semua baju itu sebenarnya adalah hadiah pernikahan. Hanya segelintir yang benar-benar baju mereka.


Setelah menyimpan ransel, Indra langsung jatuh telentang ke ranjang dan mendesah lelah. Selagi menatap menerawang pada langit-langit, ia merasakan angin sejuk menerpa tubuhnya yang kini telah berganti pakaian dengan kemeja. Indri telah membuka pintu balkon hingga angin bebas masuk dan mengibarkan gorden. Lelaki itu beralih menatap sang istri yang berdiri di balkon seraya menatap hamparan pemandangan ladang dan kebun di luar sana. Angin ikut mengibarkan rok kelabu selutut dan rambut Indri.


Indri beranjak masuk setelah puas menikmati pemandangan luar. Perempuan itu tersenyum kikuk saat mendapati Indra yang ternyata sedang memandanginya. "Ada apa?" tanyanya basa-basi. Ia duduk di tepi ranjang di sebelah Indra dan menggenggam tangan lelaki itu. "Kau benar-benar lelah?" bisiknya cemas.


"Ini cuma lelah karena kesibukan." Indra balik menggenggam tangan itu lembut. Ia memang masih lelah hingga rasanya ingin tidur. Apalagi hening kamar itu sangat damai dan angin yang berembus sangatlah membuai, tetapi Indra masih ingin bicara. Selama seminggu ini, mereka jarang bisa bicara empat mata dalam keadaan sedamai ini--pasti selalu diselingi kesibukan tentang pernikahan. "Benar juga," ungkapnya canggung saat mengingat sesuatu. "... apa kau sudah menentukan jawaban terhadap tawaran Ayah dan Ibu?"


Wajah Indri memanas drastis. Ia menolak menatap Indra. "... kau sendiri?"


Justru Indri semakin bingung memutuskan. Ia juga masih malu membicarakan ini. Tawaran yang dimaksud sudah mereka bicarakan dengan sang ayah dan sang ibu sebelum pernikahan. Indri tak menduga orang tuanya itu ternyata serius ingin membantu mereka dalam hal ini, tetapi itu malah membuatnya makin malu saat membayangkan.


"Jika aku boleh memberi saran," jujur Indra kaku, "... aku tidak ingin lokasinya diketahui siapa pun. Hanya kita yang tahu."


Mengabaikan wajah yang masih panas, Indri menatap lelaki itu bingung. "Kenapa?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin kebersamaan kita tidak diganggu siapa pun. Jauh dari sepengetahuan siapa pun." Indra beralih menatap langit-langit untuk menyamarkan kecanggungan, tetapi genggaman tangannya mengerat lembut. "Hanya kita berdua."


Kalimat terakhir itu sama sekali tak membantu Indri meredam panas di wajah. "Kau berkata seolah kita akan diganggu."


"Kalau kau lupa," desir Indra jengkel, "kita memang selalu diganggu oleh orang-orang."


Indri langsung paham dan tertawa kecil. Memang, rasanya sangat menjengkelkan ketika momen mereka yang ini ikut diganggu oleh teman-teman mereka, tetapi ia yakin mereka tidak akan sebegitu nekat hingga mengganggu mereka kali ini. Pasalnya, momen kali ini terlalu ....


"Bagaimana?" Indra kembali buka suara. Nadanya telah dilunakkan dan dilembutkan agar tak menambah dilema Indri. "Aku juga ingin memutuskan sesuai keinginanmu."


Indri sejenak menunduk untuk memandangi tangan mereka yang saling genggam. Panas wajahnya tak kunjung reda. Siapa yang tidak malu jika membicarakan hal seperti ini? Akan tetapi, setelah ia merenung lama, Indri pun menghimpun keberanian untuk memutuskan. Segala rasa malu disingkirkan. Untuk apa rasa malu itu? Itu hanya akan membuat mereka terus menunda--dan Indri tidak ingin Indra terus menunggu walau lelaki itu mengatakan tidak keberatan. Lagi pula, untuk apa lagi rasa malu itu ketika lelaki di hadapannya ini telah menjadi suaminya--dan dirinya telah menjadi istri lelaki itu? Mereka adalah milik satu sama lain sekarang. Mereka mencintai dan mempercayai satu sama lain hingga tak perlu ada rasa malu di antara mereka. Keputusan pun diambil. Indri menatap Indra dalam-dalam selagi rona merah di wajahnya menguat. "Aku ... punya rekomendasi tempat yang bagus," mulainya gugup. "Aku ... ingin kita ke sana ... minggu depan."


Indra seketika tersenyum lembut. Ia sudah menduga Indri pasti sudah memikirkan tempat di luar yang ditawarkan raja dan ratu. Ia sudah tahu bahwa Indra juga tak ingin momen mereka diganggu. Tentu saja. Bukankah bulan madu harus bersifat privasi agar mereka bisa menjalaninya dengan lebih tenang? "Aku selalu mengikuti keputusanmu."


Indri sudah tak bisa berkomentar lagi. Perempuan itu beringsut mendekat dan berbaring menyamping di sebelah Indra. Wajahnya yang masih merona disembunyikan ke balik bahu lelaki itu. "Ayo tidur. Aku lelah."


Indra ikut mengubah posisi menjadi menyamping dan menghadap Indri. Jemarinya meraih dagu perempuan itu. Indra mengecup bibir Indri lembut. Lelaki itu tersenyum teduh saat melihat rona merah yang kentara di pipi Indri. Ia mengecup pipi halus itu sekilas, lantas merengkuh Indri mendekat hingga wajah perempuan itu terbenam di dadanya. "Aku juga lelah." Sekejap, Indra telah jatuh dalam pulas nyenyak.

__ADS_1


Justru Indri yang butuh waktu beberapa menit untuk tidur. Jantungnya susah sekali ditenangkan.


__ADS_2