![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
Indra kalap berjalan. Nyaris berlari jika saja kerumunan orang tak menghalanginya. Ia menerobos masuk dengan paksa. Sebenarnya tidak sulit karena orang-orang langsung menyingkir begitu melihat ekspresi wajahnya.
Indra sungguh berharap bahwa kemungkinan terburuk tak terjadi. Bisikan dan komentar di sekitar turut memperparah kecemasan dan ketakutannya. Kecelakaan yang parah dan besar. Banyak yang tak sempat berlindung dan tertimpa reruntuhan dari rangka konstruksi gedung baru yang ternyata masih rapuh.
Indra panik mencari dan menyusuri lorong rumah sakit terdekat yang telah penuh oleh orang-orang terluka. Keringat dingin mengaliri pelipis seiring degup jantungnya yang kian gelisah. Untungnya, salah seorang perawat menyadari gelagatnya.
"Dia ada di bilik paling ujung--"
Indra langsung tancap gas setelah menepuk sekilas bahu perempuan itu--tanda terima kasih. Langkahnya semakin cepat dan mengentak. Napasnya memburu oleh ketakutan. Begitu menangkap pintu ruangan di ujung lorong, ia langsung membukanya.
Seketika mengalihkan pandangan dari jendela, Indri berdiri terpaku. "Indra--"
Indri tak diijinkan menjelaskan karena Indra telah mendekat dan menariknya. Mendekapnya erat, tetapi masih hati-hati agar tak menyiksa gadis itu.
"Sudah kubilang untuk hati-hati," desis Indra sarat emosi dan ketakutan. "Kenapa bisa sampai begini? Kau memaksakan diri, 'kan?!"
__ADS_1
Indri menggigit bibir bawah. "Maaf--"
"Belum cukup! Itu tadi sangat berbahaya dan kau nyaris--" Indra mengerang kesal, lalu berbisik penuh penekanan. Pelukannya berusaha tak dipererat. "Kau ... kau tidak tahu betapa takutnya aku."
"Indra, sungguh. Aku ... minta maaf." Indri ikut merasa sesak oleh luapan emosi pemuda itu. Matanya berkaca-kaca. "Maaf ...."
Indra berdesir, semua bercampur antara kecewa, marah, sedih, takut, dan cemas. "Tolong ... jangan seperti ini lagi. Kau membahayakan nyawamu."
"Maaf."
"... maaf ...."
"Aku tak mau melihatmu terluka lagi, Indri. Aku ... takut kehilanganmu."
Air mata Indri benar-benar turun. Ia balas memeluk dan membenamkan wajah di bahu sang kekasih. Suaranya serak dan pedih. "Maaf, Indra ... aku benar-benar ... minta maaf."
__ADS_1
Indra berusaha menata napas. Tubuhnya masih bergetar oleh ketakutan sekaligus rasa syukur karena Indri selamat--setelah tertimpa reruntuhan rangka baja hanya demi melindungi seorang remaja perempuan. Perasaan mencekam itu sudah lama tak menyiksa Indra. Terakhir dirasakannya saat Indri terlibat kecelakaan bus. Indra harus merasakannya lagi sekarang. Hanya karena masalah sepele.
***
Hanya hari libur biasa ketika Indra dan Indri memilih diam di rumah ketika hujan lebat terjadi di luar sana. Malam baru saja tiba dan mereka telah selesai makan malam. Tidak ada pekerjaan untuk malam ini, maka mereka memilih menghabiskan sisa waktu dengan duduk berhadapan di dekat balkon kamar. Meja bundar memisahkan mereka. Mereka memang sengaja menempatkan satu set meja dan dua kursi itu di sana agar sewaktu-waktu bisa bersantai sembari memandangi apa pun di luar sana melalui pintu kaca balkon. Namun, karena saat itu sudah malam, tirai sudah ditutup dan hanya temaram lentera-lentera di dinding kamar yang menemani.
Hening tercipta karena mereka sedang tekun mengerjakan masing-masing hobi. Indri dengan perhatian dan rileks merajut sepasang sarung tangan sehingga jarum-jarum rajutnya berbenturan dalam suara pelan dan monoton. Suara itu tidak mengganggu Indra yang sedang fokus membaca buku, justru itu menyumbang suara selain gemuruh hujan di luar sana. Mereka juga ditemani sepiring kue kering bertabur kismis dan sepasang mug berisi cokelat panas. Sesekali mereka berhenti hanya untuk melahap satu keping kue maupun menyesap cokelat panas, atau sekadar melirik aktivitas satu sama lain sekilas.
Kali berikut setelah Indra menyesap minumannya, Indri berhenti sejenak untuk meregangkan jari-jarinya sekaligus memeriksa ulang pekerjaannya. Ia juga mengubah posisi duduk agar lebih nyaman. Itu membuatnya menyempatkan diri menatap Indra yang sudah kembali fokus ke bacaan. Perempuan itu tak berkedip saat tak sengaja melihat sisa minuman cokelat yang menempel di sudut bibir Indra. Itu terlihat lucu dengan ekspresi Indra yang kembali serius selama membaca buku. Indri diam-diam menahan senyum geli. Tidak ada sapu tangan di dekat mereka, maka Indri mencondongkan badannya maju dan menjulurkan tangan. Hati-hati agar tak mengejutkan Indra, tangannya perlahan menyentuh dagu lelaki itu. Sentuhan itu seketika membuat Indra mendongak dan menatapnya tak berkedip, tetapi Indri hanya tersenyum dan lanjut menggerakkan tangannya. Lembut, ibu jari Indri mengusap sisa cokelat di sudut bibir lelaki itu.
Indra sempat diam terpaku oleh usapan itu, lantas agak menunduk untuk melihat apa yang sedang diusap Indri. Ia melihat sisa minuman cokelat yang telah berpindah ke ibu jari perempuan itu. Indra seketika paham.
Indri sudah akan menarik tangannya, tetapi Indra menahannya tetap di tempat dengan sebelah tangan. Indri merasakan pipinya menghangat saat Indra kemudian menjilat lembut sisa cokelat di ibu jarinya. Barulah setelah itu Indra melepas tangannya dan sekilas tersenyum lembut, sebelum kemudian melanjutkan membaca buku.
Suara ketukan jarum-jarum rajut baru terdengar lagi setelah agak lama. Kali ini pun, nadanya terdengar agak kacau karena Indri masih menata kegugupan.
__ADS_1