Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
51 (pt 4)


__ADS_3

Hal pertama yang mencuat di pikiran Indri saat tahu bahwa surat undangan itu berasal dari Kerajaan Naturalis: Indra pasti ikut hadir di acara tersebut. Perempuan itu langsung menerima undangan tanpa pikir panjang dan sempat mengundang heran para pelayan dan keluarganya, tetapi ia segera menggaet sang adik--lagi--untuk ikut dalam pesta itu agar tindakannya tak makin dicurigai, plus beralasan bahwa sang adik akan memastikan keselamatannya selama pesta mengingat kerajaan mereka masih terlibat perang dingin. Indri tahu bahwa perasaannya yang sebenarnya pasti diendus oleh sang adik yang keterlaluan cerdasnya, tetapi Indri tak merasa cemas akan hal itu. Sang adik pasti paham suasana hatinya dan tak akan langsung memberitahukan orang lain. Indri juga berjanji padanya akan menceritakan lengkapnya suatu saat nanti, sedangkan sang adik cukup memperhatikan saja untuk sementara ini.


Indri lebih tidak sabar sekaligus berdebar menanti hari itu tiba. Butuh dua minggu perjalanan kereta hingga ia dan sang adik serta beberapa pengawal pribadi sampai di Kerajaan Naturalis. Berbeda dari Kerajaan Aurum yang beriklim salju dan selalu dingin, Kerajaan Naturalis beriklim tropis dan selalu hangat. Kebetulan saat itu adalah awal musim kemarau hingga seluruh perkebunan dan perladangan yang mendominasi wilayah kerajaan tampak teramat subur dan hijau. Berbeda dengan Kerajaan Aurum yang dominan berpakaian berat dan elegan, Kerajaan Naturalis dominan pakaian berwarna pastel dan ringan. Segala aktivitas sehari-hari kerajaan itu juga tampak jelas seperti perdagangan, pertanian, perladangan, hingga gotong royong di beberapa tempat. Militer kerajaan itu mungkin sedikit di bawah Kerajaan Aurum, tetapi kerajaan itu bisa menjadi adikuasa karena kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Makanan berlimpah hingga kerajaan itu hanya perlu memikirkan militer. Berbeda dengan Kerajaan Aurum yang walau mumpuni dalam militer, tetap harus kerja keras agar rakyat tetap makmur. Maka bisa bersekutu atau menguasai Kerajaan Naturalis akan menjadi keuntungan berlipat ganda bagi kerajaan mana pun.


Hal itu direnungi Indri, tetapi ia berusaha tak menumbuhkan kesan demikian. Ia datang hanya untuk bertemu Indra sekaligus mengenali kampung halaman lelaki itu, bukan untuk keinginan menguasai apalagi menjajah Kerajaan Naturalis. Lagipula, pertama kali menjejak kaki, ia sudah jatuh cinta pada segala seusatu di kerajaan itu: suasananya, rakyatnya, dan alamnya. Indri sulit untuk menjadi tega menganiyaya negeri seindah itu.


Satu hal unik dari acara yang akan dihadirinya adalah acara tersebut digelar dengan tujuan bergaul dan mencari pasangan hidup. Pantaslah ritual merangkap acara itu bisa mengundang siapa pun tergantung keinginan dari sang subjek ritual. Inti acara adalah para hadirin yang akan mencari pasangan untuk berdansa dan menari, maka di sini, bukan hanya subjek ritual yang mencari pasangan. Mereka yang sebenarnya tak mengidamkan subjek ritual pun bisa ikut mencari pasangan yang diinginkan dalam acara ini. Acara ini berlandaskan salah satu kebudayaan klan Naturalis tentang pencarian pasangan hidup melalui tarian bersama. Mereka meyakini bahwa melalui pendekatan ekspresif dan kolaborasi itu, sebuah pasangan menjadi paham satu sama lain dan bisa menilai apakah mereka sudah cocok atau tidak.


Ada hal wajib dalam ritual yang akan berlangsung tiga hari itu: setiap hadirin tak perlu menyiapkan busana, justru pihak penyelenggara yang akan menyediakan busana dan topeng. Khusus topeng, harus dikenakan setiap malam untuk memudahkan setiap orang mengenali siapa yang sudah atau belum diajaknya menari. Penutupan wajah seperti itu juga membuat seseorang tak akan memandang fisik, melainkan tingkah laku orang bersangkutan. Ini juga yang menjadi aspek penting agar subjek ritual tak terpikat hanya karena fisik.


Indri sangat bersyukur terhadap aspek wajib ritual itu. Ia tak perlu takut jika ia semakin dikenali banyak orang. Hadir di acara seperti itu saja sudah membuatnya agak cemas mengingat posisinya sebagai Putri Mahkota yang harusnya tak bisa sembarangan mencari pasangan hidup, tetapi keinginannya untuk bertemu Indra mampu meredam kecemasan itu.


Bukan di aula istana, tetapi acara itu digelar di sebuah alun-alun yang berada tepat di bawah naung sebuah pohon raksasa tua. Lentera-lentera menggantung di antara cabang pohon seolah pohon itu memiliki buah-buah bercahaya. Dekorasi yang dominan masih memanfaatkan bahan dari alam seperti kayu yang diukir, bentang kain sutra, dan tempat duduk dari rotan berkualitas. Tak perlu dekorasi yang mewah karena seisi alun-alun akan menjadi lantai dansa. Kini pun, sudah banyak yang mulai menemukan pasangan dan coba-coba menari serta berdansa. Kunang-kunang mengitari alun-alun hingga menambah pencahayaan alami dan suasana yang ceria.


Sejak sempat didekati seorang pria saat pesta dulu, Indri menjadi lebih sering di dekat sang adik sepanjang acara. Ia bahkan ikut sang adik ke mana-mana bahkan saat lelaki itu cuma pergi untuk mengambil minuman. Sang adik tidak keberatan dan malah mengingatkan Indri untuk tak jauh-jauh darinya karena Indri sempat cerita tentang pria itu--plus sang adik merasa ngeri jika ia sampai membiarkan Indri kenapa-kenapa, ia bisa kena hajar kakak sulung mereka. Indri hanya sedang tak ingin diajak siapa pun sebelum bertemu orang yang dicarinya dari tadi, maka ia terus menggaet lengan sang adik seperti anak kecil yang tak mau ditinggal seraya terus celingukan.


Alangkah sulit Indri mencari sosok yang padahal sudah diingatnya baik-baik. Berbeda dengan topeng pada pesta sebelumnya yang sederhana dan hanya menutupi sekitar mata dan hidung, topeng yang disediakan klan Naturalis memodifikasi bentuk kepala hewan. Itu membuat hiasan topeng menjadi lebih besar dan sukses menutupi separuh kepala hingga hanya menyisakan bagian bawah wajah dan kepala. Saat itu, Indri mengenakan topeng burung jalak yang berwarna putih kapas dengan corak biru. Ada hiasan bulu-bulu di tepinya hingga menutupi pucuk dan sisi kepalanya. Senada dengan topengnya, Indri mengenakan gaun selutut berwarna putih kapur yang memiliki ornamen emas. Beruntung gaun itu menutupi seluruh tubuh atasnya hingga lehernya, sedangkan lengan gaun juga sepanjang lengannya dan memekar di siku. Di bagian dada, manik-manik dan berlian putih bertabur di atas ornamen emas. Kaki jenjang Indri juga ditutupi dengan sepatu dengan lilitan-lilitan tali putih di sepanjang betisnya. Itu semua membuat Indri benar-benar seperti burung jalak karena penampilannya serba putih. Indri sengaja memilih warna itu karena itu sudah menjadi kesukaannya. Busananya sebagai Putri Mahkota juga didominasi perak, putih, dan emas sehingga Indri telanjur terbiasa memilih warna-warna itu.

__ADS_1


"Aku sudah menduga kau akan memilih gaun dan topeng itu."


Kembali muncul secara mendadak, suara itu masih terdengar tenang dan dalam, tetapi kali ini juga terdengar lebih teduh. Suara yang langsung dikenali Indri. Suara yang selama sebulan ini terus terngiang di kepalanya. Perempuan itu bahkan menoleh lebih cepat sebelum ia menyadarinya, lantas mendapati sosok yang hanya dengan melihatnya, Indri langsung berdebar.


Sang adik menangkap reaksi Indri dan menatap lelaki di depan mereka itu penasaran. Ia langsung tahu bahwa lelaki itulah yang akhir-akhir ini telah memikat kakaknya--hanya dengan menilai gelagat lelaki itu yang terlihat rileks di depan Indri tapi tetap santun padanya. Sang adik hampir tak percaya. Ternyata benar dari Naturalis seperti dugaannya. Sang adik memindai lelaki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Lelaki Naturalis itu mengenakan jubah cokelat tua sewarna tanah lembap dengan ornamen emas. Setelan dalamnya berwarna putih tulang dengan celana cokelat gelap. Busana itu senada dengan topeng burung elangnya yang dihiasi bulu cokelat sehingga menyamarkan seluruh kepala bagian atasnya. Penampilannya itu seolah sudah direncanakan bersama Indri hingga mereka bisa sama-sama memilih burung. Perawakan lelaki itu tinggi tegap serta atletis seperti prajurit profesional hingga sang adik sempat mengira bahwa lelaki itu adalah petinggi militer, tetapi nalarnya tak setumpul itu. Pemilihan busana mereka pasti bukan kebetulan, plus ia mengaitkannya dengan gelagat gelisah Indri selama sebulan ini. Pastilah lelaki Naturalis di depannya ini lebih dari sekadar petinggi militer.


"Anda adiknya, saya tebak?" terka lelaki itu tiba-tiba masih dengan nada tenang dan dalam.


Lelaki itu tersenyum tipis. "Apa boleh saya mengajak kakak Anda berdansa?"


Satu hal yang membuat sang adik terkagum: gelagat lelaki itu yang benar-benar tenang dan santun padanya. Bahkan dirasakannya Indri bereaksi dengan langsung mengendurkan genggaman pada lengannya. Sang adik melirik sang kakak dan mendapati perempuan itu menatapnya dengan tatapan memelas. Sang adik memahami isyarat itu dan mau tak mau mengalah. Ia yakin bahwa Indri pasti bisa menjaga diri dan tak seceroboh itu jatuh cinta pada lelaki yang buruk. Sang adik pun balas tersenyum geli dan mengangguk pada Indri, lantas mengangguk pada lelaki Naturalis itu dan menjauh untuk memberi mereka waktu berduaan.


Sepeninggal sang adik, Indri justru menjadi sangat kaku dan canggung saking berdebarnya. Justru saat sudah bertemu sosok yang dirindukan seperti ini, ia menjadi luar biasa kelu. Selagi meremas gaunnya gugup dan menatap lantai alun-alun yang tersusun atas balok batu, ia berusaha memikirkan kata-kata.


"Kau pernah bilang menyukai warna putih, perak dan emas di suratmu yang keseratus tujuh belas." Justru Indra yang memulai duluan dalam suara tenang yang tak ada habisnya. "Kau juga pernah bilang tak menyukai gaun yang terbuka, terutama gaun yang membuat tato klanmu terlihat di surat ke dua ratus lima. Maka aku meminta para penjahit terbaik untuk membuatkan itu--sudah kuminta mereka tutup mulut jika ditanya. Aku sengaja memilih warna putih. Bagiku, itu yang paling cocok untukmu. Kau suka?"

__ADS_1


Indri tak bisa berkata-kata. Rona merah di wajahnya tersamar oleh topeng, tetapi ia tetap menunduk kikuk dan mengangguk kaku.


Indra tersenyum kecil mendapati kecanggungan perempuan itu. Ia menawarkan tangan.


Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir Indri membiarkan tangan kecilnya dilingkupi erat oleh tangan besar itu. Hangat yang timbul oleh genggaman tangan Indra seolah ikut menghangatkan tubuh dan wajahnya. Jantungnya berdebar nyaman dari yang sudah-sudah. Perlahan, tangannya ditarik. Indra menuntunnya menuju tengah alun-alun.


Keduanya pun ikut menjadi atensi orang-orang yang menonton dansa. Sebenarnyalah orang-orang itu menonton karena mereka ingin mencari sang subjek ritual yang tak lain adalah sang pangeran, tetapi tak kunjung ketemu. Subjek ritual memang sengaja dibuat tak mencolok agar bisa berbaur dalam acara. Itu membuat mereka yang ingin melihat calon pasangan sang pangeran menjadi kesulitan. Bergabungnya Indra dan Indri ke tengah alun-alun pun ikut menarik atensi mereka. Fisik sang pangeran sebenarnya cukup mencolok karena paling atletis dari pangeran pada umumnya, tetapi mereka tak bisa serta-merta menyimpulkan karena kepala Indra juga tersamar oleh bentuk topeng.


Situasi ini agak berbeda dari pesta sebelumnya hingga Indri kembali gugup, tetapi Indra menenangkannya dengan meremas tangannya lembut. Jemari Indra meraba dagu Indri dan mengangkatnya perlahan hingga kontak mata mereka akhirnya terjadi setelah satu bulan lamanya. Seiring satu tangannya ditaut erat dan pinggangnya direngkuh mendekat, Indri seketika melupakan segala hal di sekitarnya dan fokusnya terkunci hanya pada mata Indra. Jantungnya kian berdebar hingga serasa ingin meloncat ketika Indra membawa tubuhnya lebih rapat hingga mereka bisa merasakan embus napas satu sama lain. Dirasakannya Indra memulai dengan gerakan-gerakan halus. Kaku dan canggung Indri perlahan luruh seiring kontak mata mereka yang terus terjadi. Kontak mata itu seolah menjadi penyaluran perasaan yang membuat Indri menjadi teramat damai dan meluap. Kontak mata itu menguatkan perasaannya sekaligus membuatnya memahami isi hati Indra saat ini. Satu yang paling bisa ditangkapnya: perasaan Indra sewarna dengan perasaannya kini.


Indra tersenyum tipis mendapati perasaan yang sewarna pula di mata perempuan itu, lantas mulai melibatkan gerakan yang lebih ekspresif. Mereka berputar dan menjejak alun-alun lebih lincah dan luwes. Keduanya mulai saling melepas dan saling beriringan. Indri akhirnya berhasil mengembangkan senyum dan berputar hingga gaunnya mengembang. Indra ikut berputar hingga jubahnya terkepak. Mereka semakin bersemangat bergerak hingga terlihat seperti menyalurkannya juga dalam jejak kaki di lantai. Keduanya sukses menguasai seisi alun-alun karena terus menyusurinya dalam gerakan yang ekspresif dan ceria. Mereka kini seperti menari dalam suasana hati yang meluap bahagia dan riang hingga membuat pasangan lain menunda dansa untuk menonton mereka. Berkali-kali busana mereka mengembang dan mengibas oleh gerakan ekspresif. Sering mereka berseling luwes hingga kadang terlihat seperti tarian perang, kadang terlihat pula seperti tarian duet. Napas mereka memburu. Senyum kian mengembang. Kontak mata tak pernah lepas. Penghayatan keduanya bahkan membuat para pemusik ikut mengubah melodi menjadi bersemangat khas lagu festival.


Puncaknya adalah ketika Indra kembali mendapatkan tangan Indri dan langsung menariknya mendekat, lantas membiarkan perempuan itu terkulai di topangan lengannya hingga rambut Indri berjatuhan menyentuh lantai alun-alun. Wajah mereka kembali berada di jarak teramat dekat hingga hidung nyaris bersentuhan. Indri sukses menahan napas dan bisa melihat betapa dalam dan teduh sorot mata Indra kini. Bersamaan, melodi berakhir. Sorak dan tepuk tangan menggemuruhkan tempat itu.


Indra perlahan menarik Indri kembali tegak dan yang agak mengejutkan orang-orang, sekaligus memeluknya. Cuma sebentar. Indra melepas pelukan dan meraih tangan perempuan itu, lantas mengajaknya berjalan ke pinggir, lanjut keluar alun-alun. Kepergian mereka kembali disayangkan oleh para hadirin, tetapi setelah itu acara tetap dilanjutkan seperti sebelumnya.


Sang adik pun merasa ia tak perlu mengejar keduanya. Ia sampai terkesima dan tak bisa berkata-kata melihat bagaimana keduanya menari tadi, serta bagaimana Indri begitu mempercayai Indra di setiap gerakan dan bagaimana Indra dengan sangat lembut dan halus menuntunnya. Sang adik hanya paham satu hal: kakaknya pasti baik-baik saja bersama orang Naturalis itu.

__ADS_1


__ADS_2