![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
"Kau sudah mengunci semua pintu dan jendela di lantai dua?"
Seraya membawa jas yang tersampir di lengannya, Indra menapak turun di tangga. "Sudah dari tadi. Bagaimana lantai satu?"
Bertepatan dengan itu, Indri selesai mengunci jendela di ruang tamu. Perempuan itu menoleh pada Indra yang berjalan ke ruang keluarga. "Ah, nanti sore aku ingin berbelanja di pasar. Siapa yang bawa uangnya?"
"Kau saja." Indra cekatan mengambil kumpulan berkas laporan di meja ruang keluarga. Semua itu sudah bantu dirapikan dan disusun Indri agar ia bisa langsung membawanya--karena semalam Indra sempat lembur hanya untuk menyelesaikan semuanya. Lelaki itu meletakkan sebentar jasnya agar bisa memeriksa ulang semua berkas dengan kedua tangan, memastikan tak ada yang ketinggalan. Ia mendongak sekilas ketika melihat Indri datang dari sudut mata. "Kau menyusunnya seperti yang kuinginkan," pujinya pelan. Sebuah berkas lantas dicermatinya sungguh-sunguh untuk memastikan bahwa semua sudah tercantum di sana. Satu tangannya berkacak pinggang.
Indri menahan senyum dan mengambil jas Indra. "Sebenarnya ... aku hanya menebak-nebak. Syukurlah kalau itu membantumu."
"Sangat membantu. Kau sepertinya berbakat pada hal ini ya." Atensi Indra teralih ketika Indri menyampirkan jubah itu ke bahunya, bantu memakaikan. Sebelah lengan Indra yang bebas pun masuk ke lengan jas, kemudian lanjut ke lengan satunya hingga jas itu telah pas memeluk Indra. Lelaki itu sekilas mengusap kepala sang istri dan tersenyum tipis. "Terima kasih."
Indri hanya balas tersenyum ringan dan mengangguk. "Lalu? Apa ada berkas yang kurang?"
"Lengkap." Indra mengumpulkan kembali semua berkas ke dalam map kulit. "Ayo berangkat. Ini sudah jam untukmu, bukan?"
"Tidak juga. Hari ini jadwalku hanya siang hari. Mungkin aku akan bantu beberapa hal di akademi pagi ini." Beriringan dengan Indra menuju pintu depan, mereka serentak pula mengenakan sepatu masing-masing. "Kau sendiri? Kemungkinan akan lembur lagi hari ini, 'kan?"
__ADS_1
Indra sedikit masam karena diingatkan tentang itu lagi. "Sungguh. Tidakkah mereka ada niat untuk merekrut orang lagi di administrasi? Sampai harus minta bantuanku segala?" gerutunya.
Indri tak kuasa meredam tawa geli. "Kau memang berbakat di segala bidang--dan aku rasa kontribusimu dinilai sangat loyal dan bisa diandalkan." Perempuan itu berdiri dan menimang kunci. Ia berjalan ke pintu depan. "Itu bagus. Kau telah membuktikan pengabdianmu dan orang-orang makin mempercayaimu."
Indra sejenak menatap punggung Indri lurus-lurus. "Aku tidak terlalu butuh semua itu," ucapnya pelan, tetapi masih terdengar oleh Indri. "Aku justru mengambil pekerjaan ini agar bisa terus menjagamu."
Tangan Indri berhenti. Kunci di genggamannya tertahan di depan lubang pada kenop pintu. Indri sudah pernah mendengar alasan itu dari Indra bahkan sejak lama sekali, tetapi entah kenapa ia masih merasa kikuk mendengarnya. Indri baru tersadar ketika Indra sudah mendekat dan menggenggam tangannya itu--mengambil alih kunci. Ketika perempuan itu menoleh, yang didapatinya kemudian justru adalah kecupan lembut di bibir, kemudian senyum teduh Indra.
"Jaga dirimu. Pastikan kau makan siang. Jika ada apa-apa, langsung panggil aku. Sampai jumpa lagi nanti sore." Indra mengecup dahi Indri, lantas tersenyum tipis. "Kita berangkat sekarang?"
***
Masih dengan tatapan sayu, Indra mendengus geli. "... tidak ada cara yang lebih baik?"
"Ayah tak biasanya bangun paling tel'lambat," balas anak perempuan itu dengan cadel yang masih kental. Ia menelengkan kepala hingga rambutnya yang baru mencapai bahu terlihat gemerlap karena terpa matahari dari jendela. "Tadi malam Ayah juga panas sekali. Ibu sudah menyuluh Ayah untuk tidak mengeljakan semua pekeljaan. Ayah sudah sembuh, 'kan?"
Indra sempat tersenyum kecil oleh nalar tajam anak itu di usia yang bahkan masih lima tahun. Seperti de javu. Ia mengusap lembut kepala anak itu. Tangannya yang besar bisa merasakan betapa mungil anak di hadapannya itu. "Ayah sudah tidak apa-apa. Yang lebih penting lagi, kau tidak sarapan? Mana kakakmu?"
__ADS_1
"Tidak akan salapan sebelum Ayah tulun. Kakak masih bantu Ibu." Anak itu justru seenaknya telungkup dan menempelkan dagu di dada Indra. Bibir mungilnya mengerucut masam. Mata bundarnya menyipit, merajuk. "Ayah. Gendong."
"Dasar manja." Meski berkomentar begitu, Indra tetap bangkit terduduk seraya kedua tangannya menopang dua sisi tubuh anak itu, lantas mengangkatnya semudah mengangkat boneka dan menempatkannya dalam gendongan hingga kepala anak itu bersandar pada bahunya. Ia beranjak menuruni ranjang. "Kau tidak membantu ibumu, huh?"
Tepat sekali, pintu kamar itu terbuka lebih lebar dan menampakkan sosok yang baru saja dibicarakan. Ia sempat menghela napas mendapati sang putri yang ternyata benar di situ. "Sudah Ibu bilang untuk tidak mengganggu Ayah, 'kan? Ayah masih butuh istirahat."
Seseorang lagi menyembulkan kepala dari balik kaki sang ibu. Ialah anak laki-laki seumuran sang anak perempuan. Rambutnya sekilas mirip Indra. Sekilas pula, wajah anak itu memiliki bentuk yang mirip dengan sang saudara. Mereka adalah kembar non-identik. Senyum anak itu merekah melihat Indra dan langsung berderap mendekat, menghambur memeluk kaki Indra. "Ayah sudah sembuh!"
Mendapati dua malaikat kecilnya itu sekaligus, Indra merasa teramat hangat dan damai. Lelaki itu tersenyum lembut dan hanya mengusap pucuk kepala anak laki-lakinya.
Sempat tertular suasana yang juga sangat membuat isi dadanya meluap itu, sang istri lantas tersenyum tipis. "Ayo, semuanya. Sarapan sudah siap."
Seolah kini urusan perut mengambil alih, kedua anak mereka tersenyum lebar dan mengangguk, lantas tangkas berderap keluar kamar. Termasuk sang anak perempuan yang tak butuh gendongan sang ayah. Mereka tak perlu khawatir karena kamar itu ada di lantai satu dan kedua anak itu sudah cukup mandiri untuk mengambil sarapan sendiri.
Mereka sesaat berpandangan, lantas saling melempar senyum geli sekaligus lembut.
Indri berjalan mendekat dan meraba dahi Indra. Satu tangannya meraba dahinya sendiri. "Bagaimana? Sudah merasa lebih baik? Perlu kubuatkan obat lagi?"
__ADS_1
Indra menggeleng seraya mengenggam tangan Indri yang meraba dahinya--menjauhkannya perlahan. Ia mendongak dan tersenyum teduh. "Mereka sudah sangat menyembuhkanku."