Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
9 (pt 1)


__ADS_3

Tujuan mereka hari ini sebenarnya semata jalan-jalan berdua, tetapi rasanya ini memang pantas disebut kencan. Itulah sekilas pemikiran Indri ketika sang kekasih akhirnya tiba dan menekan bel pintu apartemennya. Indri telah siap dengan setelan sederhana: mantel kulit pastel selutut yang tipis, kemeja putih dengan benang-benang perak, rok satin cokelat selutut, dan sepatu kulit sebetis. Tas selempangnya juga hanya menampung ponsel, dompet, dan memo yang selalu dibawanya karena kebiasaannya mencatat sesuatu. Rambutnya kali ini dibiarkan tergerai dengan beberapa jalin rambut dibawa ke belakang. Indri juga tak merasa perlu memoles wajahnya, cukup dengan pelembap, tetapi Indri merasa seperti ia menjadi remaja lagi. Terlebih ketika ia segera datang dan membukakan pintu, sang kekasih ternyata juga tampak seperti remaja biasa, padahal umur mereka sudah sama-sama 25 tahun. Lelaki itu mengenakan setelan kasual: kemeja navy kotak-kotak berlengan pendek yang dibiarkan tidak terkancing, dalaman berupa kaos abu-abu polos, celana jins kebiruan, dan sneakers hitam. Indri bahkan hampir mengira lelaki itu mendadak lima tahun lebih muda, saking kasualnya penampilan itu, dan ia sempat terdiam kikuk karena mengakui bahwa lelaki itu tetap tampan dengan pakaian selain setelan kerjanya.


Begitu pula Indra yang sempat mengira dirinya sedang berhadapan dengan Indri muda berusia remaja. Ia juga baru kali ini mendapati Indri berpakaian selain setelan formalnya. Lelaki itu segera berdehem pendek, mencegah dirinya terlalu lama terpana pada penampilan Indri. "Kita berangkat sekarang?" Setelah Indri mengangguk dan mengunci pintu, mereka melangkah beriringan menuju lift, untuk kemudian pergi ke parkiran dan menghampiri mobil silver Indra di sana.


Hening selama perjalanan. Selain karena mereka memang tipikal tenang dan pendiam, mereka sama-sama canggung memulai topik. Ini pertama kalinya mereka jalan-jalan dalam situasi privasi. Bahkan jalan-jalan ini sebenarnya terkesan agak mendadak. Mereka serempak setuju untuk coba keluar berdua, tetapi mereka belum punya rencana akan pergi ke mana saja--meski mereka kemudian sepakat untuk ke tempat-tempat yang mereka sukai.


Akhirnya Indra terlebih dahulu membawa mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Lelaki itu sejujurnya kurang tahu--sangat tidak tahu malah--tentang apa yang ingin dibeli perempuan pada umumnya. Namun, berkaca pada ibu dan adiknya, Indra menyimpulkan bahwa barang seperti baju, sepatu, tas, alat rias, dan perhiasan adalah barang yang paling disukai perempuan. Benar. Setelah mereka sepakat ingin pergi berdua, Indra telah menyiapkan sebagian kekayaannya, khusus untuk membelikan apa pun yang kekasihnya ingin beli. Padahal Indra sangat tahu dirinya amat pelit dalam urusan belanja, kecuali jika ia memang ingin membeli hadiah atau oleh-oleh khusus untuk keluarganya saja, tapi perlakuan spesial itu hampir tidak pernah dilakukannya pada teman-teman sekolahnya dulu--yang seketika membuatnya dijuluki Pelit nan Kikir. Hei, Indra hanya berusaha berhemat! Uang tak mudah dicari--dan Indra juga bekerja keras sebagai CEO karena dia suka uang!


Baiklah. Melenceng.

__ADS_1


Indra bukannya telah menghilangkan sikap super hematnya. Hanya saja, ia memang telah menganggap Indri sama spesial dengan keluarganya--dan itu sudah jelas dengan status mereka yang sudah bertunangan, walau status itu baru saja mereka jalin beberapa hari yang lalu--bahkan momen saat mereka akhirnya mengakui perasaan masing-masing baru terjadi sebulan lalu! Indra tahu ia menunangkan perempuan itu terlalu cepat, tetapi Indri tidak protes dan menerima itu dengan senang dan bahagia, dan Indra merasa bahwa ia tidak pernah seserius ini pada seorang perempuan sehingga ia memang merasa harus segera menunangkan Indri. Bahkan mereka nyaris dinikahkan oleh ayah dan adiknya andai Indra tidak segera menahan dua keluarganya--yang sangat suka menggodanya--itu, dengan dalih bahwa ia dan Indri masih perlu waktu untuk mengenal satu sama lain lebih dalam. Dan, jalan-jalan kali ini adalah salah satu rasional untuk itu.


"Pergilah ke mana pun dan belanja apa pun yang kau inginkan." Adalah titah Indra ketika mereka berjalan memasuki mall. "Aku akan membayar semuanya."


Baiklah. Itu terdengar seolah Indra lebih kaya dari Indri, padahal Indri bahkan bisa membeli mobil Indra sekarang juga kalau perempuan itu mau dengan menelpon sang ayah! Benarlah. Indri seketika berhenti dan menatap Indra terperangah. "Jangan begitu. Aku tidak enak. Jangan habiskan uangmu hanya untukku."


Alasan itu malah lebih tidak diduga Indra, karena ia sempat mengira bahwa Indri akan berdalih bahwa perempuan itu bisa membeli semuanya sendiri. Namun, Indra tersenyum tipis dibuatnya. Inilah salah satu karakter Indri yang disukainya. "Biarkan aku memberikan dan membiayai sesuatu yang kau sukai. Aku ingin membiasakan diri membagi penghasilanku untuk kebahagiaanmu."


Ternyata menghadapi perempuan mandiri sama sulit dengan perempuan matre. Indra mengusap tengkuk, kehabisan cara untuk membuat Indri paham. "Anggap saja ini karena aku telah menganggapmu spesial." Akhirnya ia jujur. "Aku terbiasa membahagiakan keluargaku. Apa pun itu."

__ADS_1


Sepertinya Indri memang hanya luluh jika Indra bicara sungguh-sungguh. Perempuan itu terdiam lama dengan wajah memanas. Ia mengangguk lamat-lamat. "Baiklah--tapi aku akan berusaha tidak merepotkanmu. Semua kekayaanmu adalah hasil kerja kerasmu, Indra, dan aku tidak layak untuk--"


Indra langsung menggandeng tangan Indri untuk masuk ke mall lebih dalam. "Cari saja apa yang kau suka," bisiknya lembut. "Aku lebih suka jika kau bahagia."


Akhirnya Indri tidak protes lagi karena sibuk mengendalikan detak jantungnya.


Sempat Indra kira bahwa perempuan itu akan membeli baju, alat rias, atau semua barang yang dipikirkannya, tetapi Indri pergi ke toko buku. Ternyata hobi mereka sama, dan Indra merasa dirinya payah karena ia bahkan tak tahu hobi kekasihnya sendiri, yang ia tahu hanya makanan kesukaan perempuan itu. Dua jam selanjutnya, mereka sama-sama tenggelam di sana dengan mengelilingi toko dan mencari buku-buku yang mereka inginkan--iya, Indra memang ikut kalap kalau pergi ke toko buku dan tidak bisa pulang dengan tangan kosong.


Selama momen pencarian berdua itu, Indra pun diam-diam mengingat buku jenis apa yang disukai Indri. Ternyata di luar buku tentang pembelajaran maupun bidang ilmu yang ditekuni Indri sebagai asisten dosen, perempuan itu juga menyukai buku biografi, obat-obatan, memasak, bahkan sastra dan novel. Itu tidak jauh berbeda dengan Indra yang menyukai ensiklopedia, buku motivasi, panduan, karya ilmiah, hingga buku tentang bisnis, walau sebenarnya ia tidak begitu menyukai buku fiksi. Akhirnya, mereka pergi ke kasir dengan setumpuk buku kesukaan. Ini bahkan setara berbelanja baju, alat rias, dan sebagainya! Tapi Indra lebih suka pilihan Indri yang ini. Terlebih ketika Indra sempat bertanya, Indri ternyata hanya akan membeli baju, alat rias, dan semacamnya saat ia butuh atau barang sebelumnya sudah tidak layak. Perempuan itu selalu terbiasa mengenakan dan memakai barang yang masih bagus dan layak, sekali lagi, sama seperti Indra yang super hemat. Barangkali mereka akan jadi keluarga super hemat nantinya--dan pemikiran itu sempat membuat Indra terdiam kaku.

__ADS_1


Setelah menyerahkan buku-buku mereka di tempat penitipan barang--mereka tidak mungkin membawa semua beban seberat itu sepanjang jalan-jalan di mall--Indri akhirnya tertarik untuk pergi ke bagian baju, tetapi ternyata baju anak. Indra hampir berpikir nyeleneh bahwa Indri hendak membelikan baju untuk--ehem--calon anak--ehem--mereka, tetapi ternyata Indri ingin membelikan hadiah untuk keponakannya yang baru lahir dua bulan lalu. Indra diam-diam langsung merutuki dirinya yang berpikir terlalu pede. Indri juga sempat melihat-lihat di bagian baju kerja dan alat rias, tetapi itu karena ia ingin melihat model seperti apa yang sedang digandrungi, plus ia mencatat di memonya tentang alat-alat rias tertentu yang ingin dicarinya lebih lanjut sebelum ia yakin membelinya suatu saat nanti. Di sini, Indra diam-diam menyukai dan menikmati apa yang dilakukan perempuan itu. Sangat teliti dan hati-hati, serta tidak kalap dalam berbelanja. Sama seperti dirinya (kecuali jika belanja buku).


__ADS_2