Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
44


__ADS_3

Indra sedang mengembalikan buku yang baru selesai dibacanya ke rak saat tiba-tiba merasakan pinggangnya dipeluk dari belakang. Indra tentunya agak terkejut hingga sempat kaku oleh tindakan tak terduga itu, terlebih sang pemeluk tak ada niat melonggarkan lengan. Lelaki itu kemudian mengelus tangan sang pemeluk seraya mendesis lembut, "Jangan memelukku terlalu erat. Kau bisa membuatnya terimpit."


Tawa Indri meluncur pecah dan manis. Perempuan yang tengah mengandung lima bulan itu menempelkan pipi pada bahu kukuh sang suami. Suaranya mengalun malu-malu. "Aku ada keinginan, tetapi tak akan kuberitahu apa itu. Jadi jangan kaget setelah ini."


Ketika Indri melepas pelukan dan berjalan riang begitu saja keluar ruang kerja, Indra masih belum menangkap maksudnya. Ia tak perlu berpikir lama untuk menebak bahwa keinginan Indri itu ada kaitan dengan ngidam--yang memang makin sering akhir-akhir ini. Namun, Indra selalu tak bisa menebak keinginan Indri yang selalu mengejutkan sekaligus memesonanya. Lelaki itu pun memutuskan tak terus menerka-nerka. Biarlah ia melihat sendiri apa maksud Indri setelah ini.


Benar saja. Indra sukses mematung di ambang pintu kamar mereka dan nyaris ternganga.


"Kemejanya ternyata lebih besar dari dugaanku." Indri sedang memperhatikan dan memutar-mutar tubuhnya. Kemeja putih longgar yang melekat pun terayun-ayun. Kemeja itu benar-benar kebesaran hingga ujungnya hampir mencapai lutut dan lengannya menelan tangan Indri. Perutnya yang telah sedikit buncit semakin terlihat. Ketika baru menyadari keberadaan Indra yang masih terpaku, bagai tersadar sekaligus tertangkap basah, wajah perempuan itu merona hebat. Indri memeluk dirinya sendiri dan memalingkan muka. Itu membuat helai rambutnya berjatuhan dan makin menutupi pipi yang memerah. "... ma-maaf. Aku ... aku hanya ingin mencobanya. Sungguh. Aku ... sama sekali tak bermaksud ...."

__ADS_1


Indra agak kesulitan menenangkan detak jantungnya yang berlarian. Lelaki itu lamat-lamat menutup pintu. "... apa ini yang kau maksud?"


Indri mengangguk sangat pelan. Ia gugup menggerakkan tangan. "Mu-mungkin sebaiknya kulepas saja--"


"Tidak perlu." Indra tak bisa menghentikan balasan spontannya barusan. Lelaki itu pun sudah kepalang menjawab, maka ia memutuskan jujur meski suaranya semakin kaku. "... kau memang cocok ... dalam bajuku."


"Biarkan saja," bisik Indra teduh. "Aku suka melihatmu memakai bajuku."


Indri tak berkutik lagi dan hanya bisa bungkam merona. Bahkan ketika Indra menuntunnya untuk masuk ke dalam selimut, lantas lelaki itu merengkuhnya dari belakang sebagaimana biasa, Indri susah payah menenangkan degup jantungnya. Aroma mint yang tercium kuat--baik dari kemeja maupun Indra sendiri--makin menghangatkan wajahnya.

__ADS_1


"Tapi, dengan kemejaku yang kebesaran begini, kau tidak kedinginan, 'kan?"


Indri agak tersentak karena dikiranya Indra sudah lelap. "Tidak. Selimut ini sudah cukup hangat."


"Bohong. Malam ini dingin untukmu." Indra mendengus geli. "Atau kau memang tidak mau melepas kemejaku?"


Kembali merona hebat, Indri sangat tidak menduga pertanyaan yang terdengar seperti menggodanya itu--walau Indra memang jujur tentang itu. "... Tidak, Indra. Selimut ini ... dan pelukanmu sudah sangat cukup."


Indra diam-diam tersenyum tipis dan membenam wajah di punggung atas Indri. "Kau boleh terus mencoba pakaianku yang lain. Sesukamu, tetapi besok, aku ingin kau memakai sweterku."

__ADS_1


__ADS_2