Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
9 (pt 2)


__ADS_3

Waktunya makan siang. Agar tidak buang-buang waktu, mereka memilih makan di tempat makan di mall yang sama. Tempat yang dipilih dan mereka sukai adalah di taman mall yang teduh karena pepohonan dan taman bunga di sebelah mereka. Tidak ada dari mereka yang bicara selama makan, semata karena kebiasaan keluarga untuk menghargai makanan. Barulah setelah selesai bersantap dan berdiam di sana lebih lama--untuk membiarkan makanan turun ke bawah--selagi mereka bersama-sama mencoba es krim bertabur toping cokelat dan ceri (Sekali lagi, Indra baru tahu bahwa Indri suka es krim), kemudian Indri membuka topik yang nyaris membuat Indra tersedak sendoknya.


"Kakak ingin bertemu denganmu."


Oh tentu saja Indra tahu kakak Indri itu siapa. Kakak laki-laki Indri itu sedang mengabdi pada negara, sama artinya bahwa sang kakak kini merupakan seorang tentara negara yang telah berpangkat tinggi. Indri pernah bercerita tentang sosok sang kakak dan cerita itu bahkan membuat Indra terdiam kaku, membayangkan jika ia bertemu calon kakak iparnya kelak. Dan walaupun Indri sudah meyakinkannya bahwa sang kakak adalah sosok yang hangat dan humoris, tetapi Indra tidak bisa mengabaikan status tentaranya, apalagi Indra pernah tidak sengaja menelepon sang kakak.


Saat itu Indra memang sedang menghubungi Indri, tetapi ternyata sang kakak sedang berkunjung ke apartemen sang adik dan mengangkat telepon itu karena Indri sedang keluar berbelanja makanan. Bayangkan betapa rumit dan kacau situasi saat itu karena mereka malah sama-sama salah paham. Indra hampir mengira bahwa sang kakak adalah lelaki asing yang mendekati Indri (siapa yang tidak curiga jika justru lelaki lain yang memegang ponsel kekasihnya?), dan sang kakak juga langsung curiga dan menginterogasi Indra karena mengira Indra adalah lelaki asing yang coba mendekati adiknya (dan hanya sang kakak yang benar di sini, walau tidak sepenuhnya). Indra masih ingat rahangnya waktu itu langsung jatuh saat sang kakak mengaku sebagai kakak Indri, bahkan ancaman sang kakak berlanjut dan bersumpah akan menembak kepala Indra jika sampai menyakiti adiknya (di sini Indra langsung tahu bahwa ia sedang berbicara dengan orang militer!).


Dan beruntung, Indri telah datang sebelum obrolan itu berubah mencekam, yang langsung ternganga malu karena sang kakak sedang bicara pada Indra, tetapi Indri tidak bisa mengelak dari interogasi semalam suntuk sang kakak setelahnya. Membuat Indra kala itu ikut uring-uringan semalaman karena ia tidak diizinkan menghubungi Indri sampai sang kakak yakin. Untungnya, besok pagi, Indri meneleponnya. Indra sempat waswas jika yang didengarnya adalah suara berat dan mendesis sang kakak lagi, tetapi untungnya yang didengarnya adalah suara halus dan lembut kekasihnya, yang akhirnya menyampaikan bahwa sang kakak telah cukup yakin dengan hubungan mereka, tetapi masih belum seratus persen yakin, alias ingin mengamati perkembangan mereka dulu. Indra tidak pernah bertemu atau bertelepon dengan sang kak lagi karena sang kakak langsung pergi bertugas setelah insiden itu, plus sang kakak tak bisa hadir di acara pertunangan mereka dan hanya bisa menyampaikan selamat via telepon.


"Dia hanya ingin berjumpa biasa, kok." Indri tersenyum geli saat menyadari kaku di wajah Indra, meski dirinya sendiri juga ikut kaku. "Tidak apa. Asalkan kau tidak bermaksud menyembunyikan apa pun, dia sangat hangat dan baik, tetapi mungkin dia akan menginterogasimu sesekali. Kau hanya perlu jujur, 'kan?"


Indra melahap sesendok es krim lainnya untuk bantu meredam kekakuannya. "Harus lebih dari jujur," ungkapnya pelan dan serius. "Aku juga harus meyakinkannya, juga keluargamu."

__ADS_1


"Aku rasa kau sudah melakukan itu. Buktinya ... kita direstui bertunangan."


"Tapi belum untuk menikah." Indra mengistirahatkan sendoknya, kemudian memandang Indri lurus-lurus dan teduh. "Aku akan dan pasti bisa meyakinkan mereka tentang itu. Aku janji. Maukah kau menunggu untuk beberapa lama lagi?"


Pipi Indri merona drastis. Perempuan itu menutup sebagian wajahnya dengan tangan dan segera menghindari tatapan Indra guna menutupi malu. Ia menggumam kikuk, mengiyakan.


Indra hanya tersenyum lembut dan justru ia yang kemudian menghabiskan semua sisa es krim. Mereka kemudian memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Setelah mengambil semua buku dan menyimpannya di bagasi, mereka pergi ke taman kota. Hanya untuk jalan-jalan dan bertukar cerita, seraya menikmati suasana hijau dan sejuk taman kota serta beberapa keluarga di sana yang juga berekreasi. Di akhir, mereka duduk di kursi taman yang menghadap lapangan berumput luas yang menjadi tempat bermain anak-anak, dan Indra menyukai situasi itu yang membuatnya bisa mengamati sisi lain Indri--yang tersenyum dan tertawa melihat anak-anak. Indra sadar bahwa sensasi ini tak pernah dirasakannya, hanya Indri yang membuatnya bisa tersenyum lepas seharian ini. Indra tahu bahwa dirinya tak pernah sampai seperti ini, maka lelaki itu sudah sangat yakin bahwa pilihannya sudah tepat. Perasaannya sudah benar. Ia sekarang membenarkan pandangan para perempuan yang mengincarnya tentang dirinya: sekalinya ia jatuh cinta, ia akan terus mendekap perasaan ini pada orang yang sama dengan erat. Seiring keyakinan itu, tangan Indra bergerak hingga jemarinya menyinggung tangan kanan Indri, lantas melingkupi dan menggenggam tangan perempuan itu lembut, hingga ia bisa merasakan benda yang melingkar di jari manis di sana. Benda itu terbuat dari emas dengan hiasan sederhana berupa taburan serbuk perak yang membentuk ornamen bunga. Benda itu berpasangan dengan cincin Indra yang membentuk ornamen daun.


Indri seketika menoleh kikuk, tetapi ia mendapati Indra hanya menatap lurus ke depan dengan wajah sejuk. Sementara tangan lelaki itu meremas tangannya lebih lembut. Jemari Indra menyentuh telapaknya dan menimbulkan sensasi hangat di sana, serta ibu jari Indra yang mengelus buku-buku jarinya beserta cincinnya. Indri tersenyum tertahan walau wajahnya merona atas perlakuan lelaki itu, kemudian kembali menatap ke depan dan mengamati anak-anak.


"Aku janji aku akan menemanimu lebih lama di kesempatan berikutnya," bisik Indra teduh, masih merasa bersalah. "Maaf jika jalan-jalan kita kali ini tidak berkesan untukmu sampai akhir--"


Indri tertawa pelan. "Tidak usah dipikirkan. Kenapa kau serius sekali? Lagi pula, aku juga punya pekerjaan malam ini. Aku juga takut tidak bisa menemanimu secara penuh jika kau memutuskan tinggal lebih lama." Sejurus kemudian, Indri merona oleh kata-katanya sendiri. Itu terdengar seperti Indra akan menginap di apartemennya.

__ADS_1


"Maka kita perlu mengatur jadwal kita. Jika kau ingin seperti itu, aku juga akan mengusahakan agar aku bisa luang sehari penuh," komentar Indra tenang. "Aku juga tidak suka tidak menemanimu sehari penuh. Hanya di saat seperti ini, aku tidak suka pekerjaan menyelaku."


"Jangan begitu. Kau memang lebih baik fokus bekerja," elak Indri halus. "Bukankah pekerjaanmu yang sekarang adalah cita-citamu? Jangan menduakannya demi aku."


Indra kurang suka perumpamaan itu. "Kau tahu, Indri," desahnya serius, "sekalinya aku menganggap sesuatu spesial dan sesuatu itu bukan keluarga kandungku, aku menganggapnya sama serius dan spesial seperti pekerjaanku. Selain keluarga yang sudah menemaniku sejak lahir, aku tidak mudah menyayangi sesuatu yang asing, dan hanya ada dua hal asing yang membuatku menyerah: cita-citaku, dan dirimu."


Keheningan lorong apartemen membantu semua perkataan itu meresap di pikiran dan hati Indri. Detak jantungnya menggila oleh luap perasaan tak terkira. Luap itu menghangatkan wajahnya.


Begitu saja, seolah sebelumnya tidak mengatakan apa-apa, Indra bergerak untuk mengecup dahi Indri. "Jika bosan, kau bisa meneleponku nanti malam. Aku akan menemanimu bekerja."


"Kita saling menemani." Indri tersenyum geli. "Jangan sampai begadang, Indra. Aku tidak ingin kau sakit."


"Dan aku juga tak ingin kau demikian. Jadi kau harus telepon saat akan tidur, dan harus sungguhan tidur setelah itu."

__ADS_1


Indri tertawa. "Kau juga. Memang apa yang akan kau lakukan jika aku bohong?"


Indra menjawab itu dengan sekilas merengkuh Indri dan berbisik lembut di telinga perempuan itu, seketika membuat Indri merona hebat mendengar kata-kata sang kekasih. Begitu saja, Indra melepasnya dan berlalu pergi seraya mengucapkan 'sampai jumpa nanti malam', meninggalkan Indri yang membalas itu dengan gumam gugup dan masih merona hebat.


__ADS_2