Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
2


__ADS_3

"Laut!" Indri menghirup dalam-dalam aroma samudra yang asin sekaligus manis. Senyumnya kali ini adalah yang terlebar. Matanya berbinar senang oleh kicau ceria camar dan debur ombak yang bergemuruh.


"Kau baru pertama ke sini?" Menyusul setelah menanggalkan pakaian-pakaian berat hingga menyisakan kemeja tipis dan celana selutut, Indra sempat terkesima oleh bentangan biru kehijauan sewarna akuamarin di hadapannya. Angin menampar-nampar dan memainkan helai rambutnya.


"Hmm. Pertama kalinya. Kau tahu, ‘kan, kalau kota tempatku tinggal jauh dari pantai? Aku tak menyangka akan seindah ini!" Indri tak bisa membendung kepuasan dan membentang tangan lebar. Gadis itu berlari lincah mendekati bibir pantai hingga ayun kaki telanjangnya menghamburkan butir-butir pasir. Pekikan kaget disusul tawa renyah meluncur saat ombak menelan kakinya hingga betis. Indri kini malah berlari kecil di sekitaran pesisir dan mengejar ombak serta burung yang numpang lewat. Air terciprat di kulit kaki serta sedikit membasahi terusan putih tanpa lengan selututnya. Rambutnya mengilap dan terayun-ayun oleh lincahnya gerakan, menyapu bahunya yang terbuka dan diterpa matahari pagi. Tawanya terus terdengar, geli sekaligus senang saat ombak memandikan kaki. Sudah seperti anak kecil yang baru kali ini ke pantai.


Dan di bawah terik matahari yang menyengat, Indra melihat semuanya dan justru merasa suhu sekitar teramat sejuk. Diam tak berkedip, pemuda itu terpesona.


Lantas Indra baru tersadar sekaligus mengerjap saat Indri tiba-tiba berlari ke tempatnya. Tanpa aba-aba, gadis itu menarik lengannya menuju bibir pantai. Hingga air laut membenam kaki hingga lutut.

__ADS_1


Indra buru-buru menyeimbangkan langkah. "Hei, apa yang--"


Perkataan Indra tertelan oleh empasan air laut ke wajahnya. Empasan yang disengaja. Basah kuyup di tubuh atas, Indra terperangah dan menatap Indri tak percaya--yang justru dibalas tawa lepas. Baru kali itu, gadisnya bisa senekat dan sejahil ini.


Maka Indra tak sungkan membalas dendam. Tangannya langsung terayun penuh. Seketika ikut meruahkan air laut dan telak mengenai Indri. Gadis itu memekik, tetapi kemudian menyeringai dan balas mengempaskan air lebih banyak. Kembali kena dan kali ini termasuk bagian pinggang, Indra terpancing dan tersenyum menantang, lantas mulai meruahkan air dengan kedua tangan. Indri membalas sama sengit dan brutal. Mereka berakhir saling perang empas air seperti dua anak kecil yang kegirangan bermain air hingga tubuh basah kuyup. Bahkan aksi kekanakan itu terus berlanjut saat Indri mencoba kabur, tetapi dikejar Indra yang terus mengempaskan air. Keduanya kejar-kejaran dan mencipratkan lebih banyak air laut, sesekali diisi pekik senang Indri dan panggilan jengkel Indra.


Lalu tiba-tiba Indri jatuh terduduk. Ombak menyurut hingga meredam sebatas lututnya. Gadis itu membungkuk hingga jumput-jumput rambutnya yang lepek oleh air pun berjatuhan, seperti menahan sesuatu.


Indri mendongak. Mulutnya terkatup rapat dan ia mengangguk.

__ADS_1


"Dasar. Jangan berlebihan." Indra berusaha meredam kejengkelannya dan mengulurkan tangan. "Bisa berdiri?"


Tangan Indri balas terulur dan menyambut tangan itu, tetapi tiba-tiba menariknya cepat.


Indra kontan ikut tertarik jatuh ke sebelah Indri. Pemuda itu mencium air laut dengan telak. Bahkan terbenam di dalamnya. Ia langsung menjauhkan atas tubuh dari raupan lautan dan terbatuk oleh rasa asin yang menyengat. Setengah terbungkuk dengan kedua tangan masih bertumpu di kedua sisi tubuh Indri, plus kepala dan atas tubuh yang basah sempurna, Indra mendongak masam dan kesal ketika gadis itu tertawa lepas. Indra dikerjai lagi.


Namun, raut senang Indri maupun raut jengkel Indra menghilang. Itu ketika mata mereka bertemu pandang dalam jarak yang sebenarnya terbilang dekat--dengan Indra yang masih menumpukan tangan di dua sisi belakang gadis itu. Dapat mereka lihat jelas tetes-tetes air laut yang berjatuhan dari ujung anak rambut dan hidung, lanjut menetes ke dagu satu sama lain. Sekujur kulit keduanya basah kuyup, pun dengan pakaian yang menempel dan secara sempurna mencetak bentuk tubuh. Dalam posisi itu, semuanya seolah berhenti saat keduanya terkesima oleh iris satu sama lain.


Hingga tiba-tiba ombak datang tak diundang.

__ADS_1


Keduanya buru-buru menjauh sekaligus bangkit, lantas tergopoh kembali ke pantai seraya terbatuk-batuk oleh rasa asin air yang melesak masuk ke mulut. Sesaat, keduanya memandangi pasir dan terengah. Belum berani menatap satu sama lain. Wajah keduanya memanas.


__ADS_2