Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
22


__ADS_3

Kental darah yang mengalir di kulit tangan terasa sangat nyata. Lemas tubuh di pangkuan semakin kentara. Napas Indra makin direnggut saat dirasakannya kesadaran perempuan itu mengabur. Ketakutan luar biasa membuatnya kalap. "Indri! Jangan bercanda--bertahanlah! Kau harus bertahan! Aku di sini ... kau tak boleh meninggalkanku!"


Hal terakhir yang dilihat adalah senyum lemah Indri, lantas senyum itu meluntur bersamaan dengan binar kehidupan yang hilang di matanya.


Suara Indra langsung menyeruak hebat. "INDRI--" Lelaki itu sontak terdiam. Itu karena pemandangan mengerikan tadi tiba-tiba berganti gelap--cenderung remang. Indra merasakan dirinya dalam keadaan berbaring dengan keringat dingin mengalir deras. Dan, ada seseorang yang menaungi wajahnya. Meski keadaan di kamar itu serba remang, Indra tak mungkin salah mengenali wajah yang tepat ada di atasnya itu. Indra tak pernah salah mengenali wanita itu.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa? Barusan itu--kau mimpi buruk?" bisik Indri luar biasa cemas. Tangannya perlahan menyingkirkan helai rambut yang menempel di sisi wajah dan dahi Indra karena keringat. "Perlu kuambilkan air?"


Indra tak menjawab--belum sanggup bicara. Selagi membiarkan napasnya masih memburu hingga dada naik-turun, lelaki itu justru bergeming. Tatapannya terkunci pada mata Indri, seperti berusaha meyakinkan diri. Tatapan itu sarat ketakutan sekaligus melas yang kuat--ingin sekali berharap bahwa manik emas itu tak kehilangan cahaya lagi seperti yang ia lihat dalam mimpi barusan. Gemetar, tangannya memberanikan diri menyentuh wajah wanita itu. Indra bisa merasakan hangat pipi dan lembut helai rambut Indri. Hanya demi mendeteksi semua itu, tak ada yang lebih bisa melegakan dan mendamaikan perasaannya.


Betapa kata-kata itu sanggup melenyapkan segala kalut perasaan Indra. Tanpa merasa perlu mengucapkan apa pun, Indra langsung merengkuh Indri erat hingga wajahya terbenam di bahu wanita itu--walau itu berarti tubuh Indri menindihnya. Ia menghirup sebanyak mungkin aroma, merasakan semaksimal mungkin hangat tubuh, mendeteksi detak jantung samar yang seirama dengannya, dan memastikan bahwa tak ada luka maupun derita yang sedang diterima Indri. Semua itu sudah sangat cukup menentramkannya. Ketika Indri mengusap sisi kepalanya dan mendesis menenangkan, semakin erat Indra merengkuhnya. Semakin tak ingin kehilangan momen ini barang sedetik saja. Semakin tak ingin kehilangan wanita itu lagi.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama untuk Indra kembali tenang, tetapi lelaki itu masih tak mau melepas Indri. Lengannya seperti telah beku dan ingin terus mendekap sang istri. Kemudian, didengarnya dengkuran halus. Indri tak lagi bergerak. Indri ternyata kembali tertidur dan masih dalam rengkuhannya.


Indra tak kuasa menahan senyum teduh dan mengecup sisi kepala Indri. Setelah sangat hati-hati memindahkan tubuh Indri ke sebelahnya, Indra menaikkan selimut hingga sebatas bahu mereka--ia sedikit merasa bersalah karena membangunkan Indri tengah malam begini, sedangkan wanitanya itu tidak tahan dingin. Ketika kembali merengkuh dan bisa memperhatikan wajah damai Indri dalam jarak yang begitu dekat, sisa-sisa mimpi buruk resmi lenyap dari pikiran Indra. Selagi menyatukan dahi mereka, lelaki itu melirih teramat pelan dan tanpa sadar tersenyum lembut. "Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan lagi." Sedetik kemudian, Indra akhirnya bisa tidur lelap dan tak lagi dihinggapi mimpi buruk.


Paginya, Indri langsung mendapat kesadaran penuh ketika baru bangun dan mendapati posisi mereka yang demikian--plus wajah lelap Indra yang terlampau dekat.

__ADS_1


__ADS_2