Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
25


__ADS_3

Indra mulai mual melihat kumpulan kata selama delapan jam nonstop. "Indri."


Tak butuh waktu lama sampai sang istri muncul dari balik rak buku yang menjulang. Di tangannya ada setumpuk buku prosa. "Ya? Ingin tidur?"


Indra tergoda pada hal itu andai masih tak ada beberapa berkas yang diurusnya. Belum lagi pengurusan para staf baru. Belum lagi rencana perluasan fasilitas. Belum lagi seminar yang akan tiba. Belum lagi—


"Kau harus benar-benar tidur." Tahu-tahu sudah di seberang meja, Indri menatapnya cemas. "Sudah dari jam lima, lho."


Harusnya Indra yang bilang begitu. Indri sudah selesai dengan pekerjaannya tiga jam lalu, tetapi masih terjaga untuk menemaninya. Indra sudah memintanya tidur duluan, tetapi Indri bersikeras.


"Kau sendiri?" Indra sejenak memijit batang hidungnya. "Belum mengantuk?"


"Tidak sebelum aku melihatmu bisa istirahat." Indri tergerak untuk menempatkan diri di belakang lelaki itu dan memijit lembut bahu dan pelipis Indra. Mendapati Indra yang seketika memejam rileks dan mendesah berat, Indri menambah, "Ingin kutambahkan minyak juga? Atau kubuatkan teh lagi? Atau kau ingin tidur sekarang?"


Indra tak ingin ketiganya. Ia menggenggam tangan Indri. "Tarik kursimu ke sini," pintanya pelan.


Indri bingung, tetapi tetap melakukannya. Ia duduk berhadap-hadapan dengan Indra yang juga menggeser arah hadap kursinya.


Bertopang dagu di sandaran kursi dan menatap perempuan itu teduh, suara Indra mengalun pelan. "Ceritakan hal apa pun. Akan kudengarkan."


Indri tahu bahwa Indra sedang beristirahat sebentar karena berkas dibiarkan tergeletak di meja, tetapi ia masih belum menangkap sepenuhnya. "... apa pun? Uhm ... untuk apa ...."

__ADS_1


"Aku ingin kau lebih terbuka. Tak apa. Apa pun itu, akan kudengarkan." Indra tersenyum tipis.


Beberapa detik memikirkan topik, Indri memulai perlahan. "Yah ... akhir-akhir ini, murid-muridku agak susah diatur. Bukannya mereka tak mau mendengarkanku, tetapi mereka terlalu bersemangat--tipikal di usia mereka, mungkin." Indri tanpa sadar tersenyum. "Tapi ... aku juga turut senang akan hal itu."


Indra tak mengubah posisi maupun melunturkan senyum. "Kenapa kau senang?"


"Bukankah bagus jika mereka bersemangat karena pelajaran? Aku jadi merasa agak tak berguna sebagai guru--mereka langsung paham hanya dengan penjelasan singkat maupun baca buku. Tapi aku tak keberatan. Aku bahkan lebih senang jika mereka bicara denganku tentang kesulitan dan semacamnya. Aku lebih suka dibutuhkan saat mereka benar-benar tak bisa melakukan semuanya sendiri." Indri semakin berceloteh riang. "Justru kadang, pendekatan seperti itulah yang membuat guru dan murid bisa akrab--"


Curhat Indri terus memecah senyap ruang kerja mereka selama beberapa menit. Indra sesekali berkomentar, menimpal, maupun bertanya, tetapi lelaki itu tak benar-benar penasaran pada hal terkait. Indra hanya sedang meladeni dan menyenangkan Indri hingga perempuan itu semakin lancar bercerita. Selama itu berlangsung, Indra bahkan lebih banyak bergeming dan tersenyum tipis. Tatapannya tak pernah bergeser dari Indri--baik dari wajah cerahnya yang berseri, matanya yang berbinar, tangannya yang sesekali bergerak demi menegaskan sesuatu, ayun helai rambutnya yang mengilap-ngilap oleh cahaya lampu, hingga bibir ranum perempuan itu yang bergerak tanpa henti.


Indra menyukai semua pesona itu. Hanya dua puluh menit menikmatinya, kelelahan Indra menguap total dan ia kembali segar. Memandangi Indri selalu bisa menyejukkan hati dan pikirannya.


"Bahkan sampai ada yang bertanya, kenapa aku begitu sabar menghadapi mereka?" Cerita Indri masih berlanjut. Ia setengah tertawa. "Mungkin aku memang telanjur menyukai mereka. Entahlah. Yang jelas, aku selalu bisa berusaha sebaik mungkin demi mereka. Atau mungkin, memang sudah sifatku yang seperti ini?"


Indri agak tertegun, cenderung melongo. "Apa maksud--"


Indra bergerak maju dan mengecup cepat bibir Indri. Ia kembali tersenyum. "Sudah cukup. Aku sudah jauh lebih baik. Kau bisa tidur sekarang." Begitu saja, Indra kembali menghadap meja kerja dan segera mengambil berkasnya. Kerjanya kali itu ternyata jauh lebih cepat dan fokus dari sebelumnya.


Justru Indri yang agak lama berusaha mengendalikan diri. Wajahnya masih agak merona. Akhirnya ia paham maksud Indra memintanya bercerita sedangkan lelaki itu tidak sama sekali. "Aku tak akan tidur," ungkapnya gugup, "jika ... tak tidur bersamamu."


Indra justru tersenyum tipis dan bangkit. Ia mengumpulkan berkas-berkasnya.

__ADS_1


Sempat Indri kira lelaki itu setuju untuk tidur, tetapi Indra ternyata membawa semua berkas itu ke karpet di sisi ruangan.


Indra duduk bersandar pada rak buku rendah di belakangnya. Cahaya bulan menerpa dari jendela di atas rak. Selagi kembali mengambil salah satu berkas, Indra menepuk tempat di sebelahnya sekilas. "Tidurlah di sini."


Indri tak bisa lebih tak paham lagi. "Anu ... di karpet?"


"Tidak juga. Pokoknya ke sini dulu."


Memutuskan untuk menurut, Indri duduk di sebelah Indra. "Nah, jadi ...?" tuntutnya ragu.


Indra menjawab kebingungan perempuan itu dengan merangkul dan menarik bahu Indri. Perlahan-lahan, ia menuntun Indri berbaring. Kepala perempuan itu tepat berbantalkan paha Indra yang tengah diluruskan.


Indri kembali gugup dan hendak bangkit lagi. "Mungkin sebaiknya aku--"


Indra menahan bahu Indri tetap diam. Tangannya lantas mengusap lembut kepala Indri di pangkuannya. Ia berucap teduh, "Tidak apa. Tidurlah. Aku tak akan mengganggumu. Aku tahu kau sudah mengantuk, tapi aku masih harus menyelesaikan ini sekitar sejam lagi. Bukankah kau juga tak bisa tidur tanpaku, hm?"


"I-Itu benar," cicit Indri malu. "Tapi bukan ini maksudku--"


Indra mendesis lembut, meminta Indri tak membantah. Lelaki itu membungkuk dan kembali mengecup bibir Indri singkat. Lirihannya dipedengarkan ke telinga perempuan itu. "Kau sudah sering memberiku bantal seperti ini. Sekarang giliranku. Mimpi indah, Indri." Ia mengecup pelipis Indri lama dan berbisik lembut, "Aku mencintaimu."


Indri membeku dengan wajah memanas selama beberapa detik. Ia langsung mengubah arah hadap dan menyembunyikan wajah di perut Indra yang tertutupi kemeja. Perempuan itu bahkan memeluk pinggang Indra canggung. Meski begitu, samar-samar, Indra mendengar balasan Indri.

__ADS_1


Hanya dengan mendengar itu, Indra bahkan selesai dalam waktu kurang dari sejam. Itu pun, sesekali, ia mengusap perlahan surai lembut dan lengan sang istri--Indri sudah lelap lebih cepat dari dugaannya. Indra juga kadang mendesis menenangkan ketika Indri hampir terbangun oleh gerakan tubuhnya. Melihat wajah damai perempuan itu, Indra serasa mendapat energi tambahan.


Esok pagi, Indri tak terkejut lagi mendapati dirinya terbangun di ranjang mereka--tak lupa dengan Indra yang selalu membangunkannya. Sepertinya Indra telah menggendongnya ke kamar semalam.


__ADS_2