Rampaian [Kumpulan Drabble]

Rampaian [Kumpulan Drabble]
26


__ADS_3

Padahal Indra terbiasa mengisi keluangannya di rumah dengan mengurus sisa pekerjaan atau membaca buku, tetapi kini rasanya berkali lipat lebih sepi. Seperti ada yang kurang lengkap saat Indra melakukan semua itu akhir-akhir ini. Bukan karena teh merah yang kurang rasa. Bukan cemilan yang terlalu banyak remah. Bukan karena buku yang dibaca ternyata di luar ekspetasi. Bukan karena tetangga-tetangganya berkelahi. Ada sesuatu yang absen dari sisinya, padahal kadang tak melulu ada di sampingnya saat ia melakukan semua itu. Bayangkan Indra sedang memakan makanan favoritnya, tetapi ada satu bumbu vital yang absen sehingga makanan itu gagal memuaskannya. Demikianlah perasaannya akhir-akhir ini.


Padahal Indra tidak takut sendirian (maksudnya dari segi aktivitas, bukan kehidupan) dan selalu bisa melakukan semua pekerjaan dan rutinitas secara mandiri, tetapi kini ia malah merindukan bantuan. Padahal Indra bisa membuat makanan maupun cemilan untuk dirinya sendiri, tetapi ia mulai merindukan tangan yang bisa menciptakan rasa kesukaannya yang lain. Padahal Indra bisa mengurus kebun belakang sendirian, tetapi ia mulai merindukan sebuah tangan yang bantu membawakan sekop dan pupuk. Padahal Indra bisa mengembalikan semua buku ke rak maupun membereskan berkas hingga rapi, tetapi ia mulai merindukan tangan yang mengambil alih sebagian buku dan berkas serta bantu menyusun jauh lebih rapi darinya. Padahal Indra bisa makan siang maupun malam sendirian, tetapi ia mulai merindukan tangan yang kemudian membantunya membereskan dan mencuci piring. Padahal Indra bisa bersitirahat sendirian hanya dengan merebah rileks di karpet ruang kerja, tetapi ia mulai merindukan tangan yang selalu ditautnya erat serta tangan satunya lagi yang akan selalu mengusap kepalanya lembut.


Satu minggu ini, dunia bagai hampa dan teramat sunyi. Seolah-olah alam itu sendiri yang berhenti bekerja hingga Indra tak bisa menyimak dan menikmati indahnya. Tak ada suara halus yang bisa membuat dadanya berdesir hangat. Tak ada belai sayang yang bisa membuat tubuhnya teramat rileks. Tak ada harum anggrek yang bisa membuat jantungnya berdebar nyaman. Tak ada senyum tulus yang bisa membuat hatinya serasa dipenuhi sejuk embun pagi. Tak ada tangan yang bisa digenggam dan ditautnya erat pada setiap aktivitas. Tak ada tubuh yang bisa direngkuhnya lembut pada setiap lelap pulas. Tak ada yang bisa membangkitkan luap perasaannya. Tidak ada selain Indri.


Malam ini menjadi lebih dingin dan sunyi dari biasanya. Remang kamar menjadi lebih gelap dari seharusnya. Sinar bulan dari jendela lebih pucat dari semestinya. Padahal Indra terbiasa dengan semua keadaan itu, tetapi tidak dengan ranjangnya yang kini separuh kosong. Selagi berbaring menyamping dan menghadap bagian kosong itu, sebelah tangannya meraba di sana. Dingin dirasakan di telapak. Pikiran Indra melamun, membayangkan sosok yang selalu menempati tempat yang tak akan tergantikan itu. Hatinya sungguh merindu, ingin sosok itu ada di sisinya sekarang hingga bisa direngkuh dan dirasakan hangatnya hingga keesokan pagi. Betapa perasaannya sekarat, ingin menerima lagi perasaan tulus yang sama kuat. Betapa ingin ia membisikkan sebuah pernyataan yang tak bisa diberikannya secara langsung pada yang terkasih sejak seminggu lalu.


Betapa Indra tersiksa terhadap semua keadaan ini, tetapi Indri meyakinkannya: semua ini justru menjadi tantangan bagi mereka; dan ia pasti kembali tanpa kurang apa pun. Betapa Indra benci menggantungkan harapan pada kata-kata semata, tetapi apalah yang bisa diperbuatnya jika Indri begitu yakin dan sangat teguh meyakinkannya. Betapa Indra tak bisa untuk tak mempercayai keyakinan perempuan itu jika sudah bicara tentang mereka berdua.


Satu-satunya yang dijengkelkan Indra tentang keadaan ini: Indri sengaja tak memberitahunya tentang berapa hari penugasannya berlangsung. Plus, perempuan itu juga sengaja memutus semua komunikasi--walau sudah berjanji menghubungi Indra jika tentang hal darurat. Jadilah Indra sendirian, kesepian, dan seperti anak ayam kehilangan induk di rumah mereka selama satu minggu ini. Indra setuju bukan tanpa alasan. Indra juga ingin tahu: seberapa tahankah ia jika jauh dari Indri?

__ADS_1


Baru seminggu. Indra serasa ingin menyerah. Ia sangat merindukan perempuan itu.


Memikirkan semua itu berlarut-larut hanya akan membuatnya tambah gila oleh luap kerinduan, maka Indra segera memunggungi tempat kosong itu dan memejam rapat-rapat.


Hingga suara derak dari pagar depan mengejutkannya. Duplikat kunci pagar itu hanya dimiliki satu orang selain dirinya.


Kalap dan tergesa, Indra langsung melenting bangkit hingga ranjang berderit agak keras. Lelaki itu menjeblak pintu dan turun tangga sama rusuh. Kaki-kakinya menjejak gugup dan cepat, sama berdebar dengan jantungnya. Bahkan tangannya terasa dingin ketika langsung meraih kenop pintu dan menariknya cepat.


"Aku lebih merindukanmu hingga ingin mati rasanya," lirih Indra lemah. Ingin rasanya mendekap terus perempuan itu sampai luap rindunya terpuaskan, tetapi Indra sangat tahu bahwa luap itu tak akan pernah habis. Beberapa menit lamanya. Sadar bahwa saat itu sudah cukup larut, Indra menyudahi dan tersenyum teduh. Rengkuhannya belum dikendurkan hingga mereka tepat berhadap-hadapan wajah. "Kau harus istirahat. Aku akan bantu bereskan barang-barangmu. Atau kau ingin membersihkan tubuh? Atau ingin makan malam dulu?"


Indri sejenak terdiam kikuk. "... tidak perlu--aku ingin langsung tidur. Ranselku pinggirkan saja--akan kubongkar besok."

__ADS_1


Indra mengecup kening Indri sekilas dan meraih ransel perempuan itu di lantai. Tangannya yang lain menuntun Indri. "Masuklah. Sedang dingin di luar sini."


Mungkin cuma perasaan Indri atau Indra tiba-tiba lebih perhatian dari biasanya? Bahkan Indra menunggunya sampai selesai berganti dan bersiap tidur--plus terus mengamatinya seolah Indri akan hilang jika ia sampai berkedip.


Baru saja berbaring menyamping menghadap lelaki itu, Indri tambah kikuk ketika Indra langsung mendekat dan merengkuh pinggangnya. Dahi mereka bertemu. Kontak mata terjadi teramat dekat dalam remang kamar. Embus napas saling menerpa dalam sunyi kamar.


Indri coba memahami sendu dan teduh tatapan Indra kala itu. Ia tersenyum tipis. "Ada apa? Belum mengantuk?"


Hanya dengan mendengar lirihan lembut yang selalu terdengar halus seperti desir sutra itu, Indra merasa teramat damai hingga sesaat memejam untuk menghayatinya. Lelaki itu kembali membuka mata dan tersenyum lembut. "Kaulah yang harus segera tidur."


Sebenarnya Indri pun ingin seperti ini bahkan hingga malam paling larut. Ia ingin bergeming dan menatap mata lelaki itu lebih lama lagi, tetapi kantuknya tak bisa dilawan. Indri kikuk beringsut maju dan mengecup ringan bibir Indra, lantas sama gugup menenggelamkan wajah di dada lelaki itu serta merengkuh punggungnya erat. Indri ingin mendengar degup jantung lelaki itu. Detak yang selalu membuatnya lebih hidup.

__ADS_1


Indra hanya mendengus geli tanpa suara dan mencium dalam-dalam pucuk kepala perempuan itu. Lima detik kemudian, mereka justru jatuh terlelap bersamaan.


__ADS_2