![Rampaian [Kumpulan Drabble]](https://asset.asean.biz.id/rampaian--kumpulan-drabble-.webp)
"Indra? Tidurmu nyenyak?"
Menguap pelan dan sejenak menggosok leher, Indra masih dalam keadaan setengah sadar saat Indri menawarkannya segelas air. Lelaki itu meminumnya rakus. "Lumayan," balasnya mengantuk.
Indri tak berkedip, memperhatikan raut wajah Indra yang sebenarnya masih tipikal rindu-bantal-dan-selimut. Wanita itu lanjut mengaduk sup. "Bukankah kau pulang sangat larut tadi malam karena lembur? Kau bisa tidur lagi, kalau mau."
"Tidak. Sudah cukup." Duduk dan menjatuhkan wajah malas pada meja makan, Indra melingkupi kepalanya sendiri dengan lipatan dua lengan. "Tidurku sudah cukup nyenyak karena mimpi semalam ...."
Indri sejenak menatap sang suami melongo. "Tidak biasanya." Ia kemudian memotong-motong sayur dan tanpa sadar tersenyum. "Apa isi mimpimu? Indah? Sampai-sampai kau bisa tidur nyenyak?"
"Aku memimpikanmu."
Indri nyaris memotong jarinya sendiri.
***
Indra tersentak bangun ketika mendengar jeritan tertahan. Masih berbaring, lelaki itu menatap sekitar--agak sulit karena keadaan kamar yang remang. Indra pun menangkap siluet yang menggigil dan sedang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Hati-hati, Indra bangkit terduduk dan menyentuh bahu siluet itu. "... Indri?"
Indri terperanjat dan menoleh Tangannya meraba-raba rupa Indra dengan gemetar. Suaranya lirih dan serak. "... Indra ...? Kaukah itu ...?"
Indra menangkap kedua tangan Indri yang bergerak tak menentu, memintanya tenang. "Ini aku," bisiknya halus. Genggamannya mengerat lembut. "Aku di sini."
Indra merasakan tangan Indri kembali gemetar. Tiba-tiba Indri menerjang padanya--terlalu mendadak hingga Indra tak siap dan jatuh ditimpa wanita itu.
Indra lebih terpaku pada Indri yang menangis tersedu di bahunya. Lengan Indri memeluknya erat. Tubuh istrinya masih menggigil, tetapi semata karena lega luar biasa.
Pertama kali, Indri bermimpi buruk tentang Indra. Entah gambaran macam apa yang Indri lihat sampai menangis hebat seperti ini.
***
Badai semalam sepertinya masih berlanjut. Buktinya, gerimis terjadi di luar sana. Keadaan kamar pun masih agak remang walau sebenarnya saat itu sudah pukul tujuh pagi. Aroma tanah basah bahkan tercium jelas walau jendela kamar tertutup rapat.
Itu pagi yang dingin, tetapi Indri tetap terbangun dalam kehangatan. Bukan hanya karena selimut yang menutupinya sebatas dada. Dengan posisinya yang telentang menghadap langit-langit, entah kenapa Indri sudah cukup hangat dengan lengan kukuh yang memeluk pinggangnya dari samping kini. Lehernya juga terasa hangat karena embus napas halus Indra yang masih lelap--lelaki itu begitu nyaman menempelkan pipi pada bahunya. Memperhatikan Indra yang begitu pulas dan damai dalam tidur sudah menjadi nilai tambah hingga Indri merasa tak kedinginan sama sekali.
__ADS_1
Indri tersenyum geli ketika mengamati lelaki itu lebih saksama. Lelap Indra benar-benar mengingatkannya pada anak kecil--wajah yang mengendur lugu, rambut yang berantakan, bibir yang sedikit membuka untuk jalur napas, bahkan sampai memeluk Indri sampai seerat ini untuk seseorang yang masih tidur nyenyak. Indri sangat jarang melihat ini--Indra selalu bangun lebih dulu darinya, maka perempuan itu sampai betah berlama-lama dalam posisi ini. Meski begitu, Indri tetap harus menyiapkan sarapan. Ia menduga bahwa Indra masih lelah setelah lembur semalam. Indri hati-hati meminggirkan lengan Indra yang memeluknya, lantas hendak bangkit.
Indra tiba-tiba memeluknya lebih erat. Mata lelaki itu terbuka sayu dan menatap Indri setengah mengantuk. "... ke mana?" lirihnya serak.
"Ini sudah pagi. Saatnya bangun." Indri kembali menahan senyum melihat wajah kusut Indra. "Aku harus--"
"Aku belum lapar." Indra merengkuh lebih rapat selagi wajahnya kian membenam di bahu Indri. Matanya memejam. "Ayo tidur lagi."
"Tapi aku tetap harus--"
"Diam di sini. Aku masih mengantuk. Masih dingin. Di luar juga masih hujan."
"Maka tidurlah. Aku harus---"
"Jangan bangun, Indri," bisik Indra malas. Wajahnya semakin menyusup di antara urai rambut Indri. "Aku lebih nyaman seperti ini."
Indri kikuk beberapa detik. Ia baru sadar bahwa Indra memang sedang sangat manja sekarang. "Aku ingin kau bisa langsung makan setelah bangun," bujuknya lembut. "Kau lebih butuh energi--"
__ADS_1
Indra akhirnya cukup gerah untuk bangkit dan mengecup cepat bibir Indri. Lelaki itu kembali rebah dan lebih erat memeluk. "Tapi aku lebih membutuhkanmu." Detik-detik berikutnya, Indra kembali jatuh dalam lelap damai.
Indri tak bisa apa-apa lagi selain pasrah dengan rona merah di wajah yang sulit hilang.